Tumbuhkan Pencerahan Nalar | Berita Populer Lazismu

 

Drs Andi Hariyadi, MPdI. (Dok Lazismu)


LAZISMUSBY.COM 

Tumbuhkan Pencerahan Nalar

Disaat gencarnya arus informasi yang luar biasa dahsyatnya khususnya melalui fasilitas media sosial yang begitu mudah diakses digenggaman tangan kita, sehingga jari jemari begitu lincah menari menekan handphone, untaian kata tidak lagi diucapkan melalui mulut kita, tetapi dari jemari merangkai kata dilanjut share ke berbagai media yang ada sehingga dengan cepat tersampaikan dalam hitungan detik untuk dikonsumsi publik.

Gaya hidup baru terwujud digenggaman tangan, beragam informasi menjadi konsumsi sehari-hari masuk ke dalam hati dan pikiran ini, jari jemari berinteraksi untuk berbagi dan berbalas informasi sambil ngopi, kadang senyum sendiri, hingga emosi dan respon diri diwujudkan dengan berbagai simbol yang ada, atau menulis dengan ujaran penghormatan maupun kebencian. Riuhnya yang senyap jagad informasi, kadang yang dekat menjadi jauh karena diam, dan yang jauh menjadi dekat  karena tulisan.

Pengguna media sosial beragam usia, profesi dan latarbelakang lainnya, waktu yang ada disibukkan mengkonsumsi menu informasi yang sudah siap tersaji terus berantai menghubungkan yang terpisah. Dahsyat dan derasnya gelombang informasi seperti tsunami yang tidak merobohkan gedung bangunan tetapi merubah perilaku kehidupan. Tsunami informasi tidak lagi membawa korban jasad kematian yang bergelimpangan dijalan-jalan dengan kondisi tubuh yang mengenaskan, tetapi korbannya mematikan kehidupan yang terlihat tegar dan gagah bahkan menjadi kebanggaan. Tata kota tidak porak poranda, tetapi penghuninya berubah gaya hidupnya kadang bisa peduli dengan kecepatan tinggi untuk berbagi, atau ada yang menjadi benci, menebar permusuhan, dan bisa jadi ada yang menjadi aktor untuk memproduksi informasi sesuai keinginan pesanan.

Manusia bukanlah robot yang diperintah sesuai pemrogramnya, dan jangan sampai potensi kesadaran dan nalar manusia yang membedakan dengan makhluk lainnya tergerus dan tidak berdaya, sehingga kesadaran dan nalarnya sempit, minim wawasan, cenderung ekslusif dan pragmatis, justru kita tunjukkan bobot keunggulan manusia. Sikap humanis bukanlah mekanis; memiliki spiritual yang tercerahkan, bukannya emosional dalam kegelapan; selalu berkarya produktif dan inovatif, bukannya pasif, stagnan dan enjoy dengan kemapanan; sadar akan tanggung jawab atas peran yang dijalankan untuk dipertanggungjawabkan dihadapan Ilahi, bukannya bangga melakukan upaya destruktif.

Kesadaran kehadiran manusia bertujuan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai dasar dan ikatan komitmen, sebagaimana firmanNya dalam Al Qur’an surat Adz  Dzariyat 56 "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Risalah kenabian dalam mengisi peradaban kehidupan menekankan prinsip ketauhidan, dan penguatan akhlaqul karimah serta kesadaran beribadah untuk terus dipertahankan, sehingga hati yang seringkali berubah pandangan tetap terjaga, demikian pula nalar yang kadang kala keluar dari bingkai risalah kenabian, sehingga bebas berkehendak akan terkontrol, akhlaq keteladan tetap menjadi penerang, nilai-nilai ibadah semakin menyadarkan diri.  Lebih - lebih dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan arus informasi yang begitu cepat, konsistensi membawa risalah kenabian harus terus dipertahankan. Akibat perkembangan dengan perubahannya, diharapkan tidak merubah pemahaman prinsip risalah kenabian, justru bisa menjadi keterpaduan dalam mengisi peradaban kehidupan yang lebih berarti.

Menumbuhkan pencerahan nalar menjadi keharusan karena mampu mengkonstruksi prinsip risalah kenabian dengan perkembangan dan perubahannya, sehingga keberadaan manusia bukan lagi menjadi korban perkembangan, apalagi bersedia dijadikan korban karena nafsu keserakahan, yang cenderung semena-mena, dan menjadikan manusia sebagai bagian mekanika yang hampa spiritualnya. Pencerahan nalar yang dipenuhi cahaya wahyu Ilahi, tidak lagi mengorbankan sesama manusia, justru bisa hidup damai dalam persaudaraan, tidak lagi berorientasi mencari keuntungan dan kepuasaan saja, tetapi sadar bahwa apa yang dilakukan akan ada pertanggungjawaban, baik yang berupa pertanggungjawaban sosial maupun spiritual, tidak lagi mengutamakan kepuasan individu, justru terbangun kepedualian sosial yang lebih berdaya guna.  Nalar yang tercerahkan tidak hanya sebatas pandangan mata yang serba terbatas, justru mampu menembus melihat pemandangan dan dinamika kehidupan yang lebih luas, nalar tercerahkan karena memiliki energi ketauhidan, keteladanan akhlaqul karimah serta mampu  menjalankan dan menjadikan nilai-nilai ibadah berkontribusi dalam percaturan global yang lebih manusiawi dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Menumbuhkan pencerahan nalar, agar tidak terjebak pada nalar kesesatan, sehingga apa yang sudah mulia menjadi hina, apa yang sudah bermakna menjadi sia-sia, apa yang sudah berharga menjadi percuma. Pencerahan nalar menjadi sikap keteladanan membawa risalah kenabian dalam mengisi peradaban. (Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu