Konsulkes Lazismu: Vaksinasi COVID-19 | Berita Populer Lazismu

 

dr Tjatur Prijambodo, M.Kes. (Dok Lazismu)


TANYA :

Assalamu'alaikum Wr Wb. 

Pengasuh Konsultasi Kesehatan Lazismu Surabaya yang dirahmati Allah. Saat ini masyarakat dihebohkan dengan Pro Kontra Vaksin secara umum, terutama Vaksin Covid. Ada pertanyaan yang cukup mengganjal, Vaksinnya efektifkah, amankah dan halalkah? Mohon penjelasannya. 

habibie8080@gmail.com


JAWAB:

Wa'alaikumussalam Wr Wb. 

Pak Habibie yang lagi bingung. Sebelum membicarakan pro kontra Vaksinasi, ada baiknya kita memahami seluk-beluknya. Vaksinasi adalah sebuah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap penyakit tertentu. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. Bayi yang baru lahir memang sudah memiliki antibodi alami yang disebut kekebalan pasif. Antibodi tersebut didapatkan dari ibunya saat bayi masih di dalam kandungan. Kekebalan ini hanya dapat bertahan beberapa minggu atau bulan saja. Setelah itu, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai jenis penyakit. 

Vaksinasi mendapatkan reaksi yang berbeda dari masyarakat. Ada yang kontra, ada pula yang pro. Yang kontra, menyatakan bahwa Vaksin haram karena menggunakan media Babi (Katalisator), efek samping yang membahayakan, lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap orang. Ini hanya konspirasi dan akal-akalan Negara Barat karena merupakan bisnis besar di balik program ini. Vaksinasi menyingkirkan metode pengobatan dan pencegahan Muslim: Madu, Minyak Zaitun, Kurma, dan Habbatussauda. Serta adanya beberapa laporan bahwa anak mereka yang tidak di-vaksinasi masih tetap sehat (atau sebaliknya). Sementara yang pro, beranggapan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, dimana vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah, sesuai Al Baqarah 195: dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Walaupun kekebalan tubuh sudah ada, akan tetapi kita hidup di negara berkembang yang notabene standar kesehatan lingkungan masih rendah. Efek samping yang membahayakan bisa diminimalisasikan. Negara barat memang ada yang sudah tidak lagi menggunakan vaksinasi tertentu, karena standar kesehatan mereka sudah tinggi. 

Dalam proses pembuatan vaksin, enzim tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein). Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. Fiqih klasik mengenal apa yang disebut dengan Istihalah, yaitu perubahan hukum suatu hal ke hal lain. Fiqh juga mengenal teori Istihlak. Yang dimaksud Istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lain yang suci dan halal yang jumlahnya lebih banyak, sehingga menghilangkan sifat najis dan keharaman benda yang sebelumnya najis, baik rasa, warna, maupun baunya. Kalau kedua teori di atas (istihalah dan istihlak) tidak mau diterima, maka ada satu teori tersisa yaitu teori darurat. Dasarnya adalah ayat di bawah ini: "Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) padahal ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas maka ia tidak berdosa. (QS.Al-Baqarah:173).

Ushul Fiqh, mendefinisikan darurat sebagai suatu keadaan yang memaksa untuk mengomsumsi sesuatu yang telah dilarang namun dilakukan juga dalam rangka mempertahankan nyawa, atau khawatir akan kehilangan harta atau karena kebutuhan pokok seseorang terancam jika dia tidak mempertahankannya kecuali dengan melakukan sesuatu yang dilarang tanpa mengganggu hak orang lain. Fatwa MUI juga menyatakan tentang kehalalan Vaksin tersebut. 

Bagaimana dengan Vaksin Covid? Setelah melewati Uji Klinis tahap 3 dan dengan keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 02 Tahun 2021 tentang Produk Vaksin Covid-19, tertanggal 11 Januari 2021 yang menyatakan bahwa Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Co. ltd China dan PT. Bio Farma (Persero) hukumnya suci dan halal; dan boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten. Disusul dengan surat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) tertanggal 11 Januari 2021 telah secara resmi menerbitkan Persetujuan Penggunaan Vaksin Covid. Artinya Vaksin ini telah terbukti efektif, aman, bermutu dan halal.  Kenapa Sinovac? Setidaknya ada empat pertimbangan yaitu berada dalam daftar vaksin yang sudah disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ketersediaan vaksin, adanya ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, serta terdapat juga transfer teknologi dalam hal pengujian yang dibutuhkan. 

Bagaimana sikap kita sebagai warganegara Indonesia? Wajib imunisasi yang dicanangkan pemerintah, bukan wajib secara mutlak. Belum ada peraturan pemerintah atau undang-undang khusus yang mengatur secara jelas, tegas, tentang kewajiban imunisasi, hukuman, serta kejelasan penerapan hukuman. Imunisasi dan vaksin mubah, silahkan jika ingin melakukan imunisasi jika sesuai dengan keyakinan. Silahkan jika menolak imunisasi sesuai dengan keyakinan dan hal ini tidak berdosa secara syariat. Silahkan sesuai keyakinan masing-masing. Yang terpenting jangan salah menyalahkan dan jangan berpecah-belah hanya karena permasalahan ini. 

Bagaimana sikap kita sebagai warga Muhammadiyah? Dalam rangka Meningkatkan Kewaspadaan, Kehati-hatian, dan Upaya Pencegahan serta Peredaman Penularan Covid-19 (Lampiran 1 Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 08/I.0/F/2020 tanggal 24 Muharam 1442 H/12 September 2020 M) dan hasil pertemuan dengan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) pada hari Selasa, 28 Jumadil awal 1442 H bertepatan dengan 12 Januari 2021, maka Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/PER/1.0/H/2020 tentang Pelaksanaan Program Vaksinasi sebagai Upaya Penanganan Pandemi Covid-19 adalah merupakan Sikap resmi Muhammadiyah tentang vaksinasi Covid-19 dan ditindaklanjuti dengan Tuntunan Majelis Tarjih PPM tentang Vaksinasi untuk Pencegahan Covid-19 agar dapat menjadi panduan bagi warga Persyarikatan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya (13 Januari 2021). Maka sudah selayaknya kita sami'na wa atho'na sebagai bentuk komitmen warga Muhammadiyah. Semoga ada manfaatnya. (dr Tjatur Prijambodo, Direktur RS 'Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu