Apakah Boleh Shalat Fardhu di Kendaraan | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz H Imanan. (Dok Lazismu)


Apakah Boleh Shalat Fardhu di Kendaraan?

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak ustadz maaf saya mau bertanya, saya ini dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogyakarta, berangkat dari Jakarta jam 11 malam sampai di Jogyakarta jam 5 pagi, kira-kira pada waktu shubuh jam 4.30  saya mau shalat shubuh di atas kereta api yang sedang berjalan, saya diberitahu (seseorang) tidak ada dalilnya untuk melaksanakan shalat di atas kereta yang sedang berjalan, jadi  saya tidak jadi shalat shubuh, mohon penjelasannya pak ustadz dan terimaksih. (Dari jama'ah masjid Al Furqan Kapas madya/lewat WA)

Jawaban :

Wa'alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh,

Saudara penanya yang budiman terimakasih atas pertanyaannya. 

Perlu kita pahami bahwa Islam itu adalah agama yang mudah, ketika ada kesulitan, maka muncul kemudahan. Demikian juga dalam hal shalat ketika berkendaraan, seseorang diberikan kemudahan jika memang ada kesulitan. Para ulama menyebutkan udzur-udzur atau penghalang-penghalang yang membuat seseorang boleh shalat di atas kendaraan. Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: “jika orang yang sedang berkendara itu mendapatkan kesulitan jika turun dari kendaraannya, misal karena hujan lebat dan daratan berlumpur, atau khawatir terhadap kendaraannya jika ia turun, atau khawatir terhadap harta benda yang dibawanya jika ia turun, atau khawatir terhadap dirinya sendiri jika ia turun, misalnya karena ada musuh atau binatang buas, dalam semua keadaan ini ia boleh shalat di atas kendaraannya baik berupa hewan tunggangan atau lainnya tanpa turun ke darat” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 235).

Diantara udzur yang membolehkan juga adalah khawatir luputnya atau habisnya waktu shalat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika ditanya mengenai hukum shalat di pesawat beliau menjelaskan: “shalat di pesawat jika memang tidak mungkin mendarat sebelum berakhirnya waktu shalat, atau tidak mendarat sebelum berakhirnya shalat kedua yang masih mungkin di jamak, maka saya katakan: shalat dalam keadaan demikian wajib hukumnya dan tidak boleh menundanya hingga keluar dari waktunya”. Beliau juga mengatakan: “adapun jika masih memungkinkan mendarat sebelum berakhir waktu shalat yang sekarang, atau sebelum berakhir waktu shalat selanjutnya dan memungkinkan untuk dijamak, maka tidak boleh shalat di pesawat karena shalat di pesawat itu tidak bisa menunaikan semua hal wajib dalam shalat. Jika memang demikian keadaannya maka hendaknya menunda shalat hingga mendarat lalu shalat di darat hingga benar pelaksanaannya” (Majmu’ Fatawa War Rasa-il, fatwa no.1079).

Penanya yang budiman, melaksanakan shalat fardhu (wajib) adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Namun ada beberapa kondisi di mana seseorang mendapatkan rukhsah atau keringanan dalam menjalankan ibadah. Misalkan untuk musafir atau orang yang sedang melaksanakan safar (perjalanan).

Bagi orang yang melakukan perjalanan, ia boleh menjamak dan mengqashor shalat. Selain itu, bisa juga mendirikan shalat di atas kendaraan.

Namun hal ini boleh dilakukan jika ada udzur yang dibenarkan dalam Islam. Misalkan saja takut akan keluarnya waktu shalat sebelum sampai di tujuan. Atau ketika tidak memungkinkan untuk menghentikan kendaraan selama di perjalanan.

Hal inilah yang menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan konsep kemudahan dan tidak menyulitkan kaumnya. Jadi, sangat penting untuk memahami bagaimana tata cara shalat wajib di atas kendaraan ketika sedang melaksanakan perjalanan.

Dasar tentang melakukan shalat di atas kendaraan memang ada haditsnya. Bahwa Rasululloh shallallohu  'alaihi wa sallam sendiri  pernah shalat di atas punggung unta. Selain itu juga ada keterangan perintah beliau untuk shalat di atas kapal laut, di antaranya adalah hadits-hadits berikut :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَل فَاسْتَقْبَل الْقِبْلَةَ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallohu'anhu bahwa Nabi shallallohu  'alaihi wa sallam shalat di atas kendaraannya menuju ke arah Timur. Namun ketika beliau mau shalat wajib, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

عَنْ جَابِرٍ كَانَ رَسُول اللَّهِ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَل فَاسْتَقْبَل الْقِبْلَةَ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallohu'anhu bahwa Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam shalat di atas kendaraannya, menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila shalat yang fardhu, beliau turun dan shalat menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

إِنَّ رَسُول اللَّهِ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ

Sesungguhnya Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam melakukan shalat witir di atas untanya. (HR. Bukhari)

Sebuah hadits menceritakan bahwa Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam  memerintahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib untuk melakukan shalat di atas perahu atau kapal laut, ketika menuju ke negeri Habasyah.

أَنَّ النَّبِيَّ لَمَّا بَعَثَ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ إِلَى الْحَبَشَةِ أَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ فِي السَّفِينَةِ قَائِمًا إِلاَّ أَنْ يَخَافَ الْغَرَقَ

Bahwa Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam  ketika mengutus Ja'far bin Abi Thalib radhiyallohu'anhu ke Habasyah, memerintahkan untuk shalat di atas kapal laut dengan berdiri, kecuali bila takut tenggelam. (HR. Al-Haitsami dan Al-Bazzar)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبيِ عَتَبَة قَالَ: صَحِبْتُ جاَبِرَ بًنِ عَبْدِ اللهِ وَأَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِي وَأَبَا هُرَيْرَةَ فيِ سَفِيْنَةٍ فَصَلُّوا قِيَامًا فيِ جَمَاعَةٍ أَمَّهُمْ بَعْضُهُمْ

Dari Abdulloh bin Atabah berkata, "Aku menemani Jabir bin Abdulloh, Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah naik kapal laut. Mereka shalat berjamah dengan berdiri, salah seorang menjadi imam buat yang lainnya. (HR. Said bin Manshur)

Dalam sebuah hadits, Ibnu Abbas bertanya kepada Rasululloh Shallallohu’alaihi Wasallam:

يا رسولَ اللهِ كيف أُصَلّي في السفينَةِ قال صلّ فيها قائما إلا أن تخافَ الغرقَ

“Wahai Rasululloh, bagaimana cara shalat di atas perahu? beliau bersabda: 'shalatlah di dalamnya sambil berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam' (HR. Ad Daruquthni, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami ).

Juga ada riwayat dari Ya'la bin Murrah radhiyallohu 'anhu, menceritakan bahwa Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam bersama para sahabat berada di sebuah daerah yang sempit ketika safar dan Nabi di atas kendaraan. Ketika itu turun hujan, dan suasana tanah becek di bawah mereka. Kemudian datanglah waktu shalat. Nabi memerintahkan muadzin untuk adzan dan iqamah. Kemudian Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam maju dengan hewan tunggangannya dan mengimami mereka. Nabi shalat dengan isyarat kepala, dimana sujudnya lebih rendah dari pada rukuknya. (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas menunjuklkan bahwa dalam melaksanakan shalat fardhu harus menghadap kiblat dan berdiri kecuali ada udzur syar’i. Dengan demikian, shalat fardhu harus dilaksanakan dengan sempurna sebagaimana mesti shalat itu dilaksanakan. Hal ini bisa kita pahami dari kalimat bahwa Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam turun dari tunggangannya ketika hendak melakukan shalat fardhu. Turunnya beliau ini dimaksudkan agar beliau dapat melakukan shalat fardhu dengan sempurna, yakni dengan menghadap kiblat, berdiri, ruku’, dan sujud secara benar. Namun demikian melihat realita di lapangan sering kali terjadi beberapa kemungkinan yang menjadikan seseorang mungkin atau tidak mungkin melakukan shalat fardhu dengan sempurna, yaitu karena dalam perjalanan di atas kendaraan.

Kemudian ada beberapa ketentuan dalam melaksanakan shalat di atas kendaraan. Hal ini didasarkan pada kondisi dan kesulitan setiap muslim saat berada di perjalanan. Jika diuraikan, maka ketentuannya sebagai berikut: 

1. Shalat wajib harus dilakukan dengan cara sempurna, yaitu dengan berdiri, bisa rukuk, bisa sujud, dan menghadap kiblat. Jika di atas sebuah kendaraan seseorang bisa shalat sambil berdiri, bisa rukuk, bisa sujud, dan menghadap kiblat maka dia boleh shalat wajib di atas kendaraan tersebut. Contohnya untuk orang yang shalat di kapal dan masih bisa shalat berdiri.

2. Jika di atas sebuah kendaraan seseorang tidak memungkinkan untuk shalat sambil berdiri dan menghadap kiblat, maka ia diperbolehkan melakukan shalat di atas kendaraan apabila memenuhi dua syarat, yakni khawatir keluar waktu shalat sebelum sampai di tempat tujuan dan tidak mungkin menghentikan kendaraan untuk melaksakan shalat. Contohnya seperti orang yang melakukan perjalan dengan kereta api atau pesawat.

3. Jika tidak bisa shalat sambil berdiri, cara shalat yang dibolehkan adalah duduk semampunya. Sebagaimana hadits dari Imran bin Husain radhiyallohu 'anhu, Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda: 

‏صل قائماً، فإن لم تستطع فقاعداً، فإن لم تستطع فعلى جنب

"Shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu, sambil duduk, dan jika tidak mampu shalatlah sambil tiduran." (HR Bukhari)

4. Jika di atas kendaraan mampu shalat sambil menghadap kiblat maka wajib shalat dengan menghadap kiblat, meskipun sambil duduk. Namun jika tidak memungkinkan menghadap kiblat, ia bisa shalat dengan menghadap sesuai arah kendaraan. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallohu 'anhuma mengatakan, bahwa Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunah di atas kendaraan tanpa menghadap kiblat. (HR. Bukhari)

Setelah mengetahui ketentuannya di atas, maka tata cara shalat di atas kendaraan ini akan menjelaskan posisi saat duduk. Adapun caranya sebagai berikut:

1.Duduk dengan posisi yang tegak. Bisa juga dengan menyandarkan punggung ke kursi.

2. Arahkan pandangan ke depan bagian bawah.

3. Tabiratul Ikhram seperti biasa dan lanjutkan membaca doa iftitah, Al Fatihah, dan ayat Al quran.

4. Rukuk dengan sedikit menundukkan badan.

5. I'tidal dengan isyarat kembali keposisi awal, yakni duduk dengan tegak.

6. Ketika sujud, tundukkan posisi lebih ke bawah daripada saat rukuk.

7. Duduk di antara dua sujud juga kembali keposisi awal dan membaca doa.

8. Lakukan hal yang sama untuk rakaat selanjutnya.

9. Akhiri dengan salam dengan menengokkan kepala ke kanan dan kiri.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bisa mencerahkan.

Wallohu a;lam bish-shawab.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu