Penjual Cao Itu Akhirnya Berangkat Umroh | Berita Populer Lazismu

 

Kiai Nur Cholis Huda, MSi 


LAZISMUSBY.COM 

PENJUAL CAO ITU AKHIRNYA BERANGKAT UMRAH


Ada beberapa perisitiwa yang nampak sederhana tetapi mengandung pesan penting dan inspiratif ketika saya melakukan Umrah akhir maret 2013. 


Ibadah ditanah suci selalu menimbulkan getaran hati tersendiri. Maka menjadi pemandangan biasa jika banyak orang tak kuasa menahan air mata ketika berada di masjid Nabawi, Madinah atau di depan Ka'bah. Tetapi catatan kecil ini tidak bercerita tentang air mata itu melainkan pengalaman yang saya anggap unik dan menarik. 


Saya tertarik dengan pakaian anak-anak muda dari berbagai negara yang mengenakan jeans dan kaos bertuliskan pemain sepak bola favorit mereka. seorang pemuda berhidung mancung salat mengenakan kaos merah bertulis di punggung nama Roony, pemain sepak bola dari MU Inggris. Lalu di Shaf lain ada nama Ouzil, pemain asal jerman. Dibaris depan ada tulisan Ronaldo nomor 7 kaos warna putih. Nama Messi tertulis dengan nomor punggung 10 dan bagian dada tertulis Qatar Foundation dengan Warna kaos kebesaran Bercelona. Masih banyak lagi nama pemain sepakbola dunia.


Ada perasaan unik. Orang non-muslim dilarang masuk kota suci, tetapi nama-nama mereka "ikut salat" khusu' di masjid Nabawi. Sepakbola dan televisi seakan menjadi "rasul-rasul" baru. Andaikan selesai salat mereka berdiri berjejer di halaman masjid dengan kaos aneka ragam itu, pasti jadi pemandangan unik. Sepakbola telah menaklukkan segala sekat, menembus batas dan berkekuatan universal. Sayang di negeri kita cerita tentang sepakbola bukan cerita tentang prestasi.


Penjual Cao

Rombongan kami 196 orang. Hanya tiga dari dari Surabaya yaitu saya, istri dan Bu Hamidah. Lainnya dari Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan NTB. Berkumpul di Jakarta. Saya baru mengenal Bu Hamidah ketika di Bandara Juanda menunggu pesawat. "Tolong Pak, bisa matikan HP saya, saya tidak tahu caranya. Baru kali ini pegag HP", katanya seraya menyodorkan HPnya. Sebuah HP kusam dan tua. Huruf dan angkanya terkelupas nyaris tak terbaca.


"Ibu beli HP dimana?" tanya saya. "Diberi anak saya", katanya. kami bertiga ngobrol macam-macam. Saya tertegun ketika Bu Hamidah mengatakan sehari-hari jualan es cao di depan sebuah SDN di Surabaya. Cao adalah minuman berisi agar-agar dan gula. Harganya murah, satu gelas seribu rupiah. Untuk murid SD bisa lebih rendah lagi. Dia mengatakan sudah daftar haji tetapi sesuai nomor urut baru tahun 2020 bisa berangkat. Maka sekarang Umrah Dulu.


Uang dari mana? Ada yang membiayai? Tidak! Semua dari dirinya sendiri. Menabung setiap hari. Ya, tiada hari tanpa menabung. Kadang Rp. 20 ribu, Rp 25 ribu atau cuma Rp. 10 ribu. Bila jualan laris kadang bisa Rp. 50 ribu. "Tidak tentu jumlahnya", katanya. Dua atau tiga hari sekali petugas bank datang mengambilnya. Sejak kapan? "Sudah lama, saya tidak ingat", katanya. Selesai daftar haji, dia terus menabung lagi. Semula untuk biaya kalau nanti berangkat haji dipanggil sewaktu-waktu, tetapi karena masih lama, maka tabungan itu dipakai umrah. Nanti nabung lagi. Saya teringat sinetron di telivisi "Tukang Bubur Naik Haji".


Maka sanak famili dan para tetangganya terkejut ketika tahu Bu Hamidah yang penjual es cao akan berangkat umrah. Ada yang kagum tetapi ada yang sinis. "Orang cuma penjual cao saja kok bergaya seperti orang kaya, umrah segala", kata Bu Hamidah menirukan suara sumbang itu. Tapi dia diam saja, tak meladeni.


Dia senang ketika di pesawat duduk di dekat jendela, bisa melihat pemandangan di bawah. Ini pertama kali naik pesawat. Di Madinah menginap di al-Haram, hotel bintang lima dekat masjid Nabawi. Di Mekkah menginap di tingkat 32 Zam-zam Tower, hotel tertinggi dan terbaik di Mekkah, yang puncaknya ada jam raksasa itu, dan halaman hotelnya bersambung dengan halaman Masjidil Haram. Di kamar hotel itu juga dipasang pengeras suara yang tersambung dengan sound sistem Masjidil Haram. Suara azan dan imam shalat masuk ke dalam kamar-kamar.


Jam raksasa itu benar-benar raksasa. Jumlah jam empat buah sesuai dengan jumlah penjuru angin. Menurut catatan Dahlan Iskan berat jam itu 23 ton! Diletakkan diatas gedung di ketinggian lebih 400 meter. Warna dasar jam itu hijau. Warna dibentuk oleh lampu-lampu LED dengan background material warna putih. Untuk memghijaukan warna empat jam itu, diperlukan jutaan lampu LED.


Pilihan warna dasar hijau dan jarum putih itu hasil riset yang mendalam. Warna hijau dan putih adalah warna yang bisa terlihat dari jarak paling jauh. Sejauh apapun kita masih bisa melihat jam ini dengan jelas. Kalau warna lain tidak sejelas hijau dan putih. Mesin penggerak jam itu seperti gigi-gigi mesin pabrik gula. Demikian catatan Dahlan Iskan tentang jam itu. Memang jam ini menjadi pedoman jamaah kalau tersesat di jalan. Mereka melihat jam lalu kembali ke Masjidil Haram. Dahulu banyak jamaah berpedoman pada menara Masjidil Haram. Sekarang tentu sudah kalah tinggi dengan jam itu. Bahkan menara juga tak mudah dilihat dari jauh karena tertutup dengan banyak bangunan yang menjulang tinggi.


Bu Hamidah, penjual cao ini di Mekkah menginap di hotel yang menyatu dengan jam raksasa itu, menikmati fasilitas terbaik bagi jamaah umrah. Semua itu di luar perkiraannya. Semua diatur travel. "Saya ikut travel yang mudah daftarnya, dekat tempat kerja anak saya", katanya. (Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu