Pedoman ZIS

Harta; Fitnah atau Anugerah?
Di zaman ini, harta telah menjadi symbol keberhasilan hidup seseorang. Bahkan ia menjadi sebuah tolok ukur keberhasilan seseorang. Seseorang dianggap sukses bila hartanya banyak. Sebaliknya seseorang dianggap tidak berhasil bila ia kekurangan harta. Tak heran, bila keadaan ini memicu manusia berlomba-lomba siang dan malam untuk meraih harta sebanyak-banyaknya. Sampai-sampai ia lupa bila hidupnya di dunia hanya sementara.
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia keciantaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 14)
Harta adalah salah satu perhiasaan dunia yang dicintai manusia. Dengan harta itulah sesungguhnya manusia diuji oleh Allah. Dengan harta tersebut, manusia bisa menjadi mulia seumpama Sulaiman a.s, atau sebaliknya binasa laksana Qarun laknatullah ‘alaih.
Tiap umat mempunyai fitnah sendiri-sendiri, dan fitnah umatku adalah harta. (Riwayat Tirmidzi)
Ayat dan hadis di atas sesungguhnya menjelaskan perkara yang sangat besar. Bahwa fitnah utama manusia di zaman ini adalah karena harta. Oleh karena itu mulia atau hinanya seseorang sangat ditentukan oleh sikap dan perbuatannya terhadap harta.
Nah, agar manusia tidak terjebak dalam kehinaan yang terdalam, maka diperlukan manajemen pengelolaan rezeki/harta. Sebuah tata kelola yang tak semau gue, tapi berdasarkan kehendak yang Mahakuasa. Kenapa begitu? Karena harta ibarat api. Ia bias menjadi sangat berguna, tapi sebaliknya bias juga membuat kita binasa. Harta juga seumpama pisau. Ia bias membantu kita memotong buah dan sayuran. Tapi ia bida juga digunakan untuk membinasakan diri sendiri ataupun orang lain. Untuk itulah pergunakan harta sesuai dengan yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemilik harta.
Rumus Matematika Sedekah
Mungkin masih banyak di antara kita yang beranggapan bahwa sedekah akan mengurangi harta. Padahal bisa dipastikan, bahwa anggapan seperti itu salah! Sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru sebaliknya, sedekah akan melipatgandakan rezeki sebanyak sepuluh kali lipat.
Janganlah selalu menghitung balasan sedekah dengan hitungan matematika manusia. Tidak akan ketemu hasilnya. Matematika menyebutkan bahwa 10 – 1 = 9. Matematika sedekah memiliki perhitungan sendiri. Matematika sedekah menyatakan bahwa 10 – 1 = 709. Karena, 1 bagian yang kita keluarkan sebagai sedekah akan dibalas tujuh ratus kebaikan, sehingga 9 (harta sisa sedekah) ditambah 700 (harta balasan sedekah) sama dengan 709.
Jika kita sedekahkan 3 dari 10 yang kita miliki, maka 3 itu akan menarik 2100, sehingga menjadi 2107 (10 – 3 = 2107). Jika kita sedekahkan 5, maka akan menarik 3500, sehingga total menjadi 3505 (10 – 5 = 3505). Demikian seterusnya. Setiap 1 bagian yang kita keluarkan akan menarik 700 kebaikan. Dengan demikian, jika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 10, maka akan menarik 7000. Inilah matematika sedekah.
Dasar perhitungan di atas adalah firman Allah surat al-Baqarah ayat 261. “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dab Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendakinya dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”
Ayat di atas tegas menyatakan bahwa setiap kebaikan akan mendapat balasan 700 kali kebaikan. Jadi, jika kita sedekah 1 juta rupiah dari total 10 juta rupiah yang kita miliki, maka 1 juta yang kita sedekahkan itu akan mendatangkan 700 juta berikutnya, sehingga hasilnya adalah 709 juta rupiah.
Sedekah yang ikhlas dibalas tunai oleh Allah tujuh ratus kalikebaikan. Allah memiliki cara sendiri untuk membalas amal kebaikan (baca: sedekah) yang dilakukan hamba-Nya. Dahsyat!
Zakat Itu Apa Sih ?
Menurut Bahasa. Menurut lisan al-Arab, zakat (al-zakat) ditinjau dari sudut bahasa adalah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji.
Menurut istilah. Zakat adalah ibadah wajib yang dilaksanakan dengan memberikan sejumlah kadar tertentu dari harta milik sendiri kepada orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.
Di antara amal saleh yang agung adalah zakat, maka siapa yang menunaikannya akan membuat imannya bertambah dan siapa yang meninggalkannya berarti ia bermaksiat kepada Allah dan menzalimi saudara-saudaranya yang lemah, dan berarti akan berkurang kadar keimanannya.
Selain menumbuhkan keimanan, zakat juga akan menumbuhkan rasa saling mencintai sesama muslim karena adanya interaksi kebaikan, yakni antara orang-orang kaya dengan orang-orang yang miskin sehingga padamlah api kecemburuan sosial di antara mereka.
Orang yang tidak menunaikan zakat sama dengan memakan harta yang bathil, haram atau sama saja dengan korupsi, karena harta zakat adalah hak orang lain dan bukan lagi menjadi haknya walaupun harta itu memang ada di tangannya dan memang hasil dari usahanya sendiri. Ini penting untuk digaris bawahi, karena perbuatan ini tentu saja akan mengotori jiwa kita dan membuat doa tidak akan dikabulkan Allah karena ia telah memakai atau mengonsumsi harta yang haram. Itulah sebabnya, zakat sangat penting bagi penyucian jiwa.
Keutamaan Mengeluarkan Zakat
Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia, antara lain:
  1. Mansucikan diri dari ktoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah, sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
  2. Menolong, membina dan membangun kaum yang lemah dan papa dengan materi, untuk memenuhi kebutuhan pokokhidupnya. Sehingga mereka dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah Swt.
  3. Memberantas penyakit iri hati dan dengki yang biasanya muncul ketika melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
  4. Terwujudnya system masyarakat Islam yang berdiri di atas prinsip Ummatan Wahidatan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak, dan kewajiban), Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam), dan Takaful Ijtimai (tanggungjawab bersama).
  5. Mewujudkan keseimbangan dalam distribusi dan kepemilikan harta, serta keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat.
  6. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan adanya hubungan seseorang dengan yang lainnya rukun, damai, dan harmonis sehingga tercipta ketenteraman dan kedamaian lahir dan batin.
ZAKAT ITU MUDAH DAN RINGAN, BUKTINYA..
Prosentase harta yang dikeluarkan untuk zakat kecil. Lihatlah berapa persen harta zakat itu? 2,5% untuk emas dan perak. Besarkah jumlah yang demikian? Paling besar 20% itu pun karena harta tersebut adalah harta temuan. Sedangkan untuk hasil pertanian (makanan pokok) yang diairi hujan besarnya adalah 10%. Adapun bila dengan fasilitas pengairan hanya 5%. Sangat ringan, bukan?
Tidak semua harta benda dan hasil pertanian terkena zakat. Tidak semua biji-bijian/buah terkena zakat. Sayuran pun tidak kena zakat.
Harta dan hasil pertanian itu terkena kewajiban zakat bila jumlahnya mencapai batas tertentu. Bila kurang dari batas tersebut (nishab) maka tidak ada kewajiban membayar zakat.
Harta benda seperti emas, perak, dan harta temuan barulah terkena kewajiban zakat setelah banyaknya yang mencapai batas nishab itu berusia satu tahun. Apabila sebelum satu tahun ia telah nafkahkan sehingga jumlahnya di bawah batas maka gugurlah kewajiban.
Macamnya Zakat
Ada dua macam zakat, yaitu :
  1. Zakat Nafs (jiwa) / Zakat Fitri. Diwajibkan setelah bulan ramadhan sebelum shalat ‘id sebanyak satu sha’(± 2,5 kg / 3,5 liter) beras untuk membersihkan puasa dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin di hari raya Idul Fitri.
  2. Zakat Maal (Harta) – baik dari hasil usaha atau hasil bumi, yaitu zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seorang atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan.
Syarat-syarat bagi orang yang wajib Zakat
  1. Mukmin dan Muslim. Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam. Oleh karenanya, diwajibkan kepada orang mukmin dan muslim.
  2. Berakal. Orang yang tidak berakal tidak wajib berzakat. Kewajiban zakat hartanya dibebankan kepada walinya atau orang yang mengurus hartanya itu, seperti anak yatim yang mempunyai harta dan telah memenuhi syarat untuk dikeluarkan zakatnya.
  3. Memiliki harta yang telah mencapai nishab.
Zakat Maal
Maal (harta) menurut bahasa ialah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya. Maal (harta) menurut syara’ (hukum Islam) adalah segala yang dapat dipunyai dan dapat digunakan menurut kebiasaannya.
Syarat-syarat kekayaan Yang wajib Dizakati;
  1. Milik penuh (Almilkuttam). Harta yang dimiliki secara penuh artinya pe-milik harta tersebut memungkinkan untuk menggunakan dan mengambil manfaatnya secara penuh.
  2. Berkembang (an-Namaa’). Harta tersebut dapat bertambah atau ber-kembang bila diusahakan atau mem-punyai potensi untuk berkembang.
  3. Cukup Nishab. Harta yang telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’. Sedang harta yang tidak sampai nishab terbebas dari zakat, utama dikeluarkan infak.
  4. Sisa Hutang. Orang yang mempu-nyai hutang sebesar uang atau harta yang dimilikinya, maka harta orang tersebut terbebas dari zakat. Sebab zakat hanya diwajibkan bagi orang yang memiliki kecukupan harta.
  5. Berlalu satu tahun. Artinya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah berlalu masanya selama dua belas bulan Qomariyyah.
Harta Lain yang wajib dizakati
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (al-Baqarah [2]: 267).
Saham dan Obligasi
Pada hakikatnya baik saham maupun obligasi (juga sertifikat Bank) merupakan suatu bentuk penyimpanan harta yang potensial berkembang. Oleh karenanya masuk ke dalam kategori harta yang wajib dizakati, apabila telah mencapai nishabnya. Zakatnya sebesar 2.5% dari nilai kumulatif riil bukan nilai nominal yang tertulis pada saham atau obligasi tersebut, dan zakat itu dibayarkan setiap tahun.
Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasional perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah orang yang memiliki saham pada perusahaan yang sudah go public, yang tidak bertujuan untuk memiliki perusahaan tersebut, tetapi semata-mata adalah investasi juga diwajibkan untuk membayar zakat.
Nishab zakat saham diqiyaskan dengan zakat maal/tijarah. Haul zakat saham dihitung per annual report. Zakat kepemilikan saham awal, pra-Initial Public Offering (IPO), masih disatukan dengan zakat maal lain yang dimiliki oleh wajib zakat. Pada saat periode haul tersebut. Saham yang dimiliki dihitung atas dasar ”nilai buku” ditambahkan dengan nilai deviden saham yang dijual (divestasi) dihitung berdasarkan “intrinsic value” yang dikeluarkan pada periode transaksi.
Misalnya Nyonya Rahma me-miliki 500.000 lembar saham pada PT. Surya Abadi, dengan harga nominal saham Rp.7000,00 perlembar. Pada akhir tahun buku, setiap lembar saham memperoleh deviden (keuntungan) sebesar Rp.400,00. Maka perhitungan zakatnya, adalah:
Nilai saham (book value) (500.000 x Rp.7000,00) = Rp.3.500.000.000,00
Deviden (500.000 x Rp.400,00) = Rp. 200.000.000,00
Total = Rp.3.700.000.000,00
Jadi zakatnya adalah : 2,5% x Rp. 3.700.000.000,00 = Rp. 92.500,000,00
Rezeki Tak Terduga dan Undian (Kuis Berhadiah)
Harta kekayaan yang diperoleh sebagai rezeki nomplok, atau memperoleh hadiah yang di dalamnya tidak mengandung unsur judi, merupakan salah satu alasan terjadinya kepemilikan harta yang diqiyaskan dengan harta temuan (luqatah) atau rikaz. Berdasarkan ijtihad ulama kontemporer, jika hadiah tersebut mencapai nishab, yakni setara dengan 85 kg emas, maka wajib atas hadiah yang diperolehnya itu zakat yang besarnya 20%. Sedangkan waktu pembayarannya adalah pada saat menerima hadiah tersebut setelah dikurangi biaya atau pajak.
Misalnya: Muhtar mendapat-kan hadiah rezeki nomplok uang segepok dari tabungan wadi’ah bank syari’ah berupa voucher haji seharga USD 5000. Pajak undian ditanggung pemenang. Maka penghitungan zakatnya adalah : Nilai hadiah USD 5000, dikurangi Pajak 20% x USD 5.000,- = USD 1000. Jadi total Penerimaan USD 4.000. Jadi Zakatnya adalah 20% x USD 4.000,- USD 800,-.
Zakat Perusahaan
Zakat perusahaan hampir sama dengan zakat perdagangan dan investasi. Bedanya zakat perusahaan bersifat kolektif. Dengan kriteria sebagai berikut: Jika perusahaan bergerak da-lam bidang usaha perdagangan maka perusahaan tersebut mengeluarkan harta sesuai dengan aturan zakat per-dagangan. Kadar zakat yang dikeluar-kan sebesar 2,5%. Jika perusahaan tersebut ber-gerak dalam bidang produksi, maka zakat yang dikeluarkan sesuai dengan aturan zakat investasi atau pertanian. Dengan demikian zakat perusahaan dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10 %. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk pengahasilan bersih.
Hasil Penjualan Rumah (Properti) atau Penggusuran
Harta yang diperoleh dari hasil penjualan rumah (properti) atau penggusuran, dapat dikategorikan dalam dua macam:
1). Penjualan rumah yang disebabkan karena kebutuhan, termasuk penggusuran secara terpaksa, maka hasil penjualan (penggusurannya) lebih dulu dipergunakan untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Apabila hasil penjualan (penggusuran) dikurangi harta yang dibutuhkan jumlahnya masih melampaui nishab maka ia berkewajiban zakat sebesar 2.5% dari kelebihan harta tersebut.
Contoh: Pak Asman terpaksa menjual rumah dan pekarangannya yang terletak di sebuah jalan protokol, di Jakarta, sebab ia tak mampu membayar pajaknya. Dari hasil penjualan Rp.150.000.000,- ia bermaksud untuk membangun rumah di pinggiran kota dan diperkirakan akan menghabiskan anggaran Rp.90.000.000,- selebihnya akan ditabung untuk bekal hari tua. Zakat = 2.5% x (Rp.150.000.000,- – Rp.90.000.000,-) = Rp.1.500.000,-
2). Penjualan rumah (properti) yang tidak didasarkan pada kebutuhan maka ia wajib membayar zakat sebesar 2.5% dari hasil penjualannya.
Zakat Profesi
“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (al-Baqarah [2]: 267). Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa terdahulu. Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu seperti pertanian peternakan dan perniagaan mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakikatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’).
Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.
Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.
Contoh, Ahmad adalah seorang Direktur Perusahaan Swasta yang di Surabaya, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih setelah dipotong biaya-biaya sebesar Rp.30.000.000,- per-bulan. Apabila penghasilan bersih per-bulan tersebut dikumpulkan, maka dalam satu tahun adalah Rp.360.000.000,-. Bila harga emas adalah Rp.700.000/gr x 85gr, maka nishabnya adalah Rp.59.500.000,-. Jadi penghasilan bersihnya lebih dari nishab. Dengan demikian Ahmad berkewaji-ban membayar zakat sebesar 2.5% dari penghasilan bersih tersebut, atau zakat-nya sebesar Rp.9.000.000,- per-tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu