Jangan Jadi "The King Of Lip Service" | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Muhammad Khoirul Anam, SPdI. (Dok Lazismu)


( JANGAN ) JADI

“ THE KING OF LIP SERVICE ”


“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberikan kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan“. ( Q.S. Yasin ayat 65)

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang maha segala-galanya, tiada Tuhan yang patut di sembah selain Dia.

Salawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada nabi Muhammad saw, para sahabat dan pengikutnya hingga hari akhir.

Para khulafaur rasyidin (Abu Bakar ash-shiddiq, Umar bin Khottob, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib) radhiyallahu ‘anhum ajma’iin memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Abu Bakar ash-shiddiq dengan kesabaran dan kedermawanannya, Umar bin Khottob dengan ketegasannya, Ustman bin Affan dengan kemahiran berdagang dan kedermawanannya, serta Ali bin Abi Tholib dengan keilmuannya. Dalam tulisan ini, kita mencoba mengenang kembali sosok khalifah kedua yakni Umar bin Khottob. 

Singkat cerita, setelah Abu Bakar ash-shiddiq memerintah selama 2 tahun, beliau sakit. Kondisi demikian memunculkan kecemasan karena sebagai kepala negara beliau tidak maksimal dalam menjalankan tugasnya Abu bakar kemudian bermusyawarah dengan para sahabat untuk mempertimbangkan siapa calon penggantinya. Beliau membeberkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang khalifah. Berdasarkan beberapa masukan, akhirnya Abu Bakar memilih Umar bin Khottob sebagai kholifah. Abu Bakar pun membai’at Umar bin Khottob, dan dengan demikian orang-orang mukmin harus patuh kepadanya.

Setelah Abu Bakar wafat pada 21 Jumadil akhir 13 H atau 22 Agustus 634 M, Umar bin Khottob diangkat menjadi kholifah ke-2. Di hari ke-3 pengangkatannya, Umar menyampaikan pidato pertamanya. Dalam pidatonya tergambar bagaimana takutnya beliau memikul beban tanggung jawab sebagai pemimpin. Dan bukan hanya itu saja, ketakutannya terlihat saat dia berbicara sesaat setelah Abu Bakar dimakamkan. “Wahai kholifatullah, sepeninggalanmu sungguh ini suatu beban yang berat yang harus kami pikul. Sungguh engkau tidak tertandingi, bagaimana pula hendak menyusulmu“. 


Adapun isi pidato Umar bin Khottob yaitu : 

 “Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap keras itu hanya berlaku kepada orang yang dhalim dan memusuhi kaum muslimin, tetapi buat orang yang jujur yang berpegang teguh pada ajaran agama dan berlaku adil, saya lebih lembut dari mereka semua“. Umar pun berdoa agar Allah swt melembutkan hatinya. 

“Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku (Abu Bakar), sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain, dan tak ada yang tak hadir disini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik maka akan saya balas dengan kebaikan. Tetapi kalau mereka melakukan keburukan, maka terimalah bencana yang akan saya timpakan kepadanya“.

“Bantulah saya dalam tugas dengan menjalankan ‘amar ma’ruf nahi munkar, dan bekalilah saya dengan nasehat saudara semua terhadap tugas yang diberikan Allah kepada saya demi kepentingan saudara sekalian“.

Kalau kita membaca isi pidato beliau, sangat jelas terlihat rasa ketakutan yang luar biasa. Tidak ada kebanggaan sedikit pun yang terucap dari pidatonya. Tidak ada janji manis yang disampaikan kepada masyarakatnya. Namun setelah beliau memegang tampuk kekuasaan, maka kesejahteraan dan kejayaan ummat Islam sangat terasa.

Ada sebuah kisah teladan mengenai Umar yang patut di tiru oleh para pemimpin zaman sekarang. Ketika itu tanah arab sedang mengalami musim paceklik atau di kenal sebagai tahun abu. Musim kemarau panjang yang menjadikan tanah di Arab menjadi tandus. Suatu hari, Umar mengajak sahabatnya yang bernama Aslam blusukan ke kampung terpencil di sekitar Madinah. Tepat di dekat gubuk reot langkah Umar terhenti. Ia mendengar tangisan anak kecil. Karena penasaran Umar pun mengajak Aslam mendekati gubuk itu untuk memastikan keberadaan penghuninya. Umar berfikir mungkin penghuni gubuk itu memerlukan bantuan.

Setelah mendekati gubuk, terlihat seorang perempuan dewasa sedang duduk di dekat perapian. Perempuan itu terlihat sedang mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam, Umar meminta ijin untuk mendekat. Umar bertanya: “Siapa yang menangis di dalam “. “ Anakku“. Jawab perempuan itu. “Kenapa anak-anakmu menangis? apa dia sakit?”. Tanya Umar.  Perempuan itu menjawab: “Tidak, mereka lapar“. Dalam keadaan demikian ibu itu terus saja mengaduk bejana. “Apa yang kamu masak, kenapa lama sekali matangnya “Tanya Umar. “Kau lihatlah sendiri“. jawab ibu itu. “ Mengapa kau memasak batu?“, tanya Umar. “ Aku memasak batu itu untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan sehingga mereka mengira aku sedang memasak makanan untuk mereka. Inilah kejahatan ‘Umar sebagai kholifah yang tidak mau melihat rakyatnya yang berada di bawah. Apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. namun apa dayaku, ternyata Umar bin Khottob tidak layak jadi pemimpin“, lanjut perempuan itu.

Umar meneteskan air mata, lantas ia mengajak Aslam kembali ke Madinah. Sampai di Madinah, Umar segera menuju Baitul Maal dan mengambil sekarung gandum. Umar segera mengangkat karung gandum itu. “Wahai amirul mukminin, biarlah saya yang mengangkat karung gandum itu“. Kata Aslam mencegah Umar. Wajah Umar pun memerah. “Wahai Aslam, jangan engkau jerumuskan aku ke neraka. Kau akan menggantikan aku memikul karung ini. Apakah kau mau memikul bebanku di akhirat nanti“. kata Umar dengan suara tinggi. Aslam tertunduk mendengar perkataan Umar.

Sambil terseok-seok, Umar mengangkat sendiri karung gandum itu sampai ke gubuk perempuan tadi. Umar meminta Aslam untuk membantu memasaknya sampai akhirnya keluarga itu bisa makan. 

Saudara, kisah nyata ini semoga menjadi inspirasi bagi semua pemimpin zaman sekarang. Intinya bahwa amanat itu harus dijalankan secara maksimal. Berkeyakinan bahwa amanat itu  akan dimintai  pertanggungan jawaban menjadi modal awal untuk menjadi insan mulia. Jangan takut kritik, dan jangan banyak mengobral janji yang tak ditepati, sehingga kita bukan termasuk “THE KING OF LIP SERVICE“. (Muhammad Khoirul Anam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu