Konsultasi Agama Lazismu: Hukum Kencing Sambil Berdiri : Berita Populer Lazismu

 

Ustadz H Imanan, SAg. (Dok Lazismu)


Hukum Kencing Sambil Berdiri

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz saya mau bertanya, bagaimana hukum kencing berdiri, apakah ada hadits yang shahih? Terima kasih penjelasannya (Dari jama'ah masjid Al Maarif Kenjeran Surabaya) 

Jawaban :

Wa'alaikumussalam Warahmatullohi Wabarakuh.

Penanya yang budiman, pada asalnya, buang air kecil hendaknya dilakukan dalam kondisi sambil duduk, karena lebih hati-hati dari percikan air kencing. Adapun mengenai hukum kencing sambil berdiri ini, sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah boleh. Namun dengan memperhatikan dua syarat berikut:

1. Aman dari terkena percikan najis.

2. Aurat tertutup dari pandangan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin menerangkan,

والبول قائمًا جائز، ولا سيَّما إذا كان لحاجة، ولكن بشرطين: الأوَّل: أن يأمن التلويث. الثاني: أن يأمن الناظر

“Kencing sambil berdiri hukumnya boleh. Terlebih bila ada kebutuhan. Akan tetapi dengan dua syarat pertama aman dari terkena najis, kedua aman dari pandangan orang lain.” (Syarah al Mumti’ 1/115-116).

Bila dikhawatirkan air seni akan terpercik pada pakaian atau badan, maka tidak boleh. Karena diantara sebab adzab kubur, adalah tidak menjaga dari percikan air kencing disebabkan karena kecerobohan.

Rasululloh  shallallohu alaihi wa sallam bersabda,

إنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ، بَلَى إنَّهُ كَبِيْرٌ: أمَّا أَحَدُهُمَا، فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ، وَأمَّا الآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

“Sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena perkara yang susah ditinggalkan. Namun sesungguhnya itu adalah perkara besar! Untuk yang pertama, dia suka melakukan adu domba, sedang yang kedua, ia tidak menjaga diri dari air kencingnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallohu’anhuma).

Demikian pula aurat, wajib tertutup dari pandangan orang lain. Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah radhiyallohu ‘anhu. Bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tentang auratnya; kapan wajib ditutup dan kapan boleh ditampakkan. Kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مما مَلَكَتْ يَمينُكَ

“Jaga auratmu, kecuali untuk istrimu atau budakmu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya kencing sambil berdiri, adalah hadits dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallohu’anhu, beliau menceritakan,

أتَى النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم سباطةَ قومٍ، فبال قائمًا، ثم دعا بماءٍ، فجئتُه بماءٍ، فتوضَّأ.

“Nabi shallallohu alaihi wa sallam mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum. Lalu beliau buang air seni dengan berdiri ditempat tersebut. Kemudian beliau meminta diambilkan air. Aku bawakan untuk beliau air, lalu beliau berwudhu. ” (HR. Bukhari).

Namun terdapat hadits lain derajatnya juga shahih, yang mengabarkan bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kencing dengan berdiri. Yaitu hadits dari Ibunda Aisyah radhiyallohu’anha, dimana beliau mengatakan,

من حدثكم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بال قائماً فلا تصدقوه

“Siapa saja yang mengabarkan kepada kalian bahwa Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam kencing dengan berdiri, maka jangan percaya.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan).

Kemudian Bagaimana Menggabungkan Dua Hadits Ini?

Ada beberapa langkah yang ditempuh para ulama dalam memahami dua hadits di atas.

Pertama, hadits  dari Aisyah di atas tidak bisa dijadikan dalil secara mutlak untuk larangan kencing sambil berdiri. Karena Aisyah mengatakan berdasarkan apa yang beliau ketahui ketika Nabi shallallohu alaihi wa sallam berada di dalam rumah. Ini tidak menutup kemungkinan bila beliau shallallohu alaihi wa sallam melakukan yang berbeda di luar rumah. Sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan dalil larangan secara umum.

Kedua, dalam kaidah Ushul Fikih diterangkan,

أن المثبت مقدم على النافي

“Dalil yang menyatakan adanya perbuatan, lebih didahulukan daripada dalil yang meniadakan.”

Kabar dari sahabat Hudzaifah, menyatakan bahwa Nabi  shallallohu alaihi wa sallam pernah kencing berdiri. Adapun keterangan dari Ibunda Aisyah, meniadakan informasi tersebut. Maka berdasarkan kaidah ini, keterangan dari Hudzaifah, lebih didahulukan daripada hadits Aisyah yang meniadakan.

Sederhananya kita katakan, seseorang yang tidak mengetahui, belum tentu hal tersebut tidak ada. Karena kesimpulan tersebut berdasarkan sebatas apa yang dia ketahui. Sehingga tidak menutup kemungkinan, ada pengetahuan lain dari sumber lain, yang menyanggahnya. Dalam masalah ini, sahabat Hudzaifah memiliki ilmu, bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Jadi, ilmu Hudzaifah ini sebagai sanggahan untuk Ibunda Aisyah yang tidak mengetahui hal ini. Sehingga disimpulkan bahwa kencing berdiri hukumnya adalah mubah (boleh).

Ketiga, mengingat terdapat dua hadits yang nampak bertolak belakang, dan sama-sama derajatnya shahih, maka, keterangan dari Ibunda Aisyah tersebut dipahami yang sering dilakukan oleh Nabi shallallohu alaihi wa sallam ketika kencing adalah dengan posisi duduk. Sehingga yang lebih utama, kencing dilakukan dengan cara duduk. Disamping posisi ini lebih aman dari tersebarnya najis, juga lebih memudahkan menutupi aurat.

Keempat, Nabi shallallohu alaihi wa sallam melakukan demikian untuk menjelaskan kepada umatnya, bahwa kencing dengan duduk adalah anjuran. Bukan perbuatan yang hukumnya wajib.

Ibnu Hajar al Asqalani rahimahulloh mengatakan,

والأظهر أنه فعل ذلك لبيان الجواز وكان أكثر أحواله البول عن قعود والله أعلم

“Yang lebih tepat (perihal alasan) beliau melakukan demikian (yakni kencing sambil berdiri), untuk menjelaskan bolehnya kencing sambil berdiri. Dan yang sering beliau lakukan ketika kencing adalah dengan duduk. Wallohua’lam.” (Fathul Bari 1/563).

Syaikh Bin  Baz rahimahulloh menerangkan,

لا حرج في البول قائما ،لاسيما عند الحاجة إليه ، إذا كان المكان مستورا لا يرى فيه أحد عورة البائل ، ولا يناله شيء من رشاش البول ، لما ثبت عن حذيفة رضي الله عنه : ( أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى سباطة قوم فبال قائما ) متفق على صحته ، ولكن الأفضل البول عن جلوس ؛ لأن هذا هو الغالب من فعل النبي صلى الله عليه وسلم ، وأستر للعورة ، وأبعد عن الإصابة بشيء من رشاش البول 

“Tidak mengapa kencing dengan posisi berdiri. Terlebih ketika dibutuhkan. Dengan catatan, tempat untuk buang hajat tersebut benar-benar tertutup. Sehingga tak seorangpun yang melihat aurat orang yang kencing tersebut. Selanjutnya, tidak menyebabkan terkena percikan air kencing. Dalilnya adalah riwayat dari Hudzaifah radhiyallohu’anhu, beliau mengatakan, “Bahwa Nabi shallallohu alaihi wa sallam memasuki tempat pembuangan sampha suatu kaum. Lalu beliau kencing dengan berdiri.” Para ulama sepakat akan kesahihan hadits ini. Akan tetapi yang lebih afdhal, kencing itu dilakukan dengan cara duduk. Karena demikianlah yang sering dilakukan Nabi Shallallohu alaihi wa sallam. Dan ini lebih menutupi aurat, dan lebih aman dari terkena percikan ari kencing.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 6/352).

Mengingat dua pertimbangan di atas, maka sebaiknya kencing di lakukan di WC duduk yang tertutup. Karena WC berdiri seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, tidak aman dari percikan najis dan aurat tidak aman dari pandangan. 

Demikian penjelasan kami, semoga bisa mencerahkan

Wallohua’lam bish- Shawab. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu