RAFID Non Reaktif SWAB Positif | Berita Populer Lazismu

 

dr Tjatur Prijambodo, MARS


Tanya:

Assalamu'alaikum Wr Wb. 

Dok, saya Murtiasih, umur 56 tahun, 3 hari saya demam, diare dan menggigil dirumah. Saya ke rumah sakit dan hasil Rapid Test Antibodi (Rapid Test) nya  Non Reaktif. Kemudian di Foto Thorax, hasil nya dinyatakan Pneumonia. Keesokan harinya di SWAB dan hasilnya positif Covid-19. Dan setelah dirawat di rumah sakit, kondisi saya semakin baik, tekanan darah normal, gula darah normal. Pertanyaan saya, mengapa hasil Rapid Test nya Non Reaktif, sementara hasil dari SWAB nya itu positif. Menurut saya, mestinya kalau memang dari awal Positif Covid-19 seharusnya hasil Rapid Test nya Reaktif  dan SWAB nya Positive. Terima kasih atas Jawabannya. murtiasih.LC@gmail.com

 

Jawab:

Wa’alaikumussalam Wr Wb.

Bu Murtiasih yang dirahmati Allah. Pertanyaan ini mewakili kebingungan masyarakat tentang Rapid Test dan Swab Test (PCR=Polymerase Chain Reaction). Hasil Rapid Test Reaktif belum tentu menunjukkan seseorang Positif Covid-19. Begitu juga sebaliknya, hasil Rapid Test Non Reaktif belum tentu juga menunjukkan seseorang pasti Negatif Covid-19. Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwa penyebutan hasil Rapid Test yang benar adalah Reaktif atau Non Reaktif, bukan Positif (Positive) atau Negatif (Negative). Salah satu sumber pemicu masalah dalam pandemi Covid-19 selama ini adalah stigma yang dipicu oleh salah kaprah penyebutan. Kata Positif ini harus hati-hati digunakan dalam  menyampaikan hasil Rapid Test. Karena 'kesalahan awal’ inilah, di asumsikan bahwa jika Rapid Reaktif (semula disebut Positif) maka Swab nya juga ‘harus’ Positif. Maka dari itu, jangan pernah ada yang menyebut seseorang positif Covid-19 hanya berdasar hasil Rapid Test. Rapid Test fungsinya untuk skrining awal, tidak bisa dijadikan acuan untuk mendiagnosis seseorang terpapar Corona atau tidak. Maka dari itu, rapid tes harus disertai tes lanjutan, Swab (PCR).

Secara ringkas bisa kami jelaskan beberapa hal tentang Rapid Test sebagai berikut:

1.    Protokol awal untuk pemeriksaan Covid-19, salah satunya dengan skrining menggunakan Rapid Test.

2.   Pengerjaan Rapid Test harus disupervisi dan di-interpretasi oleh Dokter Spesialis Patologi Klinik.

3.  Pasien dengan hasil Rapid Test Non Reaktif: Tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeksi Virus Corona sehingga masih beresiko menularkan ke orang lain (bila ada riwayat berinterkasi dengan pasien positif Covid-19/OTG). Hasil Non Reaktif dapat terjadi pada:

a.              Seseorang yang tidak terinfeksi.

b.             Seseorang di fase window period .

c.             Seseorang dengan immunocompromised.

d.      Seseorag yang terinfeksi, tapi kadar antibodi dibawah level deteksi alat.

Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan Rapid Test 10 hari kemudian.

4.      Pasien dengan hasil Rapid Reaktif, dapat terjadi pada:

a.      Seseorang dalam fase infeksi akut.

b.      Seseorang dalam masa pertengahan infeksi.

c.   

          Seseorang dalam fase akhir  (perlu diinterpretasikan dengan melihat IgM dan IgG), Jika Rapid Test Reaktif, dilanjutkan pemeriksaan Swab Nasopharing dengan pemeriksaan PCR, sehingga bisa ditentukan posisi pasien pada fase infeksi akut atau pada fase lainnya sesuai  kinetika Virus Covid-19.

Maka, jangan senang dulu kalau hasil Rapid Test nya Non Reaktif. Karena sebenarnya yang diperiksa oleh hasil tes ini adalah apakah tubuh memiliki kekebalan terhadap Covid-19. Ada 2 jenis kekebalan tubuh yang diperiksa dalam rapid test ini.

a.      Immunoglobulin M (IgM), yang akan muncul setelah beberapa hari seseorang terinfeksi Covid-19.

b.      Immunoglobulin G (IgG), yang akan muncul setelah kadar IgM berkurang dan akan tetap ada setelah sembuh dari Covid-19.

Bila IgM Reaktif sedangkan IgG Non Reaktif: maka mungkin sedang aktif terinfeksi Covid-19.

Bila IgM Reaktif dan IgG Reaktif: maka mungkin sedang aktif terinfeksi Covid-19, namun mulai membaik.

Bila IgM Non Reaktif dan IgG Reaktif, bisa berarti mungkin hampir sembuh atau mungkin telah sembuh Covid-19. Kenapa semuanya mungkin? Karena tidak akan dinyatakan Positif Covid-19 sebelum didapatkan hasil tes selanjutnya, yaitu PCR. Swab PCR digunakan untuk memeriksa apakah RNA Covid-19 benar ada didalam tubuh.  Bila hasil PCR Negatif, apapun hasil Rapid Test nya, tetap dianggap Negatif. Sebaliknya, jika hasil PCR Positif, apapun hasil Rapid Test nya, tetap dianggap Positif. Maka melihat sedemikian sulitnya menegakkan diagnosis Covid-19, sudah selayaknya kita selalu berhati - hati, tetap di rumah, selalu gunakan masker, cuci tangan dan tetap jaga jarak. Semoga ada manfaatnya. Wassalamu’alaikum wrwb.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu