Protokol Kesehatan dan Lintas Disiplin | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Andi Hariyadi, MPdI (Dok Lazismu)


Protokol Kesehatan dan Lintas Disiplin


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya." (QS. Fussilat 41: Ayat 8)

Sudah setahun ini pandemi Covid-19 masih terjadi, berbagai upaya pengobatan dan pencegahan terus dilakukan, meski jumlah korban yang terpapar hingga meninggal maupun yang sembuh terus ada, upaya penerapan protokol kesehatan tetap dilakukan. Kedisiplinan ini sangat berarti agar pemutusan mata rantai persebaran virus  bisa maksimal, sambil melakukan vaksinasi sebagai upaya menjaga kesehatan.

Ada banyak dinamika yang bisa dirasakan dan saksikan disaat pandemi ini, mulai dari bagaimana mensikapi pandemi Covid-19 terhadap aktivitas ibadah, pendidikan, bekerja, berkeluarga dan lainnya, serta bagaimana bentuk kepedulian yang bisa diberikan baik kepada penderita, keluarganya serta masyarakat disekitarnya,  sehingga beragam pengalaman itu mempengaruhi persepsi sekaligus interpretasi, ada yang bersifat subyektif karena minimnya wawasan dan disiplin keilmuan, ada yang bersifat obyektif karena memiliki pandangan yang lebih luas dengan disiplin ilmu pengetahuan yang memadai. Dua kondisi ini sering saling berhadapan bukan untuk dipadukan, justru dijadikan alasan klaim kebenaran sepihak, sehingga semangat ukhuwah yang harusnya lebih dikedepankan akhirnya menjadi fitnah dan permusuhan, lebih – lebih dengan  penggunaan media sosial, derasnya informasi yang dishare kadang kala tanpa disaring dan ditimbang yang penting sesuai subyektifitasnya, berita hoax menjadi komuditi konsumsi kesehariannya. Ibarat kita ini sudah jatuh terperosok pada suatu lubang  ternyata terperosok pada lubang yang sama, semestinya kita sudah tahu atas persoalan ini tetapi dengan perjalanan waktu yang ada telah merubah cara pandang dan berpikir yang jernih, sepertinya lebih tahu dan itu dibanggakan pada hal justru yang demikian semakin menunjukkan betapa minimnya wawasan.

Disiplin penerapan protokol kesehatan dengan 5 M : Menggunakan Masker, Mencuci tangan pakai sabun, Menjaga jarak, Menghindari kerumunan, dan Mengurangi mobilitas, telah menjadi sasaran ketidakpercayaan setelah sebelumnya pada virus Coronanya. Argumentasi yang dibangun atas ketidakpercayaan ini lagi lagi pada minimnya disiplin ilmu, wawasan yang terbatas, menutupi dan menolak atas narasi sekitar penanganan Covid, dengan penuh percaya diri yang cenderung pada kesombongan kekeh dengan sikap dan pandangan subyektifnya. Kita benar benar prihatin atas kondisi ini, sudah setahun pandemi covid-19 terjalani dengan berbagai dampaknya bukannya membuka cara pandang, cara berpikir dan bersikap yang lebih akomodatif, justru semakin demonstratif untuk tidak menggunakan masker dan protokol kesehatan lainnya. 


Perkembangan permasalahan disekitar pandemi Covid-19 ini tidak hanya pada aspek kesehatan dan kemanusiaan saja, tetapi juga pada aspek pemikiran dan ini bisa jadi datanya  melebihi dari pada jumlah yang terpapar. Maka dari Al Qur’an surat Fushilat ayat 8 itu, kita diberi petunjuk oleh Allah SWT,  bahwa posisi dan peran orang beriman dan beramal soleh itu mendapat pahala yang tidak ada putusnya, karena imannya tidak sekedar pada aspek keyakinan saja, tetapi mampu diimplementasikan dengan berbagai bentuk amal soleh baik pada aksi kesehatan dan kemanusiaan maupun aksi pencerahan pemikiran khususnya pada penanganan Covid-19. Sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Amin Abdullah, dalam bukunya Multidisiplin, Interdisiplin & Transdisiplin Metode Studi Agama & Studi Islam di Era Kontemporer, disebutkan “ Dalam situasi dunia dan negara mewajibkan warga secara keseluruhan untuk menghindari dan mencegah penyebaran wabah pandemi virus Corona. Di mana bantuan sains kedokteran, farmasi, kesehatan, dan keperawatan sangat diperlukan, maka memprioritaskan corak berpikir dan beragama progresif dengan semangat solidaritas kemanusiaan dan gotong royong adalah sangat diperlukan dan menjadi prioritas. Kolaborasi dan integrasi antara disiplin ilmu sangat diperlukan untuk memecah kebekuan dan memecahkan berbagai macam kompleksitas kehidupan”.

Protokol kesehatan dengan 5 M tersebut, merupakan produk atau hasil dari berbagai kajian lintas disiplin ilmu yang telah diintegrasikan oleh mereka yang berkompeten dibidangnya, dan Muhammadiyah melalui MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Comment Centre) yang sudah terbentuk dan berperan sekarang ini sebagai bentuk respon Muhammadiyah secara cepat atas persoalan kemanusiaan dan pemikiran, untuk bisa bangkit dan sukses menghadapi wabah ini. Dukungan lintas disiplin baik dari Lazismu, Majelis Tarjih dan Tajdid, serta majelis terkait  lainnya, menunjukkan bahwa Muhammadiyah berusaha memberikan teladan kemanusiaan dan pemikiran. Bentuk teladan kemanusiaan diantaranya dengan aktif membantu dan melayani mereka yang terpapar Corona berserta keluarga yang melakukan isolasi serta masyarakat yang terdampak pandemi. Dan teladan pencerahan pemikiran, diantaranya melalui berbagai kajian keagamaan baik yang berupa fatwah tarjih dan himbauan Persyarikatan yang sudah dilakukan agar membuka cakrawala berpikir lebih luas dan tetap untuk menjaga ukhuwah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof.Dr. Haedar Nashir, pada suatu kesempatan sering menyampaikan untuk menerapkan kebiasaan baru dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan keikhlasan akan lebih baik daripada dipaksakan, keselamatan diri sendiri dan sesama perlu diutamakan, demikian ungkapnya.  Maka tetaplah menerapkan protokol kesehatan dan berikan keteladanan dalam penanganan kesehatan dan kemanusiaan serta pencerahan pemikiran. Jangan melemah dan teledor dalam protokol kesehatan,  teruslah mengasah kesadaran spiritual dan ketajaman intelektual sebagai ikhtiar, bangun silaturrohmi dan ukhuwah jika adanya perbedaan pandangan persepsi dan interpretasi, lakukan dialog yang produktif dan integratif, bukan fitnah dan curiga. Jadikan iman dan amal soleh sebagai pijakan keyakinan yang diimplementasikan dalam kehidupan. Penanganan persoalan virus Corona cepat atau lambat akan terselesaikan, dan ukhuwah harus terus dikuatkan, jangan diputus tali persaudaraan. Jangan sampai kita lemah dalam mengatasi corona dan terjerembab pada pola pikir yang sempit, untuk itu diperlukan dengan lintas disiplin yang mencerahkan. Salam sehat, semoga kita tetap dalam lindunga-Nya. Aamiin.

Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I (Ketua Majelis Pendidikan Kader, Sekretarsis MCCC Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu