Tanya Jawab Agama Warta Surya: Bolehkah Memakan Makanan Saat Menjenguk Orang Sakit | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Imam Subari. (Habibie)


Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Tanya: 

Pak Ustadz Imam Subari, mohon pencerahannya.

Ada pengalaman ketika saya bersama dengan ibu-ibu menjenguk tetangga yang sakit. Kebetulan keluarga si sakit memberikan suguhan/ hidangan. Diantara kami ada yang memakan dan sebagian besar tidak memakan hidangan tersebut. Kejadiannya setelah keluar dari rumah si sakit, beberapa ibu-ibu mengatakan bahwa makan-makan itu bisa mengurangi pahala, apakah itu benar ustadz?

Dari pembaca Warta Surya di Surabaya.


Jawaban:

Wa'alaikumussalam Warohmatullaahi wabarokaatuh 

Pembaca Warta Surya yang berbahagia, semoga Allah swt selalu merahmati kita semua. 

Sudah menjadi budaya kita, ketika ada teman, tetangga, keluarga yang sakit, kita merawat atau menjenguk. Dalam bahasa Arab Takziyah, artinya menyabarkan. Maksudnya menyabarkan orang yang tertimpa musibah, atau berbela sungkawa atau turut berduka cita atas musibah yang dideritanya.

Orang yang suka menjenguk orang sakit termasuk orang yang suka melakukan kebajikan. Karena menjenguk orang sakit adalah salah satu dari orang Muslim kepada Muslim lainnya. Menurut riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud, dinyatakan bahwa hak Muslim terhadap hak Muslim lainnya ada enam, diantaranya disebutkan kalau sakit hendaknya dikunjungi dan jika meninggal hendaknya diantarkan jenazahnya. Orang yang menengok orang sakit akan mendapat pahala yang besar, kalau baik amal-amalnya yang lain akan mendiami surga. Hal ini dapat dilihat pada riwayat Ibnu Majah, dari Abu Hurairah.

مَنْ عَادَ مَرِيْضًانَادَ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّاْتَ مِنَ الْجَنَّةِ (رواه ابن ماجه)

Artinya : “Barangsiapa mengunjungi orang sakit, maka berserulah Malaikat di langit, ‘Engkau telah berbuat baik, jadi baik pulalah perjalananmu. Engkau akan mendiami sebuah rumah dalam Surga.". (HR. Ibnu Majah)

Orang yang menerima tamu dianjurkan untuk menghormati tamunya. Hal ini dapat dilihat pada hadits riwayat Bukhori dan Muslim yang artinya barangsiapa yang percaya pada Allah dan Rasul-Nya maka hendaknya menghormati tamunya.

Dalam rangka menghormati tamu kita kenal istilah dliyaafah yang antara lain realisasinya dengan memberi jamuan makanan dan minuman, sebagai rasa terimakasih dan rasa senang mendapat kunjungan. Orang yang sakit atau keluarganya yang dikunjungi merasa senang karena ditengok sehingga menjamu tamu yang ditengok itu. Dalam hal seperti ini tidak ada larangan tamu makan atau minum jamuan tersebut ala kadarnya untuk menujukkan kerelaan dan kesenangannya  pula atas jamuan itu yang menyenangkan hati yang menjamu. Lain halnya kalau kita sama sekali tidak mau makan atau minum (kecuali puasa) jamuan akan menjadi tanda tanya bagi penjamu. Jadi tidak ada larang meminum atau makan makanan jamuan yang disediakan oleh tuan rumah kalau kita menengok orang yang sedang sakit. Tentu saja kalau penderita yang kita tengok tidak sangat kritis sehingga keluarganya tidak dalam suasana duka yang dalam. 

Kalau sakitnya kritis sekalipun tidak ada larangan. Namun kiranya kurang baik kalau kita dalam suasana demikian sempat makan dan minum. Bahkan menjadi sebaliknya kalau kita menghadapi orang yang sakit keras akhirnya meninggal dunia sehingga semua keluarga dalam keadaan susah. Kitalah yang dianjurkan untuk membawa makanan untuk mereka, barangkali mereka tidak sempat untuk membuat makanan untuk mereka sendiri. (Imam Subari)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu