Mewujudkan Komitmen Lazismu | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Abdul Hakim. (Habibie)


MEWUJUDKAN KOMITMEN LAZISMU 

Abdul Hakim


إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alloh dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alloh, dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” QS Attaubah 60


خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu metenteramkan jiwa mereka. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”             QS Attaubah 103


Inilah dua  ayat  yang menjadi dasar Lazismu  mewujudkan komitmennya sebagai lembaga nasional manajemen atau pengelola zakat infaq dan sodaqoh.

Surat Attaubah ayat 60 mengingatkan ada delapan golongan yang memiliki hak untuk mendapatkan zakat, infaq dan sodaqoh dari para aghniya. Para mustahik itu disebutkan Alquran sebagai amanat syariat. Mereka adalah, fakir, miskin, amil, muallaf, riqob, ghorim,  fi sabiillah, serta ibnu sabil . 

Fakir adalah mereka yang tidak memiliki sumber pendapatan, atau jauh dari  mencukupi kebutuhan hidup. Baik kebutuhan lahiriyah seperti sandang, pangan dan papan,  atau kebutuhan sarana ubudiyah pokok seperti  sholat, puasa, zakat, atau kebutuhan ilmiyah seperti belajar agama atau menuntut ilmu. Kefakirannya menjadi penghalang untuk  memenuhi sarana dan prasarana hidup secara memadai. 

Miskin adalah mereka yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sepenuhnya. Penghasilan mereka belum bisa memenuhi kebutuhan standar normal. Meskipun masih baik daripada para fakir, golongan miskin tetap butuh ta’awun atau bantuan agar mereka bisa memenuhi kebutuhan sandang pangan, papan, pendidikan, serta kebutuhan ubudiyah pokok seperti menunaikan rukun Islam.

Amil adalah mereka yang mendapat mandat untuk menunaikan atau menyelenggarakan manajemen zakat, infaq dan sodaqoh secara profesional. Para amil adalah mereka yang  mendapat tugas syariat agar zakat, infaq dan shodaqoh sampai kepada para mustahik secara`tepat sebagaimana disebutkan dalam Surat Attaubah ayat 60. 

Tugas dan tanggung jawab amil tentu tidak ringan. Mereka harus bekerja secara profesional berdasar mandat. Tenaga dan pikirannya  tercurah untuk mengentas problem ekonomi  umat yang masuk kategori mustahik . 

Muallaf adalah mereka yang mendapat hidayah Islam atau mulai mengalami pencerahan Islam. Mereka saudara seiman yang perlu santunan dan penguatan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Tidak sedikit muallaf yang mengalami nasib pilu. Dianiaya, dibuly, difitnah, disingkirkan dan diusir dari komunitas keluarga,  pekerjaan, dan lingkungan sosialnya. 

Riqob adalah para budak yang kemerdekaannya dalam genggaman sang majikan. Mereka bisa dimerdekakan dengan zakat sebagai penebus diri. Para pembantu rumah tangga tentu tidak termasuk budak atau riqob.

Ghorim adalah mereka yang terlilit hutang dan tak sanggup melunasi. Piutang untuk kebutuhan pokok yang halal dan thoyyib seperti sandang, pangan dan papan. Bukan piutang untuk aktivitas mubazir atau maksiat. Bukan piutang untuk hidup berlebihan.

Fi sabilillah adalah mereka yang berjuang di jalan Alloh atau jihad fi sabilillah. Termasuk mereka adalah para pelajar dan mahasiswa penuntut ilmu, ulama, ustadz, guru yang berhidmad demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Ibnu sabil adalah para musafir yang kekurangan bekal melanjutkan perjalanan mulia atau kembali ke negerinya. Hak zakat, infaq atau sodaqoh diberikan  agar mereka  tidak jatuh pada keputusasaan atau menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan safar. 

Untuk dapat menunaikan amanat Surat Attaubah ayat 60 dan ayat 103, serta sesuai visi-misinya, Lazismu mengemas program penghimpunan dan pentasyarufan kepada mustahik ke dalam aktifitas sosial,  dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Lembaga zakat nasional di  bawah payung Persyarikatan Muhammadiyah ini terus berikhtiar menjaga amanat,  menjadi lembaga amil zakat nasional terpercaya sebagai visi utamanya.

Visi ini kemudian dielaborasi ke dalam tiga misi. Pertama, mengoptimalkan kualitas pengelolaan zakat, infaq dan sodaqoh yang amanah. Kedua, mengoptimalkan pendayagunaan zakat, infaq, dan sodaqoh yang kreatif, inovatif, dan produktif. Ketiga, mengoptimalkan pelayanan donator.

Konsistensi, amanah, manfaat, adil, taat hukum, akuntabilitas, integrasi, profesional, sinergi, dan transparan adalah prinsip-prinsip kinerja yang selalu dijaga segenap  jajaran Lazismu. Lazismu terus memanfaatkan teknologi informasi , khususnya di era digital sebagai kebutuhan, ketika penghimpunan atau fundraising dan pentasyarufan harus dilakukan secara lebih efektif dan efisien. Tentu, disadari sepenuhnya kualitas SDM yang memiliki integritas tetap menjadi tuntutan utama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu