Besar Kecil Terserah Kita | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Nur Cholis Huda, MSi (Dok. Mudipat.co)


BESAR KECIL TERSERAH KITA

Oleh: Ustadz Nur Cholis Huda, M.Si


Anda pulang dari kantor dalam keadaan letih. Jalan agak padat dan Anda mengemudikan motor dengan hati-hati. Tiba-tiba kendaraan lain menyalip dari kiri dengan kecepatan tinggi hampir menyenggol kendaraan Anda. Sisa air dijalan muncrat mengenai celana dan baju Anda. Hati gemas dan dongkol. Anda ingin mengejar tetapi kendaraan ugal-ugalan itu telah hilang ditengah kepadatan kendaraan lain.


Di rumah Anda ceritakan kejadian itu kepada istri dengan hati tetap dongkol dan marah. Apakah kejadian itu peristiwa besar atau kecil? Tergantung cara pandang kita. Kalau saja kita berhasil mengejar dan menghentikan pengendara itu mungkin kita gampar mukanya sebagai pelajaran. Kita merasa diremehkan dan harga diri dilecehkan. Jika itu terjadi mungkin menjadi Peristiwa besar bagi kita karena urusannya menjadi panjang. Mungkin terjadi baku hantam atau saling lapor ke polisi.


Bisa pula menjadi Peristiwa kecil jika kita lihat dari cara pandang lain. Orang yang menyalip itu memang melakukan kesalahan tetapi mungkin ada sebab lain sehingga tergesa-gesa. Dia sama sekali tidak bermaksud melecehkan harga diri kita. Mungkin dia sedang memanggil bidan karena istrinya segera melahirkan. Mungkin dia sakit perut dan harus segera sampai di rumah untuk buang hajat besar. Atau ada sebab lain yang mendesak. Toh tidak ada sesuatu yang terjadi pada kita. Kita hanya disalib dengan cara tidak sopan. Itu peristiwa biasa, peristiwa kecil. Dua atau tiga hari akan kita lupakan. Tidak ada pengaruh apapun pada perjalanan hidup kita.


Hidup ini berjalan dari kejadian-kejadian lain. Apakah kejadian itu peristiwa besar atau kecil, tergantung cara pandang kita. Sedih atau senang atas suatu peristiwa tergantung respon kita.


Seorang istri jengkel pada suaminya karena sang suami sering menolak keinginannya. Suatu hari di bandara mereka bertemu dengan kawan suaminya satu kantor. Ketika sang Suami pergi ke toilet, kawan itu mengatakan bahwa sang suami itu orang luar biasa. Di kantor dia tempat banyak orang konsultasi dan curhat. "Saya termasuk orang yang sering minta nasehat. Dia selalu berpikir jernih dan tahu mana yang penting dan tidak penting. Sungguh Ibu beruntung mendapat suami yang jujur, cerdas dan bijaksana", kata kawan itu.


Sang istri tertegun. Ternyata sang suami tidak sejelek yang dibayangkan. Bahkan mendapat pujian dari banyak kawan. Sejak saat itu dia melihat suami dari sudut pandang berbeda. Dia kini menyadari usul yang ditolak suami sering hanya menuruti keinginan sesaat. Suaminya seorang bijaksana dan berpandangan luas. Dia seorang imam dan pembimbing yang baik. Sikap istri itu berubah karena melihat suaminya dari sudut pandang berbeda.


Setiap tahun di setiap provinsi berlangsung beberapa Pemilukada. Pemilihan gubernur, bupati dan walikota di beberapa daerah. Apakah pemilihan kepala daerah itu peristiwa besar atau kecil? Bagi para calon tentu peristiwa besar. Mereka siap mengeluarkan biaya besar dan susah payah menemui pemilih. Tetapi bagi kita tergantung cara pandang kita. Bisa besar bisa kecil.


Ada goyonan tentang Pilkada. Anda tentu sudah tahu. Guyonan itu berupa pertanyaan: Apakah perbedaan antara Pil KB dan Pilkada? Perbedaannya, Pil KB kalau orangnya lupa pasti jadi, maksudnya hamil. Sedangkan Pilkada, kalau orangnya jadi pasti lupa. Maksudnya lupa pada janji waktu kampanye.


Jika kita ikuti alur pikir goyonan ini, Pilkada Ternyata bukan peristiwa besar bagi kita. Pilkada hanya peristiwa rutin lima tahunan. Tidak memberi efek yang besar pada perjalanan hidup kita. Calon yang menang akan melupakan kita karena banyak hal penting yang harus diselesaikan, mungkin termasuk mengembalikan biaya puluhan miliar saat kampanye.


Kalau Pilkada itu peristiwa biasa, peristiwa rutin lima tahunan, maka menyikapinya juga dengan biasa saja, tidak perlu luar biasa. Karena itu jangan sampai persahabatan putus hanya karena Pilkada. Ada suami istri bercerai gara-gara mendukung calon berbeda dalam pilkada. Data Kemenag 2012, angka terbesar di Jawa Timur, kemudian di Jawa Barat. Ada organisasi retak atau pecah karena anggotanya punya dukungan berbeda.


Kita berharap gubernur atau bupati atau walikota yang terpilih adalah yang terbaik. Tetapi jangan berharap berlebihan nanti kita kecewa. Ingat beda Pil KB dan Pil Kada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

Mata Hati: Meraih Kasih Sayang Allah Dengan Ihsan | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama: Derajat Hadits Shalat Adalah Mi’rajnya Orang Beriman | Berita Populer Lazismu