Tanya Jawab Agama: Bolehkah Shalat Sunnah Qabliyah Dzuhur Dilakukan Sesudah Shalat Dzuhur | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Imanan, SAg

Bolehkah Shalat Sunnah Qabliyah Dzuhur Dilakukan Sesudah Shalat Dzuhur

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Warahmatulloh Wabarakaatuhu

Ustadz,.. Bolehkah kita Shalat Sunnah Qabliyah Dzuhur dilakukan sesudah  shalat Dhuhur (karena terlambat? Kalau boleh, bagaimana caranya, apakah dilakukan sesudah Dhuhur atau sesudah ba’diyah  Dhuhur ? Terimakasih jazakumulloh khairon (Pertanyaan dari ibu-ibu Aisyiah PRM Lontar)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahamtulloh Wabarakatuh

Penanya yang budiman, Masalah hukum mengqadha shalat sunnah rawatib  (qabliyah dan ba’diyah) adalah suatu yang diperselisihkan (khilafiyah) dikalangan para ulama.

Ulama Hanafiyah, ulama Malikiyah serta pendapat yang masyhur di kalangan Hambali, shalat rawatib  (qabliyah dan ba’diyah) tidak boleh diqadha selain shalat sunnah Fajr (2 raka’at sebelum Shubuh). Shalat tersebut boleh diqadha setelah waktunya.

Dalil atau landasannya adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

“Barangsiapa yang tidak shalat dua raka’at sebelum Shubuh, maka hendaklah ia shalat setelah terbitnya matahari.” (HR. Tirmidzi no. 423, kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih)

Ada hadits diriwayatkan dari Qais bin Qahd radhiyallohu ‘anhu, 

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: فَلَا إِذَنْ

“Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah), lalu iqamah pun dikumandangkan. Aku shalat subuh bersama beliau. Kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam berlalu, dan menjumpai sedang shalat. Rasululloh bersabda, “Wahai Qais! Bukankah Engkau shalat (Shubuh) bersama kami? Aku menjawab, “Iya, wahai Rasululloh. Sesungguhnya aku tadi belum mengerjakan shalat sunah dua raka’at fajar.” Rasululloh bersabda, “Kalau begitu silakan.” (HR. Tirmidzi dinilai shahih oleh Al-Albani)

Dalam lafadh lain:

أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Saya shalat Shubuh bersama Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat qabliyah shubuh. Ketika Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat qabliyah Shubuh, dan Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam melihat perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133)

Dan juga hadits dari Aisyah radhiyallohu ‘anha menuturkan seperti ini;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ (أخرجه الشيخان)

Dari ‘Aisyah radhiyallohu ‘anhu , ia berkata, “Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Shubuh. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul-Qayyim berkata: ”Di antara petunjuk yang dicontohkan Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam  dalam safarnya, yaitu (beliau) mencukupkan diri dengan melaksanakan shalat yang fardhu, dan beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam   tidak diketahui melakukan shalat Sunnah Rawatib sebelum (qabliyah) dan sesudah (ba’diyah) shalat fardhu, kecuali shalat Witir dan Sunah Rawatb Qabliyah Shubuh, karena beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat itu, baik saat mukim (tidak sedang bepergian) maupun saat bepergian” [Zadul-Ma’ad (1/456)]

Sedangkan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat sunah ada dua macam, ada yang muaqqat (dibatasi waktunya) dan ada yang ghairu muaqqat (tidak dibatasi waktunya). Shalat sunah yang tidak dibatasi waktunya-seperti shalat kusuf (gerhana), shalat istisqa’ (minta hujan), dan shalat tahiyatul masjid-, tidak ada qadha pada shalat sunnah tersebut. Adapun shalat sunah yang dibatasi waktunya –seperti shalat ‘ied, shalat Dhuha, shalat rawatib (yang mengiringi shalat wajib), maka menurut pendapat terkuat di kalangan Syafi’iyah, shalat seperti itu boleh diqadha..

Imam Nawawi berkata, “Pendapat terkuat menurut ulama Syafi’iyah adalah mengqadha dalam shalat sunah rawatib (qabliyah dan ba’diyah) tetap disunahkan. Demikianlah yang menjadi pendapat Muhammad Al Muzani dan Ahmad dalam salah satu pendapat. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Abu Yusuf dalam salah satu pendapat mereka menyatakan bahwa shalat sunnah rawatib tersebut tidak perlu diqadha. (Al Majmu’, 4/43)

Alasan  (dalil) pendapat yang menyatakan boleh mengqadha shalat sunah rawatib adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلاَّهُنَّ بَعْدَهُ

“Jika Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat Rawatib empat rakaat sebelum Dzuhur (Qabliyah Dzuhur), beliau melakukannya setelah shalat Dzuhur.” (HR. Tirmidzi no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan)

Juga ada hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ

“Barangsiapa yang ketiduran dan keluputan shalat witir atau lupa mengerjakannya, maka kerjakanlah shalat tersebut ketika ingat atau ketika terbangun.” (HR. Tirmidzi no. 465 dan Ibnu Majah no. 1188. Kata Syaikh Al Albani, hadits ini shahih)

Adapun pertanyaan, bagaimana caranya, apakah dilakukan sesudah Dhuhur atau sesudah ba’diyah  Dhuhur ?

Bagi ulama yang membolehkan mengqadha shalat sunah rawatib, Cara melaksanakannya juga ada khilafiyah, ada berpendapat mendahulukan sebelum ba’diyah dan ada yang berpendapat diakhirkan.

As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh berkata: “Apabila di dalam shalat itu terdapat Rawatib Qabliyah dan Ba’diyah, dan shalat Rawatib Qabliyahnya terlewatkan, maka yang dikerjakan lebih dahulu adalah Ba’diyah kemudian Qabliyah. Contoh: Seseorang yang belum mengerjakan shalat Rawatib Qobliyah, masuk masjid, mendapati imam sedang mengerjakan shalat Dzuhur. Maka apabila shalat Dzuhur telah selesai, yang pertamakali dikerjakan adalah shalat Rawatib Ba’diyah dua rakaat, kemudian empat rakaat Qabliyah”. (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/283).


Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, terjadi khilafiyah di kalangan para ulama tentang hukum MENGQADHA SUNAH RAWATIB ini, sebagian ulama berpendapat masyru’ (disyari’atkan) dan sebagian ulama  berpendapat  tidak disunnahkan, kecuali shalat sunah QABLIYAH SHUBUH, Dan inilah pendapat yang kami pilih, karena Majelis Tarjih sampai sekarang belum membahas masalah ini 

Akan tetapi, jika ada yang memilih pendapat ulama yang membolehkan mengqadha  shalat sunah rawatib ini, kami hargai, dan silahkan beramal dengannya jika memang yakin dengan pendapat tersebut. Namun tentu saja harus didasari ilmu bukan hanya memperturutkan hawa nafsu belaka.

Demikian jawaban dari kami semoga bisa menambah pencerahan kepada kita. Semoga Alloh memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita bisa menjaga amalan shalat-shalat rawatib kita.

Wallohu A’lam Bis shawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu