Muallaf ini Tinggalkan Kemegahan Dunia Demi Memeluk Islam | Berita Populer Lazismu


Bapak Tasmo dan Bapak Abdul Hakim saat berkunjung ke kediaman Muallaf (Bapak Robertus). (Dok Lazismu)


LAZISMUSBY.COM-Dr Robertus Heronimus Prasetyo (60 th) tidak menduga jika akhirnya dengan mantap beralih agama. Mantan aktivis Katolik Roma itu bersama istrinya, Sri Mulyati (63th) memutuskan memilih hidayah Islam sejak 2010.


Tentu, di luar harapan Muhammad Syarif, nama baru Robertus, akibat hijrahnya ke Islam, harus menerima perlakuan di luar batas toleransi, bahkan diluar batas kemanusiaan. 


Selain mengalami penganiayaan fisik dari sejumlah oknum Katolik yang tidak menghendaki keputusannya beralih ke Islam, seluruh kekayaan dan berbagai fasilitas hidup diri dan keluarga  diambil paksa. 


Selain gaji perbulan senilai 3,5 milyar diputus, simpanan deposito di Bank Swiss senilai 2,1 trilyun dibekukan dan tidak mungkin bisa dicairkan selamanya, kecuali alumni UĢM itu kembali ke agama lama. Tidak hanya perampasan atas aset ekonomi yang direnggut paksa. Rumah dan berbagai fasilitas mobil, serta beberapa motor Harley Davidson mìliknya juga diambil paksa.  


Dirinya bahkan mengalami penganiayaan yang luar biasa. Penyiksaan fisik berat dialami. Selain mengakibatkan sejumlah  giginya dicabut paksa,  juga mengalami pendaràhan otak yang mengakibatkan nyeri berat dirasakan setiap saat. 

Tidak hanya menanggung siksaan fisik. Segenap keluarga besarnya bahkan memutus hubungan. Lima putra-putrinya bahkan hengkang tidak mau mengakuinya sebagai orangtua. Bersyukur putra bungsunya, Haedar Ali, dengan penuh keyakinan mengikuti jejaknya menjadi muslim dan melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.


Sebagai muallaf sejak 2021, Muhammad Syarif ternyata sangat tègar dan sabar menghadapi semua derita sebagai  resiko beralih agama. Dalam kondisi lumpuh kaki dengan bantuan tongkat penyangga, bersama istrinya kini sahabat dekat Mubalighoh dan pakar Kristologi Dr. Irine Handono ini tinggal di sebuah kamar kontrakan sederhana. Selain support,  bimbingan dan dukungan moral dari sejumlah ulama dan aktivis muslim di Surabaya dan sekitarnya, mantan Staf Inkuisisi Vatikan ini  menerima bantuan kebutuhan hidup seadanya dari dermawan. 


Satu harapan disampaikan nya untuk bisa menulis demi memberi pencerahan agama kepada siapa pun. Tetapi, dia sadar, fasilitas komunikasi digital dan Laptop serta sejumlah buku karya dan referensi  miĺiknya sudah rusak dan musnah akibat perlakuan aniaya terhadapnya di masa lalu. 


Jika ada bantuan HP atau Laptop untuknya, tentu sangat disyukuri agar dirinya bisa tetap eksis menulis dan berkomunikasi menyampaikan pesan dakwah pencerahan.  Mantan pakar dan aktivis Katolik Roma yang menyelesaikan S-2 di Chicago University dan S-3 di Vatikan ini bertekad menjaga hidayah dan menyampaikan kebenaran Islam dengan teguh sampai ajal menjemput. 


"Insya Alloh, bersama istri dan anak saya yang keenam, saya akan merawat dan terus menjaga hidayah Islam ini sampai ajal menjemput, " ujar Muhammad Syarif yang selalu mengisi hari-harinya dengan selalu mengkaji Alquran, melantunkan dzikir  hasbanah, sholawat dan istighfar. (Surabaya, 10 Juni 2021. Abdul Hakim, Pimred)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu