Tanya Jawab Agama: Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia | Berita Populer Lazismu

 


Ustadz H Imanan

LAZISMUSBY.COM 

Tahlilan Atau Yasinan (Selamatan) Untuk Orang Meninggal Dunia

 Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb

Maaf Pak Ustadz tentang Tasyakuran untuk kirim do’a (Tahlilan, Yasinan) untuk mengenang Almarhum/mah, apa ada tuntunannya, apa ada hadits shahih ?

(Dari Ketua Yayasan kaum dhuafa Al Ikhlas pusat Bojonegoro cabang Surabaya)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Terima kasih atas pertanyaan yang saudara /bapak ajukan.                                          

Penanya yang budiman, pertanyaan seperti ini sudah beberapa kali ditanyakan kepada kami. Dan insya Alloh jawabannya sudah pernah dimuat di majalah Lazismu dalam rubrik Tanya Jawab Agama. Namun untuk menjawab pertanyaan saudara/bapak di atas, perlu kami jelaskan kembali. 

Penjelasannya sebagai berikut:                                                      

Do’a (Selamatan) Tahlilan atau Yasinan untuk orang meninggal dunia, sebatas yang kami ketahui tidak kami temukan dalilnya, baik dalam Al Qur’an maupun hadits. Kami juga tidak menemukan contoh amaliyah dari ulama salaf. 

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdo’a untuk orang yang meninggal dunia, beliau  memohon ampun kepada Alloh dengan membaca istighfar. Demikian pula setahu kami Rasululloh shallallohun ‘alahi wa sallam tidak pernah mengirimkan pahala bacaan Tahlil atau pahala bacaan surat Yasin kepada seseorang  yang sudah meninggal dunia. Karena Rasululloh sendiri belum pernah menerima pahala dari Alloh Ta’ala atas segala amal yang dikerjakannya. Pahala itu baru akan diterimanya kelak setelah beliau menghadapi Alloh di akhirat..

Tradisi selamatan (tahlilan atau yasinan) 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari maupun 1000 hari  dan memperingati hari kematian (Haul) untuk orang yang meninggal dunia, sesungguhnya merupakan tradisi yang tidak ada sumbernya dari ajaran Islam.

Adapun tahlil, secara harfiah mengandung arti membaca kalimat la ilaha illalloh atau mengingat Alloh. Tahlil dalam konteks ini, tentu merupakan amalan utama yang sangat dianjurkan oleh al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Begitupun yasinan, artinya membaca surat Yasin dalam konteks membaca Al Qur’an, tentu merupakan amalan utama sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Namun ada satu hal yang harus kita pahami, bahwa Al Qur’an itu terdiri dari 114 surat, bukan hanya satu surat saja (surat Yasin). Semua surat atau ayat dalam Al Qur’an nilai pahalanya sama di sisi Alloh

Tentang membaca Surat Yasin atau Yasinan, kebiasaan  atau tradisi ini berlaku dalam masyarakat kita ketika tiap menghadapi sesuatu peristiwa, Ada keluarga yang sakit, dibacakan surat Yasin. Memintakan ampun, dibacakan surat Yasin. Malam pengantin – menjelang ijab dibacakan surat Yasin. Banyak kematian karena wabah penyakit dibacakan surat Yasin. Pindah rumah, dibacakan surat Yasin. Menghadapi permusuhan dengan perampok, pencuri, dibacakan  surat Yasin. Malam Jum’at akan khitanan, dibacakan surat Yasin. 

Pokoknya, menghadapi segala sesuatu atau akan berbuat sesuatu, dibacakan surat Yasin atau Yasinan. Demikianlah ketika itu yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita. Padahal baik Al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasululloh, tidak ada yang menerangkan bahwa dalam menghadapi atau menanggulangi sesuatu peristiwa itu harus dengan dibacakan surat Yasin. 

Adapun keberadaan tahlil orang yang meninggal dunia pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari tradisi tarekat. Tahlil memiliki fungsi yang sangat sentral bagi pengikut tarekat, sehingga terdapat gerak-gerak tertentu disertai pengaturan nafas untuk melafalkan bacaan tahlil sebagai bagian dari metode mendekatkan diri pada Alloh.

Berawal dari tradisi tarekat ini berkembanglah model-model tahlil atau tahlilan di kalangan umat Islam Indonesia. Di lingkungan Keraton terdapat tahlil rutin, yaitu tahlil yang diselenggarakan setiap malam Jum’at dan Selasa Legi; tahlil hajatan, yaitu tahlil yang diselenggarakan jika Keraton mempunyai hajat-hajat tertentu seperti tahlil pada saat penobatan raja, labuhan, hajat perkawinan, kelahiran dan lainnya. Di masyarakat umum juga berkembang bentuk-bentuk tahlil dan salah satunya adalah tahlil untuk orang yang meninggal dunia.

Masalah tahlilan untuk orang yang meninggal dunia ini di kalangan para pendukung gerakan Islam pembaharu (tajdid) seperti Muhammadiyah, sepakat memandang tahlilan orang yang meninggal dunia sebagai bid’ah yang harus ditinggalkan karena tidak ada tuntunannya dari Rasululloh. Adapun para pendukung gerakan Islam tradisional maupun gerakan tarekat, cenderung membolehkan dan bahkan menganjurkan tahlilan bagi orang yang meninggal dunia.

Esensi pokok tahlilan atau yasinan kepada orang yang meninggal dunia sebagai perbuatan bid’ah bukan terletak pada membaca kalimat la ilaha illalloh atau membaca surat Yasin, melainkan pada hal pokok yang menyertai tahlil atau yasinan, yaitu ; (1). Mengirimkan pahala bacaan tahlil atau surat Yasin kepada mayit atau hadiah pahala kepada orang yang meninggal, (2). Bacaan tahlil atau yasinan yang memakai pola tertentu dan dikaitkan dengan peristiwa tertentu.

Terdapat beberapa dalil untuk menolak praktik tahlilan atau yasinan. 

Pertama, bahwa mengirim pahala untuk orang yang sudah meninggal dunia tidak ada tuntunannya dari ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits Rasululloh. Ketika tidak ada tuntunannya, maka yang harus dipegangi adalah sabda Rasululloh, diantaranya:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم وأحمد

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan (agama) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak.” [HR. Muslim dan Ahmad]

Bahkan hadits lainl menegaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رواه مسلم

 “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasululloh shallalohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila manusia telah mati, maka putuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak saleh yang mendoakannya.” [HR. Muslim]

Kedua, terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia hanya akan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya sendiri. Dengan demikian masalah hadiah atau megirim pahala jelas bukan merupakan suatu tuntunan yang perlu dilaksanakan. Adapun ayat-ayat tersebut adalah :

1. Di dalam surat an-Najm (53): 39 Alloh Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى.  

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. an-Najm (53): 39]

Ketika menafsirkan ayat di atas, al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahulloh berkata, “Yaitu sebagaimana tidak dibebankan kepadanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri. Berdasarkan ayat ini Imam Syafii dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa bacaan Al-Qur'an yang dihadiahkan kepada mayat tidak dapat sampai karena bukan termasuk amal perbuatannya dan tidak pula dari hasil upayanya. Karena itulah maka Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk melakukan hal ini, tidak memerintahkan mereka untuk mengerjakannya, tidak pula memberi mereka petunjuk kepadanya, baik melalui nas hadits maupun makna yang tersirat darinya. Hal ini tidak pernah pula dinukil dari seseorang dari para sahabat yang melakukannya. Seandainya hal ini (bacaan Al-Quran untuk orang meniggal dunia) merupakan hal yang baik, tentulah kita pun menggalakkannya dan berlomba melakukannya. Pembahasan mengenai amal taqarrub itu hanya terbatas pada apa-apa yang digariskan oleh nas-nas syariat, dan tidak boleh menetapkannya dengan berbagai macam hukum analogi dan pendapat mana pun. 

2. Surat ath-Thur (52): 21 menegaskan:

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ.

“Dan Kami (Alloh) tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS. ath-Thur (52): 21]

3. Surat al-Baqarah (2): 286 menegaskan:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ. 

“Alloh tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya; ia mendapat  (pahala dan kebajikan) yang diusahakan/dikerjakannya; dan ia mendapat (siksa/dosa dari kejahatan) yang diusahakan/dikerjakannya.” [QS. al-Baqarah (2): 286]

4. Surat al-An’am (6): 164 menegaskan:

وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

: “Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [QS. al-An’am (6): 164]

Demikian jawaban dari kami, semoga bisa dipahami dan mencerahkan 

Wallohu a’lam bish-shawab. 


Komentar

  1. Alhamdulillah... semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. Memang sulit menyikapi kalau terpaksa harus berdomisili di lingkungan yang melanggengkan tradisi turun - temurun yang tidak jelas dasar hukumnya

    BalasHapus
  3. Memang sulit menyikapi kalau terpaksa harus berdomisili di lingkungan yang melanggengkan tradisi turun - temurun yang tidak jelas dasar hukumnya

    BalasHapus
  4. Manfaat dan cerdas...mantap

    BalasHapus
  5. Dakwah pke hp ,gk ada contoh dari rosul,berharap dpt pahala dan masa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasul diutus bukan untuk menyampaikan teknologi.

      Hapus
    2. Dakwah pakai mic juga ga ada.. dakwah kesuatu tempat naik motor juga tidak ada dijaman rasul.. ya tp itu tidak masuk dalam syari'at ya.. itu kan cuma sebagai media dijaman nya saja.. kalau tahlil yasin itu kan menyangkut syari'at .. lah motor hp itu kan benda, tidak masuk dlm syari'at

      Hapus
  6. Mohon utk nenyikapinya secara arif dan bijak, coba di kaji dari mazhab lain, karena islam itu ada 4 mazhab. Terima kasih

    BalasHapus
  7. Sangat, sangat bermanfaat untuk bagi orang yg mau cari tau kebenaran soal yasin tahlil orang yg sudah mati.trimakasih
    Wassalamu'alaium wr.. Wb.

    BalasHapus
  8. Setuju,, dan sangat bermanfaat dan jelas

    BalasHapus
  9. Secara bahasa tahlilan berakar dari kata hallala (هَلَّلَ) yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan ( تَهْلِيْلاً ) artinya adalah membaca “Laila illallah.” Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia. Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya. Begitu juga tahlilan sering dilakukan secara rutin pada malam jum’at dan malam-malam tertentu lainnya.Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut. Berdasarkan beberapa dalil, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya; عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosadosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll) Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا Bahwa, disunahkanmembacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik. Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan doa, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa untuk mayit. Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”. Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit. Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan: وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut. KH Abdul Manan A.Ghani (Ketua Lembaga Ta'mir Masjid PBNU)

    Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/tentang-tahlilan-dan-dalilnya-PieL8

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Agama: Zakat Uang Yang Masih di Pinjam Orang Lain | Berita Populer Lazismu

Tanya Jawab Agama : Hukum Membayar Zakat Secara Online | Berita Populer Lazismu