Wali Rongpoloh Mengawal Dakwah Muhammadiyah Surabaya | Berita Populer Lazismu

 

Drs Andi Hariyadi, MPdI


LAZISMUSBY.COM 


WALI RONGPOLOH MENGAWAL RINTISAN DAKWAH MUHAMMADIYAH SURABAYA

Sejak dilantiknya KH. Mas Mansur oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 1 November 1921, berarti sudah seabad Muhammadiyah melakukan dakwah pencerahan, sosial, pendidikan, kesehatan dan peran kebangsaan di kota Pahlawan Surabaya. Tentunya ada banyak dinamika yang menyertai perjuangan ini lebih-lebih ketika masih  dalam cengkraman penjajah Belanda yang menyengsarakan ummat, yang semena-mena, ketidakadilan serta diskriminatif pada aspek kehidupan. Mas Mansur menyadari fenomena keterpurukan bangsa yang sedang terjadi, maka harus ada solusi untuk bisa lepas dari keterpurukan yang ada serta lepas dari segala bentuk penjajahan.

Amanat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya bagi Mas Mansur dan pengurus lainnya terasa berat, tetapi karena ini merupakan tanggung jawab Persyarikatan, sehingga harus ada upaya – upaya nyata, maka berdirilah HIS Muhammadiyah (Tingkat Sekolah Dasar) pada tahun 1922 untuk memberikan kesempatan dan akses pendidikan yang mencerdaskan pada masyarakat. Konsep pendidikan yang mengintegrasikan antara pendidikan umum dan agama Islam, diharapkan ke depan  menjadi kader – kader yang tangguh yang peduli pada bangsa dan agamanya. Masih ditahun 1922 dibangunlah masjid Sholeh di kawasan Kaliasin Pompo. Kemudian pada tahun 1924 Mas Mansur melantik Hizbul Wathan yang membidangi kepemudaan sebagai lahan kaderisasi di Persyarikatan Muhammadiyah, juga di tahun 1924 mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) untuk memberikan layanan kesehatan pada masyarakat karena memang masih minimnya fasilitas kesehatan yang tersedia. Kehadiran berbagai amal usaha tersebut tidak hanya mendapat simpati dari warga masyarakat saja tetapi juga tokoh tokoh kebangsaan pun memberikan dukungan untuk ikut berpartisipasi atas terobosan dakwah nyata yang sangat diperlukan masyarakat.

Upaya perintisan berbagai amal usaha tersebut sempat terkendala, akibat terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1927 dengan PHK besaran-besaran, sehingga kondisi ekonomi masyarakat terpuruk dan berimbas pada kegiatan operasional pendidikan dan poliklinik yang ada, sempat beberapa guru dan karyawan tidak mendapat bayaran karena kondisi kas kosong. Kondisi yang begitu berat ini membuat KH. Mas Mansur bersama pengurus Muhammadiyah lainnya segera merapatkan barisan mengumpulkan berbagai kekuatan jangan sampai rintisan amal usaha tersebut bubar karena tidak ada pemasukan, meski upaya untuk mencukupi kebutuhan sendiri saja berat. Krisis ekonomi yang sempat melumpuhkan kegiatan perekonomian, pardagangan, tarnsportasi dan jasa lainnya harus dicarikan solusinya, sebagai warga Persyarikatan harus bisa mempertahankan kegiatan dakwah dan layanan pendidikan serta kesehatan. 

Dari diskusi yang panjang bersama para Pimpinan, belum menemukan kata sepakat untuk solusi atas krisis yang terjadi, hingga larut malam juga belum didapatkan keputusan, sehingga perserta rapat meminta ijin pamit lebih dahulu karena besuk masih ada tugas lainnya, sampai tinggal dua puluh orang peserta bersama KH. Mas Mansur, yang selanjutnya bertekad bulat terus berjuang, sehingga dua puluh orang tersebut disebut oleh KH. Mas Mansur sebagai Wali Rongpoloh. Sehingga KH. Mas Mansur menguatkan kembali nilai ketauhidan sebagai dasar gerakan, sebagaimana disampaikan dalam buku beliau Risalah Taukhid dan Syirik, dinyataka : “Kalau kaum Muslimin yang dulu-dulu itu dengan sungguh-sungguh dan ikhlas menjalankan perintah Allah, maka kita pun demikian pula hendaknya, keimanan yang tangguh dan keberanian dalam menjalankan barang yang haq itulah yang menyebabkan kaum muslimin yang dulu-dulu itu menjadi ummat yang mulia dan berbahagia.” 

Ada pun para wali rongpoloh tersebut adalah : KH Mas Mansur (Kampung Baru Sawahan), K. Utsman (Kaliasin Pompa), Wondowidjojo (Jl. Plampitan), Tjiptoredjo (Grogol), Mas Getong (Pandean),  Hardjodipuro (Bubutan), M. Saleh Ibrahim (Kedung Sroko), Mas Idris K.S,  Soemoredjo (Kedung Rukem), H. A Rahman Utsman (Ketapang Ardiguna), Saleh Cilik (Bibis), H. Muhammad Oerip (Temenggungan), Pak Yatiman (Genteng), Satiman (Genteng), M. Wisatmo (Kaliasin Pompa), Adjar Sunyoto (Jl. Kunti),  M. Badjuri (Tulungagung), Sumoatmodjo (Kedung Rukem), Martodjojo (Wonorejo), Abdul Bari (Kaliasin).  

Gerakan aksi nyata wali rongpoloh sebagai kader Muhammadiyah Surabaya begitu luar biasa, meski dari beragam profesi yang ada mereka bahu membahu menggalang dana untuk kegiatan operasional amal usaha Muhammadiyah yang sudah berdiri, mulai dari diri sendiri juga mengajak pada pimpinan dan anggota serta simpatisan Muhammadiyah lainnya untuk ikut berjihad dengan mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah. Ber-Muhammadiyah itu senantiasa memberi dan tidak ingin membebani, justru memberi solusi dengan ketulusan hati bukan untuk pamer dan dipuji. Peran perjuangan para wali rongpoloh dari sumber referensi sangat minim sekali, karena mereka sadar bahwa ridho Allah yang diharapkan, perjuangan yang terasa berat akhirnya menjadi ringan, perjuangan yang seperti terdapat jalan buntu, akhirnya terbuka solusinya, dan hingga kini sebaran berbagai amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surabaya terus berkembang, semoga Allah SWT menerima amal soleh dan perjuangan mereka, Aamiin. 

Drs. Andi Hariyadi (Sekretaris Tim Penulisan Sejarah Muhammadiyah Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Zakat Uang Yang Masih di Pinjam Orang Lain | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama : Hukum Membayar Zakat Secara Online | Berita Populer Lazismu