Mata Hati: Meluruskan Niat | Berita Populer Lazismu

 

Muhammad Khoirul Anam, SPdI

Meluruskan niat


Dari ‘Umar bahwa nabi saw bersabda “ Semua amalan tergantung niat, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa yang niat hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dicapainya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya  kepada apa yang diniatkannya “ . ( HR Al-Bukhari)

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, maka Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan duniawi belaka, Kami berikan baginya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan di akhirat “. ( Q.S. Asy-Syura : 20 )


Keyakinan kita sebagai umat Islam bahwasannya iman kita kadang naik kadang turun. Iman naik manakala amal shaleh bertambah, iman turun manakala maksiatnya yang bertambah. 

Amal shaleh terdiri dari 3 bagian yakni amal hati, amal lisan, dan amal badan. Kebanyakan manusia ketika ingin menambah amal shalehnya hanya memperhatikan amal lisan dan amal badan dan mengenyampingkan amal hati, padahal ini sangat berpengaruh pada sebuah amalan. Amalan hati ini yakni niat.

Niat merupakan amalan yang hanya Allah swt dan pelakunya saja yang tahu. Karena begitu pentingnya niat dalam sebuah amalan, bahkan ada yang berucap bahwa niat seorang mukmin itu lebih sampai dari pada amalannya.

Dalam hal ini ada beberapa penjelasan mengenai niat. Manakala niat itu murni karena Allah swt maka itu sudah bernilai ibadah. Sementara amal tanpa niat tidak bisa bernilai ibadah. Maka barang siapa yang berniat melakukan kebajikan tapi dia tidak jadi mengamalkannya, tetap dicatat baginya pahala yang sempurna.

ibadah itu ada kalanya hanya di ketahui Allah swt dan pelakunya saja, contohnya puasa, infaq, zakat, mendoakan saudara atau teman. Namun juga adakalanya ibadah itu terlihat orang lain, misalnya shalat berjamaah di masjid, haji dan sebagainya. Maka disini peran niat sangat mendominasi untuk di terima atau tidaknya sebuah amalan.

Nabi Muhammad saw bersabda yang artinya “ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak memandang kepada harta kalian, tetapi yang Allah pandang hati kalian “. Dalam hal ini nabi menyebutkan hati ( niat ) sebelum amal.

Kemudian, diantara hal yang menjadikan bahwa niat lebih utama yakni manakala seseorang sudah berniat baik tapi dia tidak mampu melaksanakannya dengan sempurna, maka tetap di catat sebagai amalan yang sempurna. Sabdanya “Kalau seorang hamba itu sakit atau sedang dalam bepergian maka tetap di catat amalannya sebagaimana dia kerjakan kalau dia sedang tidak sakit atau tidak sedang bepergian“.

Karena niat itu hanya Allah swt dan pelakunya saja yang tahu, tentu kita tidak bisa ataupun tidak boleh menafsirkan apa yang menjadi niat seseorang. 

Semoga kita bisa menyempurnakan niat dan amaliyahnya semata-mata hanya untuk mencapai ridha Allah swt. (Muhammad Khoirul Anam)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu