Jum'at Cerah: Menjadi Diri Sendiri | Berita Populer Lazismu

 

Drs H Nurcholis Huda, M.Si

Menjadi Diri Sendiri


Saya tidak lupa Kejadian ini. Sewaktu remaja, Saya punya kelompok bernama "Remaja Merdeka". Kegiatannya antara lain mengadakan Siaran di radio. Misalnya membaca cerpen, puisi, dialog cinta dan banyak hal tentang dunia remaja. Seorang teman punya suara merdu mirip suara Kris Biantoro. Kalau Siaran di radio dia paling indah dan jelas suaranya.


Saya dengan suara cempreng, jelek dan sama sekali tidak merdu ingin meniru suara kawan saya yang bariton, berat dan Ulem itu. Maka saya besar-besarkan suara saya dengan menggunakan suara dalam dan bibir yang kurang membuka. Hasilnya, pengasuh radio itu menegur saya Karena suara saya terdengar sangat jelek, sengau sehingga tidak jelas bagi pendengar. Pada siaran berikutnya Saya ulangi kesalahan yang sama dan saya ditegur lagi.


Saya terus terang kepada pengasuh radio bahwa saya ingin bersuara "ngebas" seperti suara teman saya itu. Maka saya gunakan suara dalam. Dia tertawa. "Suaramu menjadi seperti orang menggumam. Jadilah dirimu sendiri. Kalau menjadi orang lain kamu tidak akan menjadi lebih baik bahkan menjadi lebih buruk", katanya. Saya selalu ingat kata-kata penyiar itu. Jadilah dirimu sendiri.


Seorang teman bergigi tongos (menonjol ke depan) ketika menyanyi selalu berusaha menutupi giginya. Akibatnya suaranya tidak lepas karena mulutnya tidak pernah terbuka, padahal suara aslinya merdu. Seorang guru menasehati, tidak perlu malu dengan giginya. Seseorang tidak menjadi rendah hanya karena Gigi tongos. "Menyanyilah dengan lepas, buka mulutmu dan bersikaplah rileks". Akhirnya teman itu ketika ikut lomba antar siswa menjadi juara setelah mengikuti nasehat gurunya.


Seorang mubaligh muda ingin tampil segar dan menarik. Maka dalam ceramahnya dia sisipkan humor meniru humor mubaligh yang lebih senior. Humor memang menyegarkan. Ceramah dengan sisipan humor menjadi ceramah yang segar dan tidak menjemukan. Sayagnya humor itu tidak diciptakan sendiri dan gaya juga meniru gaya mobaligh senior itu. Apa yang terjadi? Tidak ada pendengar yang tersenyum apalagi tertawa mendengar humornya. "Itu terasa sakit dan malu", katanya.


Betapa banyak mubaligh muda ingin meniru gaya dan tampilan almarhum Zainudin MZ. Dengan cara itu mungkin Merapi akan populer seperti Zainuddin. Tetapi itu tidak akan pernah terjadi. Paling bentar Orang bilang: Dia bisa menirukan gaya almarhum Zainudin MZ.


Berapa banyak orang yang ingin seperti Bung Karno lalu bergaya dan berpakaian seperti beliau? Orang memang kagum dengan Bung Karno tetapi jangan berharap orang juga akan mengagumi para penirunya. Para peniru lupa bahwa Bung Karno besar karena pikirannya yang besar, gagasan besar, langkah-langkah perjuangan besar sejak sebelum kemerdekaan. Bung Karno menjadi idola bukan karena fisiknya. Banyak orang yang secara fisik lebih gagah dari Bung Karno. Tetapi dia tidak punya daya tarik dan Kharisma seperti Bung Karno. Memang bukan karena fisik tetapi isi di dalam fisik itulah yang membuat beliau besar. Lalu muncul para peniru dengan menggunakan pakaian, peci dan kacamata mirip dengan yang dipakai Bung Karno dulu. Konyol benar rasanya kalau dengan tampilan itu dia berharap orang mengagumi ketokohannya.


Justru sebaliknya, tanpa meniru fisik Bung Karno, kalau orang itu bisa mengembangkan pikiran-pikiran Bung Karno maka orang akan menghargai dan mengagumi. Seperti mengembangkan gagasan Berdikari, keberanian mengatakan "Tidak" kepada negara-negara barat dan pikiran besar lainnya.


Orang boleh meneladani keberhasilan seseorang. Langkah-langkah yang ditempuh. Kiat mengatasi masalah. Ketabahan dalam ujian dan seterusnya. Tetapi dia harus tetap punya ciri sendiri. Ciri itu muncul orisinil dari dalam sehingga menjadi identitas dirinya. Orang akan menjalani hidup dengan menyenangkan kalau dia bisa tampil apa adanya. Tidak dibuat-buat. Tidak meniru-niru orang lain.


Seorang perempuan gemuk ingin tampil nampak langsing. Maka dia kenakan pakaian sangat ketat sampai sulit bernafas. Padahal kalau saja berpakaian yang nyaman sesuai ukuran tubuhnya tentu dia bisa tampil rileks dan gembira. Apakah dengan pakaian ketat lantas orang berubah pandangan ke badannya? Tidak!


Tampil apa adanya itu menyenangkan. Sebaliknya tampil yang dibuat-buat itu menyiksa diri sendiri. Orang lain juga tidak selalu menjadi Simpati. Malah Mungkin ada yang tertawa karena geli. Ingat, barang imitasi tidak akan mengalahkan yang asli. Semua yang palsu tidak pernah menjadi nomor satu. Semua yang tipuan akan berakhir dengan kesengsaraan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu