Ketika Musibah Datang Bertubi-Tubi | Berita Populer Lazismu


Abdul Hakim, MPdI

LAZISMUSBY.COM 

 KETIKA MUSIBAH DATANG BERTUBI-TUBI

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ

 وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang         yang beruntung”. QS Ali Imron 104


Dunia ini lahan musibah. Sunnatulloh yang  bisa terjadi menimpa setiap saat. Setiap orang akan dan bisa ditimpa musibah. Sendiri atau bersama. Beragam macamnya. Kehilangan harta atau jiwa adalah musibah. kelaparan,  menderita sakit, kematian anak, istri, suami, ayah, ibu, orang tua atau saudara, kehilangan jabatan, atau jatuh miskin  adalah rentetan musibah. Semua bisa terjadi setiap waktu, menimpa siapa pun dan di mana pun. Bila musibah datang, tak seorangpun yang kuasa mencegah atau menghadangnya.

Merebaknya Covid 19 adalah musibah besar atau musibah global. Hampir semua negara terpapar virus yang belum ditemukan vaksin efektif penangkalnya. Selain mengakibatkan kematian berjuta orang dari berbagai belahan dunia, pandemic ini menjadi fitnah global yang melumpuhkan sentra-sentra ekonomi, kesehatan, pendidikan, transportasi, akomodasi, pariwisata, dan sector public lainnya.  Bahkan menjadi ajang pertarungan bisnis para politisi dan pertaruhan para kapitalis dunia di bidang farmasi dan kedokteran.  

Termasuk musibah adalah perubahan iklim, dilanda kekeringan, kebakaran, banjir bandang,  gempa bumi, erupsi gunung, dan  tanah longsor. Demikian pula kecelakaan pesawat, kapal tenggelam, tabrakan mobil atau motor. Ada musibah berakhir kematian, cacat selamanya, kehilangan jabatan atau mata pencarian, jatuh miskin atau bangkrut. Ada musibah karena faktor alam, ada pula musibah yang terjadi karena teknis atau human error.

Rusaknya ekosistem, atau hilangnya sumber  alam  Indonesia seperti emas, perak, minyak, dan batubara atau hilangnya berbagai sumber hayati flora dan fauna,  termasuk rusaknya atau hilangnya kekayaan laut seperti ikan, udang, cumi, atau terumbu  karang  adalah musibah.

Alquran menyebutkan banyak musibah kerusakan di darat dan laut disebabkan penjarahan atau eksploitasi ekstrim yang dilakukan tangan-tangan jahil atau para pemegang kekuasaan. 

“Telah tampak berbagai kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Alloh menghendaki agar mereka merasakan  akibat musibah itu, agar mereka kembali ke jalan yang benar,” QS Ar-Rum 41. 

Ya, musibah memang bisa terjadi akibat kelalaian, penjarahan, eksploitasi, atau berbagai kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan demi memenuhi arogansi, kesombongan, amarah, kedengkian, atau  keserakahan individu, komunitas, elit penguasa  atau rezim zalim. 

Jangan lupa, merebaknya korupsi dan suap, peredaran, perdagangan dan penggunaan narkoba, merebaknya minuman keras, prostitusi,  pelacuran, perzinahan, seks bebas, atau LGBT, konflik vertikal dan horizontal, kriminalisasi dan persekusi ulama dan intelektual pembela dan pejuang kebenaran, perpecahan umat akibat politik adu-domba, atau pelecehan dan penolakan syariat adalah perbuatan keji dan mungkar yang dapat mendatangkan musibah,  bencana, atau azab  Alloh yang lebih besar. 

Jadi, musibah apa pun yang terjadi bukanlah peristiwa kebetulan. Semua menyuratkan dan menyiratkan pesan agar manusia segera melakukan muhasabah atau introspeksi. Ada kesalahan fatal dalam mengelola visi dan misi kehidupan. Ketika kehidupan hanya berorientasi pragmatis, kepuasan nafsu duniawi, manusia akan menghalalkan segala cara. Manusia akan mengeksploitasi kesombongan dan kerakusannya untuk merusak, membunuh, merampok, menjajah, menjarah, menyuap, korupsi, mengadu domba, memecah belah, dan memfitnah sambil memperagakan baju kebohongan di hadapan Alloh dan panggung kemanusiaan.

Musibah harus menyadarkan betapa manusia itu dari Alloh, dan akan kembali kepada-Nya. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Semua yang ada di semesta ini fana, kecuali Alloh yang Maha Kekal, Maha Kuasa, lagi Maha Mulia. Musibah itu bukti nyata ayat-ayat Alloh. Alloh itu Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Manusia itu lemah dan bodoh, tetapi sering gegabah. Sering menghalalkan  segala cara demi kemegahan dunia dan kepuasan nafsu. Karena melecehkan hukum-hukum Alloh, banyak manusia digambarkan Alquran berwatak anjing, kerbau, babi, keledai, atau kera. Bahkan seperti batu, pekak, tuli dan bisu. 

Musibah apa pun memang harus direspon dengan sabar, menahan diri agar tidak jatuh pada sikap bonek, atau gegabah. Aktif  mencari solusi ekonomi, politik, pendidikan, hukum, iptek, dan hankam berdasar Alquran dan sunnah kenabian. Harus ada komunitas kepemimpinan yang peduli yang terus-menerus  menyeru kebajikan, menyuruh kemakrufan, serta mencegah kemungkaran dengan lisan atau kekuasaan. Komunitas kepemimpinan yang konsisten  menegakkan keadilan dan  kejujuran, yang tidak takut, kecuali hanya kepada Alloh. Meskipun dengan itu mereka akan dilabeli teroris, radikalis, ekstrimis, dan intoleran oleh kaum kafir, musyrikin, dan munafiqin. (Abdul Hakim, MPdI)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu