Konsultasi Agama: Beramal Pahalanya Untuk Mayit | Berita Populer Lazismu

 

Drs H Imanan. (Dok Lazismu)

BERAMAL (SEDEKAH, QURBAN, HAJI, PUASA DLL) PAHALANYA UNTUK MAYIT 


Assalamu'alaikum Wr Wb.

Maaf ustadz Imanan mohon pencerahan mengenai badal haji dan tata cara pelaksanaannya? Sekalian ustadz mohon pencerahan untuk qurban bagi orang yang sudah meninggal. Misalnya berqurban atas nama ayah/bunda. 

(Pertanyaan lewat WA dari jamaah masijd Al Muqarabin Kedung Anyar Surabaya).


Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Penanya yang budiman, terimakasih atas pertanyaannya.

Dalam masalah beramal yang pahalanya untuk orang yang meninggal dunia ini terjadi khilafiyah di kalangan ulama, ada yang membolehkan dan pahala bisa sampai ke si mayit, dan ada yang tidak membolehkan, dan pahalanya tidak akan sampai ke mayit. Baiklah kami akan mencoba untuk memaparkan dan membahas tentang hal tersebut.

Penanya yang budiman, ada pendekatan Kaidah Ushuliyah (Kaidah Ushuliyah Lughawiyah) dalam membahas masalah ini. 

Imam Al-Qarafi dalam kitabnya Al-Furuq mendefinisikan Kaidah Ushuliyah sebagai kaidah mengenai hukum yang muncul dari lafadh-lafadh bahasa Arab (dalam nash Al-Qur'an dan hadits).

Maka dalam membahas masalah ini, yaitu kita menggunakan:

1. Pendekatan maqhasid syariah (tujuan disyariatkan) yaitu keadilan 

2. Pendekatan manthuq sharih (makna nash/teks yang tertulis) dan mafhum mukhalafah (memahami makna sebaliknya) ayat secara maudlui.

3. Menggunakan istiqra maknawi (membaca dan memahami makna dalil) terhadap ayat-ayat dan hadits

4. Metode taarud al adillah (arti secara dhahir dalil yang bertentangan) dengan mentakwil dalalah/dilalah hadits yang bertentangan baik dengan dilalah/dalalah al-Quran maupun hadits yang mendukung ayat.

Sebagai jalan thoriqotul jam'i. Dan secara wurud al-Quran lebih qoth’i secara dilalah/dalalah (petunjuk dalil) ayat al-Quran dikuatkan oleh hadits lain yang shahih. Sehingga yang ditakwil bukanlah al-Quran, tapi hadits yang dalalahnya/dilalahnya secara dhahir bertentangan dengan al-Qur'an.

Yang perlu kita pahami salah satu prinsip utama dalam Islam adalah keadilan. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan perbuatannya, perbuatan baik akan memperoleh pahala dan perbuatan buruk akan mendapatkan dosa atau hukuman dari Alloh sesuai dengan amalannya masing-masing ketika hidup di dunia. Tidak ada seorangpun yang akan didhalimi terkait dengan balasan tersebut. Setiap orang mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing, sebagaimana firman Alloh Ta'ala,

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39)

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,  dan bahwasanya seorang manusia tidaklah memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (QS. An-Najm : 38-39)

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (QS. Fathir: 18)

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah: 281).

Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara, sebagaimana hadits berikut ini,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shaleh” (HR. Muslim, 5/73).

Jadi ayat-ayat dan hadits di atas sangat jelas bahwa amalan (pahala dan dosa)  ketika seseorang sudah meninggal maka sudah terputus, kecuali 3 hal sebagaimana yang diterangkan oleh hadits tersebut di atas.

Adapun terkait dengan hadits yang dianggap kebolehan sedekah kepada orang yang sudah meninggal berdasarkan hadits dari 'Aisyah ra;

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba dan tidak memberikan wasiat, dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya? Beliau menjawab, “Ya, (HR. Muslim, 2/696).

Memahami maksud hadits diatas menurut kami bukanlah sebagai dalil sedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia dalam arti mentransfer pahala dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal. Karena jika difahami demikian akan bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran yang jelas-jelas penunjukan dilalahnya/dalalahnya (petunjuk dalil) terkait ketiadaaan transfer pahala maupun dosa kepada si mayit. 

Adapun makna dari hadits diatas adalah maksudnya in sya Alloh dalam konteks birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua. Ketika seseorang bersedekah, maka pahala sedekahnya tetap kembali kepada orang yang beramal tersebut. Adapun orang tua, baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal, in sya Alloh akan mendapatkan pahala dari si anak, karena orang tua telah mendidik anak tersebut mejadi anak yang shaleh. Begitupula yang kami pahami dari hadits-hadits yang lain, misalnya hadits yang dianggap sebagai dalil badal haji, kami memahami dalam konteks birrul walidain, bukan sebagai transfer pahala haji.

Dalam hadits lain ditegaskan pula bahwa anak adalah hasil dari usaha orang tuanya

“إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ”

“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah hasil usahanya”. (HR. Ibnu Majah, 3/269).

Dengan demikian kesimpulannya adalah:

Pertama, setiap orang kelak di akhirat bertanggungjawab terhadap amalnya sendiri-sendiri.

Kedua, tidak ada transfer pahala maupun dosa dalam Islam. Karena setiap orang akan bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya masing-masing. 

Ketiga, berbuat kebaikan dan amal shaleh dari anak shaleh merupakan bentuk birrul walidain kepada orang tuanya, sehingga bisa menjadi amal jariyah bagi kedua orang tuanya.


Demikian penjelasan singkat dari kami, semoga bisa mencerahkan.

Wallohu a'lam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu