Waspadai Narasi, Aksi Jahili | Berita Populer Lazismu

 


Andi Hariyadi (Dok. Keluarga)


WASPADAI NARASI – AKSI JAHILI

Oleh: Drs Andi Hariyadi, MPdI


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعٰيِشَ  ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

"Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 10)


Ketika pandemi Covid-19 belum berakhir bahkan cenderung merebak di cluster-cluster baru, peningkatan yang terpapar bertambah, roda ekonomi yang baru bergeliat akhirnya malambat, kepedihan dan penderitaan ini semakin kuat terasakan, namun tetap upaya pendisiplinan protokol kesehatan harus terus dilakukan. Realitas seperti ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi, bersama beristighfar dengan munajat doa agar segera dilepaskan dari pandemi ini, ternyata kita masih sering menyaksikan drama-drama kehinaan dengan skenario menebar permusuhan.

Ayat di atas memberikan petunjuk, betapa sedikitnya mereka yang bersyukur atas karunia dan nikmat Allah SWT yang ada di bumi ini sebagai sumber penghidupan yang menyejahterakan, membahagiakan, menyehatkan dan menyelamatakan. Ketidakmampuan bersyukur sehingga gagal mendapatkan kemuliaan karena terus terkungkung dalam kehinaan yang dibanggakan, tumpul menggunakan kemampuan nalar yang lebih produktif, sehingga narasi dan aksi yang terealisasikan penuh kecurigaan, klaim kebenaran sepihak tanpa dukungan analisa data yang tervalidasi menjadikan arogansi sebagai landasan narasi dan aksi.

Saat pandemi ini, seharusnya mampu membangun kamunikasi yang produktif, bukan kontra produktif dengan  menebar kebencian, fitnah dan permusuhan. Bangun potensi sinergi pada anak – anak negeri karena akan didapatkan banyak solusi, bukannya merusak keharmonisan kehidupan ini dengan narasi yang tidak memiliki kekuatan nalar yang sehat, bahkan terus melakukan propaganda dengan aksi-aksi kekerasan yang tidak jelas penegakan keadilannya.

Narasi yang penuh dengan muatan rasa syukur, mampu melihat keragaman yang ada dengan penyampaian kata-kata yang lebih bijak sehingga semakin menampakkan luasnya wawasan dan dalamnya keilmuan serta peduli menguatkan persatuan. Seperti kita ketahui bersama adanya elite negeri yang mengobral narasi arogan mengaitkan Sumatera Barat dengan Pancasila, meski sudah ada upaya pembelaan dan klarifikasi justru semakin kelihatan betapa nalar yang seharusnya obyekif hanya karena kepentingan sesaat sehingga terkungkung dalam subyektif.

Narasi arogan disaat negeri terbebani pandemi, semakin menambah beban permasalahan kebangsaan, semangat bersyukur atas keragaman akhirnya dirusak dan dikoyak oleh elit yang gagal memahami sejarah kebangsaan dan partisipasi serta kontribusi atas negeri ini. Narasi arogan jika terus dilakukan dan diklaim sebagai kebenaran akan menjadi daftar panjang terjadinya “kecelakaan” kerukunan berbangsa. Kerukunan berbangsa yang sudah mengakar kuat, hanya karena narasi tak bernalar bisa berakibat memicu permusuhan.

Agama Islam telah memberikan banyak tuntunan dalam kehidupan lebih lebih sebagai seorang pemimpin yang seharusnya menjadi panutan, untuk bisa berkomunikasi dengan narasi yang penuh kebenaran (An Nisa’9 : Qaulan Sadidan :Perkataan yang benar, tepat). Narasi kebenaran, berisi kebenaran, dukungan data yang benar, dianalisa dan diucapkan secara tepat, sehingga mampu menggugah kesadaran diri untuk lebih berkontribusi pada negeri ini.

Ragam arogansi tidak berhenti pada narasi saja, tetapi juga menjangkau pada aksi – aksi kekerasan,  seperti peristiwa upaya penusukan pada seorang da’i bukanlah berdiri sendiri, tetapi bisa jadi ada skenario yang tersistimatis untuk menghalangi upaya dakwah Islam oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Proses penyidikan aksi arogansi masih dilakukan dalam waktu singkat muncullah narasi menuduh pelakunya orang gila. Semakin nampak betapa jahatnya narasi dan aksi ini, jika tidak ada upaya transparansi yang obyektif, adil dan profesional kedunguan ini akan semakin membawa banyak korban. Inilah yang sebenarnya aksi kegilaan, tidak ada penghormatan pada seorang yang terhormat pendakwah kebenaran, penuntun jalan kebaikan, dan penggugah kesadaran diri, sehingga begitu leluasa beragumentasi dengan klaim kebeneran sepihak.

Kita bersyukur dengan maraknya narasi dan aksi arogansi, semakin mengokohkan kita pada jalan kebenaran wahyu Ilahi, dan rekayasa kejahatan apa pun yang disembunyikan dan dikamuflasikan akan tampak setampak-tampaknya bahwa hal itu adalah kehinaan, sehingga kita terus melakukan dakwah yang mencerahkan untuk menguatkan persatuan, lahan dakwah Islam masih terbuka luas untuk memberikan kesadaran sehingga faham akan kebenaran, bukannya klaim kebenaran sepihak ternyata berisi kemunkaran. Semoga kita menjadi yang terdepan dalam memberikan keteladan dengan narasi dan aksi kebenaran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu