Hukum Menyalurkan Zakat Kepada Masjid, Madrasah, Panti-Panti Asuhan atau Yayasan Sosial-Keagamaan dan Zakat Dikeluarkan Belum Waktunya | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Drs. H. Imanan. 


Hukum Menyalurkan Zakat Kepada Masjid, Madrasah, Panti-Panti Asuhan atau Yayasan Sosial-Keagamaan dan Zakat Dikeluarkan Belum Waktunya.


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Ustadz, ini ada pertanyaan;

Ada seorang jama'ah mengeluarkan zakat maalnya diberikan untuk pembangunan Panti Asuhan. Harta orang tersebut sebenarnya masih belum berjalan satu tahun, karena Panti Asuhan tersebut sangat memerlukan dana besar untuk pembangunan, akhirnya walaupun hartanya belum berjalan satu tahun akhirnya dikeluarkan atau diniatkan zakat malnya diberikan ke Panti Asuhan tersebut.

Jadi pertnyaannya;

1. Apa dibolehkan zakat maal hanya diberikan kepada Panti Asuhan, Karena Panti Asuhan tersebut sangat membutuhkan dana besar untuk menyelesaikan pembangunannya ?

2. Bagaimana hukum seorang menunaikan zakat maal yang hartanya masih belum berjalan satu tahun ?

Mohon penjelasannya! Matursuwun.

(Dari Bapak Nafi'an - jama'ah pengajian PRM Lontar -Sambikerep/lewat WA) .


Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Penanya yang budiman yang kami mulyakan, semoga kita semua selalu dibimbing oleh Alloh kepada jalan yang benar dan diberi taufiq serta hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala, sehingga kita bisa memilih dan memilah jalan mana yang diridhahi-Nya. Aamiin.

Penanya yang kami hormati, dalam masalah yang Bapak tanyakan ini, dikalangan ulama terjadi khilafiyah, yang pada garis besarnya ada dua pendapat di kalangan mereka. 

Pertama, menukil pendapat dari imam madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sebagaimana dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin hlm 106 dan Al-Mizanul Kubra bab qismus shadaqah bahwa tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat untuk lembaga sosial, bahkan untuk membangun masjid sekalipun atau mengkafani (mengurus) orang mati. Dinyatakan bahwa masjid itu sama sekali tidak berhak untuk rnenerima zakat, karena zakat itu penyalurannya tidak boleh kecuali untuk orang muslim yang merdeka. 

Kedua, boleh menyalurkan zakat di sektor sosial yang positif seperti membangun masjid, madrasah, mengurus orang mati dan lain sebagainya. 

Pendapat ini dikuatkan juga oleh fatwa Syaikh Ali al-Maliki dalam kitabnya Qurratul 'Ain hlm 73, yang menyatakan:

”Praktik-praktik zaman sekarang banyak yang berbeda pendapat dengan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Ishaq yang memperbolehkan penyaluran zakat pada sektor di jalan Alloh, seperti pembangunan masjid, madrasah dan lain-lainnya.” 

Ada juga pendapat Imam Al-Qaffal yang menyatakan bahwa dibolehkan penyaluran zakat ke semua sektor sosial karena firman Alloh Ta'ala tentang ”fi sabilillah”  atau ”di jalan Alloh” dalam surat At-Taubah ayat 60 pengertiannya umum dan mencakup semuanya termasuk kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan Syeikh Ali al-Maliki menyatakan, penyaluran zakat untuk kepentingan sosial bisa jadi wajib hukumnya: ”Amalan yang ada sekarang ini seperti yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawiyah perihal pengambilan saham sabilillah yang diperoleh dari zakat wajib dari kalangan orang-orang kaya muslim untuk membantu pendirian sekolah-sekolah dan lembaga-Iembaga keagamaan, maka amalan tersebut menjadi suatu keharusan. (Tafsir Al-Munir Syeikh al-’Alamah Muhammad Nawawi Al-Jawi Juz I: 244) 

Ditegaskan bahwa ”sabilillah” sebagai salah satu dari delapan golongan penerima zakat (8 asnaf) sebagaimana yang disebutkan dalam firman Alloh Ta'ala di surat at Taubah ayat 60, yaitu Ada 8 golongan, ini mencakup semua sektor sosial, seperti mengkafani mayat, membangun benteng, merehab masjid, dan pembekalan prajurit yang akan berperang serta lainnya yang memuat kepentingan umum umat Islam. ”Hal ini sebagaimana yang dirinci oleh sebagian ahli fikih dan yang dipedomani oleh Imam Qaffal dari kalangan As-Syafi’iyyah serta dinukil oleh Ar-Razi dalam tafsirnya yang menjadi pilihan bagi kami dalam berfatwa.”

Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, menisbatkan pendapat ini pada Sahabat Anas bin Malik dan Tabi'in Hasan al Basri, keduanya berkata: "Zakat yang dikeluarkan untuk membuat jembatan-jembatan dan jalan-jalan, itu adalah zakat yang diperbolehkan dan diterima (Al-Mughni, jilid 2, halaman 167)

Syaikh Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar menjelaskan makna  sabilillah dalam surat At-Taubah ayat 60 ini, yaitu meliputi kemaslahatan umum yang bersifat syar'iyah yang merupakan tugas Agama dan pemerintah (Tafsir Al-Manar, jilid 10, halaman 187)

Begitupula uraian yang panjang lebar dan luas tentang makna fi sibilillah oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam kitab Zakatnya, beliau menerangkan, bahwa mendirikan pusat kegiatan Islam yang representatif di negara Islam untuk mendidik pemuda Islam, menjelaskan ajaran Islam yang benar, memelihara aqidah Islam dari kekufuran, memelihara diri perubahan pemikiran dan tergelincirnya jalan, serta mempersiapkan diri untuk membelah Islam dan melawan musuh-musuh Islam, itupun termasuk jihad fi sabilillah (Fiqih Zakat, halaman 451)

Adapun fatwa Tarjih insya Alloh membolehkan zakat disalurkan ke lembaga-lembaga sosial, pendidikan dan kurban bebcana alam.

Adapun menunaikan zakat diberikan sebelum waktunya, dalam masalah ini juga ada khilafiyah, ada dua pendapat;

Pertama, pendapat Malikiyah dan adh- Dhahiriyah, mereka melarang membayar zakat sebelum haul, karena adalah ibadah yang tidak boleh ditunaikan sebelum datang syarat dan wajibnya.

Kedua, pendapat jumhur ulama, mereka membolehkan membayar zakat sebelum berlalu satu tahun (haul), karena zakat adalah kewajiban bagi harta, sehingga  boleh disegerakan sebagaimana bolehnya menyegerakan pembayaran hutang sebelum jatuh tempo.

Dan insya Alloh pendapat yang kedua inilah yang lebih kuat (rajih), dengan alasan,

1. Ada riwayat bahwa paman Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallohu 'anhu pernah menyegerakan pembayaran zakatnya sebelum haul (satu tahun)

Haditsnya sebagai berikut,  dari Ali ra. bercerita,

ان العباس سال رسول الله صلى الله عليه و سلم عن تعجيل صدقته قبل ان تحل فرخص له عن ذلك.

Abbas radhiyallohu 'anhu pernah bertanya kepada Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam tentang menyegerahkan zakat sebelum haul, lalu Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam memberikan keringanan akan hal itu. (HR. Tirmidzi no. 680,  Darimi no. 1689 dam dihasankan oleh al-Bani)

Dalam riwayat lain, juga dari Ali radhiyallohu 'anhu, bahwa Rasulullohu shallallohu alaihi wa sallam pernah berpesan Umar bin Khatthab radhiyallohu 'anhu,

انا قد تخذنا زكاة العباس عام الاول للعام

Saya telah memungut zakatnya Abbas, tahun kemarin untuk tahun ini. (HR. Tirmidzi no. 681 dan dihasankan oleh al-Bani).

Setelah Imam Darimi menyebutkan hadits di atas, beliau mengatakan,

اخذ به ولا ارى في تعجيل الزكاة باسا

Saya mengambil pendapat ini, dan saya berpendapat boleh menyegerakan zakat. (Sunan Darimi, 5/107).

Dan insya Alloh fatwa Tarjih, juga membolehkan membayar zakat sebelum waktunya.

Demikian penjelasan kami semoga bisa memcerakan.

Wallohu a'lam bish-shawab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Zakat Uang Yang Masih di Pinjam Orang Lain | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama : Hukum Membayar Zakat Secara Online | Berita Populer Lazismu