Lentera Hati: Hakekat Rezeki | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz M. Khoirul Anam, M.Pd.I (Dok. Lazismu)


HAKEKAT REZEKI

Pagi setengah siang itu, nampak seorang Mandor bangunan berada di lantai 5, ia ingin memanggil salah satu pekerjanya yang ada di bawah. Berkali-kali sang mandor memangggil-manggil si pekerja itu, tetapi tidak ada respon sama sekali. Si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya, disamping itu juga karena bisingnya alat bangunan yang terus meraung-raung bagai kucing yang sedang kelaparan. Sang Mandor terus berusaha agar si pekerja mau mendongakkan kepalanya ke atas, maka di lemparkanya uang 1000-an yang jatuh tepat di samping si pekerja. Si pekerja hanya memungut uang 1000 tersebut lalu melanjutkan pekerjaannya.

Di lemparkan lagi uang 10.000an juga responya sama. Akhirnya si mandor kembali melempar uang 100.000 ke arah si pekerja dengan harapan ia mau menoleh ke atas, tetapi tetap sama saja. Ia hanya melompat kegirangan karena menemukan uang yang lumayan besar. usaha sang mandor pun sia-sia, karena merasa jengkel dan kecewa akhirnya si mandor melempar batu kecil ke arah kepala si pekerja. Karena merasa kesakitan akhirnya si pekerja mendongakkan kepalanya ke atas dan tahulah ia bahwa mandornya ingin bicara dan memerlukannya. Akhirnya sang mandor pun dapat berkomunikasi dan si pekerja pun sadar bahwa mandornya memanggilnya karena suatu hal. (www.gugling.com) 

Terkadang agar kita bisa kembali kejalan yang benar dan lurus, Allah SWT memberikan ujian sekeras batu, sehingga kita sadar dan kembali ke jalan-nya. Karena seringkali ujian berupa kenikmatan, yaitu diberi uang, jabatan atau materi malah membuat manusia menjadi sombong, kikir dan tidak berpikir untuk beribadah kepadanya. Tentu kita masih ingat kisah si Qorun ia lulus ketika di uji dengan kemiskinan, tetapi ketika di uji dengan kenikmatan ia gagal, ia memiliki harta benda dan kekayaan yang melimpah. Akan tetapi ia tidak pernah mensyukurinya bahkan ia congkak dan sombong terhadap sesama, karena kesombongannya itu, Allah menenggelamkannya didasar bumi. Begitu pula kisah Tsa’labah di zaman Rasulullah yang punya nasib hampir sama. mereka berdua adalah contoh kongkrit manusia-manusia yang tidak tahu hakekat rizki yang sesungguhnya, bahwa rizki yang kita terima itu ada hak orang lain yang harus di tebar ke sesama, rizki adalah salah satu sarana perjuangan agar  dakwah islam tetap berjalan, rizki yang kita terima juga merupakan media diri untuk beribadah maksimal kepada sang maha pemberi. itulah wujud syukur seorang hamba kepada rabb-nya.

Saudaraku, Allah maha baik kepada hambanya, bila kita lalai Allah akan mengingatkan kita, Dia selalu ingin menyapa kita maka jangan lupa untuk menengadahkan syukur kepadanya. Setiap hari kita harus belajar memahami dan mengamati setiap hidup yang kita  amati, ternyata kita kurang bersyukur atas nikmat yang di berikan kepada Allah pada kita. sering kita mendapat rizki namun lupa dengan yang di atas. seperti si pekerja tadi ia mendapatkan rizki, tapi ia tidak sadar bahwa rizki yang di terima itu bagian dari sarana sang pemberi supaya ia sadar dan menghadapnya. kita kadang sudah merasa enak, uang berlimpah. kendaraan tersedia, jabatan yang membuat ia gagah lupa dengan tujuan sang pemberi untuk selalu ingat kepadanya dalam menunaikan hak-haknya. 

Seperti Qorun dan Tsa’labah yang lulus menjadi seorang hamba karena ketiadaan, ini  pun pelajaran yang berharga. keadaan kita yang saat ini, mungkin dalam keadaan kekurangan, maka bersabar itu lebih baik, dan Allah pasti punya rencana mulia kepada kita. sehingga kita dalam keadaan sedikit kekurangan. Dan satu hal yang harus kita ketahui, bahwa Allah tak pernah mengurangi ketetapannya. 

Allah SWT telah menciptakan kita semua, itu pasti lengkap dengan peranti-perantinya termasuk rizki yang kita terima nanti. tugas kita adalah menjemputnya melalui bekerja dengan meniatkan sebagai ibadah kepadanya. maka apabila ada orang lain yang rizkinya lebih baik, kita tidak perlu iri. mungkin kita tidak tahu di mana rizki kita yang sesungguhnya, tetapi percayalah bahwa rizki itu sendiri  tahu dimana diri kita dan apa yang yang kita butuhkan, entah itu di dasar lautan, di puncak gunung atau di perut bumi  pasti Allah akan memerintahkan karunianya untuk menuju kepada kita.

Allah telah menjamin rizki sejak 4 bulan 10 hari sejak dalam kandungan ibu kita. Jadi amatlah keliru bila bertawakkal rizki itu di maknai dari hasil bekerja. Karena bekerja adalah ibadah sedang rizki itu urusannya. Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminnya, adalah kekeliruhan berganda. manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan di tinggal mati, terkadang kita itu lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka, tetapi apa yang telah kita nikmati. Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sesungguhnya Allah menaruh sekehendaknya. Masih ingat kisah Hajar dan ismail? Meski di ulang-ulang dan bolak-balik sampai tujuh kali shofa dan marwah, tetapi zam-zam justru muncul dari  kaki sang bayi, Ismail as. Ikhtiar itu perbuatan dan rizki itu kejutan. Dan yang tidak boleh di lupakan, tiap hakekat rizki akan di tanya kelak, “ dari mana dan di gunakan untuk apa” karena yang namanya rizki itu hak pakai, bukan hak milik.

Maka, kita tidak boleh iri dengan rizki orang lain. Bila kita merasa iri dengan rizkinya orang lain, maka sudah seharusnya juga kita iri dengan takdir kematiaannya...

Orang yang tidak sabar menunggu datangnya rizki dan selalu galau karena kesenangannya tidak kunjung tiba adalah seperti makmum yang mendahului imam, padahal ia tahu bahwa ia hanya boleh salam setelah imam melakukannya. segala permasalahan rizki itu sudah di tentukan dan sudah selesai lima puluh ribu tahun sebelum adanya penciptaan itu sendiri. “Telah pasti  datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar di serahkan. 

Yang memberi rizki itu satu, seluruh rizki hamab-hamba itu sudah berada di sisinya. Dan Allah telah mengatur semuanya. karena itu, Jika memang yang memberi rizki itu adalah Allah, maka mengapa manusia itu harus menjilat dan mengapa harus merendahkan diri dihadapan orang lain. sekali lagi tugas kita adalah menjemput rizki-rizkinya, karena Allah telah menyiapkannya untuk kita semua. ukuran besar dan kecilnya rizki itu tidak menjadi soal. tapi yang utama adalah kita sadar dengan tujuan sang pemberi rizki. “ Wallahu ‘alamu bish-shawab “ 


Pencerahan: Jemputlah rizki Tuhanmu dengan segera, tapi ingatlah bahwa kerja itu ikhtiar sedang rizki itu kejutan maka bersiaplah bahagia dengan kejutan-kejuatan dari Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu