Konsulkes Lazismu: Kecanduan HAPE | Berita Populer Lazismu

 

dr Tjatur Prijambodo, MARS


TANYA :

Assalamu’alaikum Wr Wb

Pengasuh Konkes Lazismu Surabaya yang dirahmati Allah. Di era Pandemi seperti saat ini mengharuskan pembelajaran online, tidak sedikit siswa yang akhirnya justru kecanduan gawai (HP). Yang saya tanyakan, apakah memakai gawai secara terus menerus dapat berakibat buruk bagi kesehatan? Lalu, berapa lama durasi penggunaan gawai yang dibolehkan? Terima kasih atas jawabannya. Wassalamu'alaikum Wr Wb.

nilam_ars@gmail.com

JAWAB:

Wa’alaikumussalam Wr Wb.

Nanda Nilam yang dirahmati Allah. Dengan pertanyaan diatas, saya menjadi tergelitik untuk balik bertanya, sudah kecanduan gawai kah Nanda? Karena orang yang kecanduan gawai (gadget) mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengalami masalah kesehatan akibat terlalu sering menggunakan ‘setan gepeng’ tersebut. Padahal, dampaknya tidak main-main. Kecanduan gawai bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan emosi, nyeri leher, sulit beraktivitas, kurang tidur, hingga penyakit tertentu. Kecanduan gawai berkaitan erat dengan kecanduan internet. Hal ini karena kebanyakan tontonan, permainan (game), atau fitur menarik di gawai yang sering digunakan dapat dengan mudah diakses melalui internet. Dan di era pandemi seperti saat ini, angka kecanduan semakin meningkat.

Kecanduan gawai bisa menyebabkan efek euforia (perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan) yang sama dengan perilaku kecanduan lainnya, seperti berjudi atau melihat tontonan pornografi. Berdasarkan hasil penelitian, kecanduan gawai dapat mengubah zat kimia otak yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan perilaku seseorang. Gejala awalnya biasanya pasien lebih banyak menghabiskan waktu atau fokus untuk bermain gawai. Pasien yang sudah kecanduan akan merasa depresi jika tidak menggunakan gadget. Satu dari 10 orang mengalami ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) atau depresi. Kecanduan Gadget masuk dalam ODMK itu.

Seseorang dikatakan sudah kecanduan gawai apabila sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menggunakan gawai, seperti smartphone, tablet, laptop, atau portable gaming device. Istilah untuk kondisi ini adalah Nomophobia (no mobile phobia), yang berarti ketakutan untuk aktivitas sehari-hari tanpa smartphone maupun gawai dalam bentuk lainnya.

Kita dapat mengukur tingkat kecanduan terhadap gawai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

· Apakah sering merasa tidak nyaman jika tidak membawa gawai?

· Apakah merasa keberatan atau enggan jika tidak memegang gawai, meskipun hanya sebentar?

· Apakah sering menggunakan gawai di waktu makan?

· Apakah kerap memeriksa status atau unggahan (posting) pada gawai di tengah malam?

· Apakah lebih sering berinteraksi dengan gawai daripada dengan orang lain?

· Apakah menghabiskan banyak waktu untuk membuat cuitan di WA, IG, Twitter, membalas status-status di Facebook, atau mengirim surel menggunakan gawai sebagai bentuk komunikasi kepada orang lain?

· Apakah lebih sering bermain gawai, padahal tahu bahwa seharusnya bisa melakukan hal lain yang lebih produktif?

·Apakah berkencenderungan untuk menggunakan gawai, padahal sedang sibuk dengan tugas sekolah atau pekerjaan kantor?

Jika jawabannya lebih banyak “ya”, maka dapat dikatakan mengalami kecanduan gawai.

Para ahli menyarankan waktu maksimal anak mengakses gadget adalah 1-2 jam per hari. Namun, pembatasan ini juga harus disesuaikan dengan usia anak:

· Anak usia di bawah 2 tahun disarankan sama sekali tidak diberi akses pada gadget. Jika diperlukan, anak usia di atas 1,5 tahun dapat mengakses gadget tidak lebih dari satu jam per hari dengan didampingi orang tua.

· Anak usia 2-5 tahun disarankan mengakses gadget hanya 1 jam per hari, itu pun sebaiknya program yang berkualitas.

· Untuk anak usia 6 tahun ke atas, sebaiknya tetapkan durasi khusus yang disepakati bersama. Misalnya, anak hanya bisa mengakses gadget pada akhir pekan atau maksimal 2 jam per hari.

Siapa pun yang kecanduan gawai dapat mengalami berbagai efek buruk, tidak peduli usia dan profesinya. Beberapa dampak yang dapat muncul akibat kecanduan gawai adalah:

Efek Fisik

Beberapa dampak negatif pada kesehatan fisik akibat kecanduan gawai adalah:

a. Masalah pada mata. Karena terlalu lama menatap layar gawai, mata bisa terjadi mata lelah, mata kering, dan penglihatan terganggu (gangguan refraksi)

b. Nyeri di bagian tubuh tertentu. Orang yang sudah kecanduan gawai mungkin tidak menyadari bahwa lehernya sering tertekuk dan jari-jari tangannya tidak berhenti mengetik di layar gawainya. Hal ini membuat mereka rentan mengalami sakit leher, nyeri bahu, serta nyeri pada jari-jari dan pergelangan tangan.

c. Infeksi. Layar gawai adalah sarangnya jutaan kuman. Bahkan ada riset yang menyatakan bahwa kuman E.coli penyebab diare paling banyak ditemukan pada gawai. Hal ini membuat orang yang sering bersentuhan dengan gawai lebih berisiko terkena infeksi.

d. Kurang tidur. Pecandu gawai sering kali rela begadang, sehingga kualitas dan waktu tidurnya berkurang. Jika dibiarkan berkepanjangan, hal ini dapat menyebabkan gangguan tidur. Masalah kesehatan ini bisa meningkatkan risiko terjadinya obesitas, diabetes, penyakit jantung, bahkan infertilitas. Karena kurang tidur, pecandu gawai akan sulit berkonsentrasi dan mengalami kelelahan sepanjang hari. Hal ini dapat meningkatkan risiko cedera atau kecelakaan saat bekerja atau menyetir.

Efek Psikologis

Tak hanya masalah fisik, kecanduan gawai juga dapat menyebabkan masalah psikologis, yaitu:

a. Menjadi lebih mudah marah dan panik.

b. Stres

c. Sering merasa kesepian karena berjam-jam menghabiskan waktu tanpa bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi dan gangguan kecemasan.

d. Sulit fokus atau berkonsentrasi ketika belajar atau bekerja.

e. Masalah dalam hubungan sosial, baik dengan keluarga, teman, rekan kerja, atau pasangan.

Tips yang dapat diterapkan agar bisa lebih bijak dalam menggunakan gawai dan terhindar dari risiko kecanduan:

a. Tidak menggunakan gawai ketika sedang berjalan, apalagi saat mengoperasikan kendaraan bermotor. Hal ini dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tepikan kendaraan dan berhentilah sejenak jika merasa ada notifikasi penting.

b. Atur dan batasi waktu penggunaan gawai, misalnya maksimal dua atau tiga jam sehari. Jika pekerjaan mengharuskan untuk menggunakan gawai, maka cobalah cari aktifitas lain yang tidak mengunakan gawai setelah selesai bekerja.

c. Tidak menggunakan gawai ketika sedang makan bersama atau saat acara keluarga. Utamakan bentuk komunikasi secara langsung agar dapat menikmati kebersamaan dan tetap menjalin kedekatan.

d. Tentukan area bebas gawai, misalnya tidak menggunakan gawai ketika berada di kamar mandi, dapur, atau kamar tidur.

e. Ganti waktu penggunaan gawai dengan aktivitas yang lebih sehat, misalnya berolahraga atau membaca buku.

f. Jangan bermain gawai ketika akan tidur.

 

Untuk mengurangi dan menghentikan kecanduan gawai, memang diperlukan kedisiplinan. Namun, hal ini penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri. Apabila masih juga sulit terlepas dari ketergantungan pada gawai, terutama jika hal ini sudah menimbulkan kesulitan dalam menjalani aktivitas dan pekerjaan sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan bantuan. Semoga ada manfaatnya. 

Wassalamu'alaikumWr Wb


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu