Jum'ah Cerah: Bisa Rumangsa, Rumangsa Bisa | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Nur Cholis Huda, MSi. (Dok Lazismu)


LAZISMUSBY.COM 

Bisa Rumangsa, Rumangsa Bisa 


Pada kongres Muhammadiyah ke-26 (6-15 Oktober 1937) di Yogyakarta, berkembang keinginan dari sejumlah tokoh muda agar dalam Kongres ini terjadi peremajaan di dalam Pimpinan Pusat, dengan menampilkan anak muda sebagai Pimpinan. Sistem pemilihan saat itu calon pimpinan dipilih langsung oleh ranting, kemudian sembilan nama tertinggi disampaikan dalam Kongres untuk disahkan.


Suara terbanyak di dominasi tiga tokoh tua: K.H. Hisyam, dan K.H. Muchtar. Hasil ini tidak memuaskan kelompok muda yang ingin perubahan seperti H.A. Badawi, H. Hisyam, H. Abdul Hamid, H. Basyiran dan H.M. Farid Ma'ruf. Namun itulah hasil demokratis yang harus dihormati. Para tokoh tua masih tetap punya hak untuk memimpin persyarikatan. Ki Bagus Hadikusumo dan R.H. Hadjid yang dekat dengan kelompok muda khawatir hasil ini bisa mengganggu kekompakan persyarikatan. Maka bersama A.R. Sutan Mansur (Konsul Minangkabau), Tjitrosuwarno (Pekalongan) dan Muljadi Djojomartono (Surakarta) mengadakan pertemuan dengan ketika Tokoh peraih suara terbesar hasilnya.


Hasilnya, ketiga tokoh itu menyatakan mengundurkan diri dengan tulus, dan memberi kesempatan yang lebih muda. Alasan lain Mereka beramal di Muhammadiyah bukan demi kedudukan, jabatan apalagi penghasilan, tetapi hanya semata-mata mencari ridha Allah.


Lalu Siapa calon ketua? Musyawarah mengusulkan Ki bagus Hadikusumo. Tetapi beliau tidak bersedia. Demikian halnya R.H. Hadjid. Lalu Musyawarah meminta K.H. Mas Mansyur dari konsul Surabaya menjadi ketua. Maka diutuslah H.A Badawi, H. Abdul Hamid, H. Hisyam untuk menemui Mas Mansyur. Meski dikenal sangat cerdas dan berilmu tinggi sampai K.H. Ahmad Dahlan menyebutnya Sapu kawat Jawa Timur- pria kelahiran Surabaya 25 Juni 1896 ini menolak. Dengan rendah hati Beliau mengatakan dirinya amat lemah, kurang iman dan belum cukup ilmu.


"Kalau Ki Bagus dan R. Hadjid menolak, lebih baik A.R Sutan Mansur saja. Beliau orang kuat, berwibawa dan berilmu," kata Mas Mansyur. Misi delegasi gagal. Kemudian Sutan Mansur sendiri yang menemui Mas Mansyur. Terjadilah dialog dua Mansyur cukup lama. Akhirnya dia menjadi ketua, dengan syarat Ki bagus menjadi wakilnya. Ki Bagus menolak dan mengusulkan H. A. Badawi karena dia orang muda, Alim, bergairah dan penuh keikhlasan. Akhirnya Mas Mansur menjadi ketua dan H.A Badawi menjadi wakil.


Dari peristiwa itu dapat kita rasakan ketulusan tokoh kita. Itulah contoh sikap "bisa rumangsa" dan bukan "rumangsa bisa". Ketiga tokoh tua yang terpilih dengan suara terbanyak punya hak untuk menjadi ketua dan pengurus besar. Tidak ada satupun aturan formal yang menghambat. Tapi keutuhan dan kemajuan Muhammadiyah mereka nilai jauh lebih penting daripada atau jumlah suara. Maka dengan tulus hati mereka mundur. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lain yang berebut tidak mau menjadi ketua. Ini karena merasa dirinya bukan yang terbaik. Mereka mengedepankan bisa rumangsa (bisa merasa) dan bukan rumangsa bisa (merasa bisa).


Bagaimana kini?


Kini keadaan terasa berbalik. Banyak orang merasa bisa. Merasa bisa menjadi kepala daerah, merasa bisa menjadi ketua partai, menjadi penyalur aspirasi rakyat menjadi pejuang masyarakat. Maka berbuatlah orang dalam pilkada, kongres Monas, muswil dan muscab, karena banyak yang merasa bisa. Ketegangan bahkan kekerasan terjadi. Yang subur semangat rumangsa bisa, bukan bisa rumangsa.


Ini semacam virus yang dengan diam-diam bisa menyebar ke mana-mana, termasuk ke dalam tubuh Muhammadiyah dan Ortom sudah terjangkit virus rumangsa bisa. Mungkin walau masih dalam tahap awal.


Erich Fromm (1900-1980) dalam "To have or To Be" (1976) menjelaskan dua macam orientasi manusia dalam memaknai hidupnya:  orientasi "memiliki" dan "menjadi". Orang dengan orientasi "memiliki" cenderung melakukan setiap hal atau setiap orang menjadi miliknya. Memiliki juga menguasai. Sering juga orang berorientasi "memiliki" tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbol-simbol yang menjadi miliknya. Jika simbol itu lepas dari dirinya, maka dia merasa lepas pula eksistensinya.


Simbol itu bisa berupa kekuasaan, jabatan di organisasi, rumah, uang, mobil dan sebagainya. Jika tak lagi melekat pada dirinya, terasa hilang eksistensinya. Maka simbol itu bisa dijaga agar tidak sampai lepas. Bahkan kalau bisa, embel-embel terus bertambah agar eksistensi juga bertambah. Jika mobilnya tergores, terasa tubuhnya ikut tergores. Jika kedudukannya lepas, terasa sebagian hidupnya ikut lepas.


Sebaliknya, orientasi hidup "menjadi", orientasi hidupnya dengan cara memberi. Kepuasan terjadi ketika dia bisa memberi. Memberi kesenangan, pengabdian dan sumbangsih kepada pihak lain. Jika orang dengan orientasi memiliki melihat sekuntum bunga di tepi jalan, bunga itu akan diambil dan dipelihara dalam kamar agar setiap waktu dapat dinikmati. Namun orang yang berorientasi hidup "menjadi" akan membiarkan Mawar itu di tepi jalan dan memeliharanya dengan baik agar setiap orang dapat Menikmati keindahan Mawar itu bukan untuk dirinya sendiri.


Kembali pada soal virus "rumangsa bisa" dalam Muhammadiyah. Gejala awal itu bisa diamati lewat Musda  dan Muscab. Sekedar contoh, PP Muhammadiyah menetapkan; mereka yang duduk dalam jabatan politik, seperti pengurus harian, anggota pertimbangan partai dan ketua departemen, tidak bisa menjadi anggota pimpinan persyarikatan. Demikian juga pimpinan Persyarikatan tidak bisa dirangkap dengan pimpinan amal usaha (AUM). Mereka yang terkena aturan ini harus memilih salah satu.


Beberapa orang ada yang ingin merangkap keduanya dengan cara meminta izin ke pimpinan pusat. Alasannya mencintai keduanya tidak bisa meninggalkan salah satu. Izin dari PP merupakan pintu darurat bagi daerah yang dalam keadaan terpaksa harus dirangkap satu orang. Dan dalam keadaan normal, izin itu tidak bisa diberikan apabila tersedia keadilan yang bisa menggantikan.


Jika alasannya ingin mengabdi lewat Muhammadiyah, tersedia pintu luas di majelis atau lembaga. Jika pertimbangannya mengejar hak, masalahnya jadi lain. Syukurlah di Jawa Timur semuanya berakhir happy ending.


Kultur Muhammadiyah dibangun dengan orientasi "bisa rumansa", orientasi "menjadi" dan "memberi" seperti ditunjukkan dalam Kongres ke-26. Bukan "rumangsa bisa",  orientasi "memiliki" atau menuntut hak. Simbol Matahari adalah lambang memberi dan tidak pernah berharap kembali (imbalan). "Kami tidak mengharapkan balasan dari kalian dan tidak pula berharap ucapan terimakasih". (Q.S. al Insan (76) ayat 9. (Ustadz Nur Cholis Huda, MSi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu