Lentera Hati: Samudra Hati | Berita Populer Lazismu

 

M Khoirul Anam, MPd.I. (Dok Lazismu)



SAMUDRA HATI

Pagi itu dipinggir sebuah taman, tampak seoarang anak muda, sekilas terlihat diwajahnya yang mengisyaratkan kesedihan, raut wajahnya yang kusut tidak bisa disembunyikan bahwa ia memilki persolan berat dalam kehidupannya, seharian dia hanya duduk di tempat itu sambil termenung meratapi kesedihannya. Tidak jauh dari tempat itu, nampak seorang kakek yang selalu memperhatikan pemuda yang mengalami kesedihan itu. berlahan sang kakek menghampiri anak muda tersebut, “ 

“ Wahai anak muda apa yang engkau lakukan seharian disini ? apa yang kamu pikirkan, sehingga membuatmu menjadi lemah dalam kesedihan? Pemuda itu menjawab “ apa yang engkau pedulikan denganku wahai pak tua. Tak mungkinlah engkau bisa dapat merasakan apa yang saya alami saat ini?

Dengan sabar orang tua itu berkata. “ wahai anakku..memang saya tidak bisa merasakan beratnya beban yang ada dalam hati dan pikiranmu, tetapi saya hanya ingin mengajakmu mampir ke rumah sekedar minum  bersama, semoga kamu tidak menolaknya” 

Tanpa membantah pemuda itu pun mengikuti pak tua tersebut ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, pak tua pun mempersilahkan duduk si anak muda. berlahan pak tua mengambil serbuk putih dan memasukkanya kedalam gelas “ wahai anak muda ambillah gelas disampingmu itu lalu minumlah ” tanpa ragu si anak muda langsung meminumnya “ hemmm..pahit sekali pak tua!! Sahud pemuda itu.

Pak tua hanya tersenyum saja, lalu mengajak pemuda itu berjalan-jalan ke telaga yang tak jauh dari rumahnya. Suasana sekitar telaga begitu sejuk, pemandangannya pun lumayan bagus, dikiri dan kanan terdapat aneka bunga. Mereka berjalan bersama dan akhirnya sampailah di tepi telaga yang tenang dan bening airnya. sampai di sana pak tua itu kembali mengambil serbuk dan menaburkannya ke telaga  itu dan dengan sepotong kayu yang bersih secara berlahan ia mengaduknya, nakk... kemarilah coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” 

Saat si pemuda meneguk air telaga itu, pak tua bertanya lagi, “ bagaimana rasanya nak?”

“ segar, “ sahut sang pemuda.

Apakah kamu merasakan pahit dalam air itu? tanya pak tua. “ tidak “ jawab si pemuda.

Pak tua pun tertawa sambil berkata, “ anak muda,..dengarkan baik-baik, pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun akan sama dan memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. “ (sumber : www.situs-motivasi.blogspot.com) 

Satu hal yang tidak akan mungkin luput dalam kehidupan kita adalah masalah atau persoalan hidup. ia akan selalu hadir kapanpun dan dimanapun menghampiri kita, bahkan masalah adalah bumbu kehidupan yang memberi aroma dan rasa dalam perjalanan hidup kita. maka manusia harus selalu siap menghadapinya bukan lari dan menghindarinya. bila manusia lari dari masalah maka ia akan menjadi beban pikiran yang berkelanjutan secara terus menerus.

Sebenarnya dengan masalah akan menjadikan kedewasaan seseorang, dengan masalah seseorang bisa menemukan hal-hal yang tak terduga, hal yang tak terduga itu bisa berupa ilmu maupun rizki yang berlimpah. Lihatlah saudara-saudara kita yang tersandung masalah, kemudian mereka tegar menghadapinya dengan ihtiar mencari solusi. ternyata Allah pun tidak akan tinggal diam, Dia akan menuntun dan memberi petunjuk. maka siapakah sebaik-baik penuntun dan pemberi petunjuk? Asal kita memohonya, Allah pasti akan memberi jalan keluar bagi hamba-hambahnya.

Kalau kita cermati secara seksama dengan persoalan yang sama ternyata seseorang bisa menghadapinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menghadapi masalah dengan cemas, takut, marah-marah dan stress, tetapi ada juga yang menghadapinya dengan santai, tenang, bahkan ada yang menikmatinya sebagai sarana peningkatan kesabaran.

Berarti memang suatu masalah sesungguhnya bukan terletak pada problemnya, tetapi cara pandang dan sikap kita terhadap persoalan tersebut, kalau masalah itu kita jadikan rumit maka rumitlah persolan itu, tapi kalau persolan itu kita bikin mudah, maka mudahlah dalam menyelesaikanya. Jadi saat kita merasakan kepahitan, kegagalan, dan kekecewaan dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kita lakukan yakni melapangkan dada dan meluaskan hati kita. kita jadikan hati kita laksana samudra yang tiada bertepi,  Samudra hati akan mampu menampung semua kepahitan, kekecewaan dan beban dalam hidup.

Masalah hidup pasti akan selalu hadir mengiringi langkah-langkah kita, tetapi percayalah akan ada kemudahan setelah kesusahan, ada kesejahteraan setelah kesengsaraan, ada penghibur dalam setiap bencana, ada kunci bagi pintu yang tertutup rapat.

Inilah kabar gembira untuk mereka yang tetap tersenyum dalam menghadapi hidupnya. segala sesuatu pasti ada batasanya, setiap penyakit ada obatnya, disetiap masalah akan ditemukan jalan keluarnya, itulah kebijaksanaan dan kekuasaan Allah yang berlaku dan tak kan terelakkan. Jadi, kita tidak usah cemas dan galau sebab bersama kesusahan ada kemudahan. Sekali lagi, kita tidak perlu putus asa atas ujiannya, sebab bersama ada kesulitan itu benar-benar ada kemudahan. Bukan Cuma satu kemudahan, tapi dua.

Hati laksana wadah, dan perasaan adalah tempatnya. hati kita adalah tempat umtuk menampung segalanya, kalau hati kita jadikan seperti cangkir, maka kita akan didera kepahitan dan kekecewaan dalam hidup. tetapi kalau kita jadikan hati laksana samudra maka ia akan mampu menampung racun kekecewaan, dan sampah kesedihan dengan senyuman. demikian pula kalau dihina, di caci maki atau di kritik yang tidak menyenangkan. Maka hati laksana samudra ini akan mampu menerima dengan jiwa lapang dan ikhlas. Hinaan dan cacian ia anggap ujian kesabaran, datangnya kritikan tajam adalah bentuk kepedulian dan nasehat dari saudaranya. Sungguh indah dan menakjubkan yang memiliki hati seperti samudra . “ Wallahu ‘alamu bish-showab ”

Pencerahan:

Apabila tali terentang kuat, bersiaplah karena ia akan putus. Apabila malam gelap gulita, ia akan segera berlalu karena fajar segera menyapa. Apabila tetes-tetes air terkumpul di awan, percayalah ia akan segera hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu