Lentera Hati: Dimensi Humanis Rasulullah | Berita Populer Lazismu

 


DIMENSI HUMANIS RASULULLAH SAW 

Oleh: M Khoirul Anam, MPdI


Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan puncak kebaikan, penghubung langit dengan bumi dan dunia dengan akhirat, sederhana dalam keagungan dan ramah dalam pembawaan, apabila melihatnya, bisa dijamin kita akan segera jatuh cinta kepadanya dan apabila bergaul dengannya maka engkau akan merasakan bahagia, begitulah pesona Rasulullah SAW manusia agung dan Mulia sepanjang masa.

Bagi tiap muslim, cinta kepada Allah adalah mutlak, demikian juga kecintaan kepada Rasulullah, kecintaan kepada keduanya harus lebih tinggi dari yang lainnya. Termasuk kepada keluarga dan diri sendiri. Mencintai Allah dilakukan dengan cara menteladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah (Ali-Imron : 31)

Kehidupan Rasulullah adalah wujud hidup dari ajaran islam sebagaimana yang di inginkan Allah SWT untuk diterapkan dialam nyata. Ajaran islam diturunkan bukan untuk dikurung di tembok-tembok masjid, dibelenggu diaula-aula bangunan dan diletakkan dilembah – lembah lamunan. Rasulullah menerapkannya dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam segala situasi dan kondisi, baik ketika tidur atau bangun, damai atau perang, ketika bergurau, senang, marah, saat sendiri atau bersama, jika beliau menyalahi aturan maka turunlah pembetulan, seperti yang kita mafhum dengan kisah Abdullah ibnu maktum sahabat yang buta itu.

Dari celah-celah sejarahnya akan terlihat jelas gambaran yang terang bahwa Rasulullah SAW adalah manusia dengan seluruh sifat kemanusiannya. Ia telah menduduki puncak kemuliaan manusiawi dan sebagai teladan yang ideal bagi seluruh manusia. Sebagai manusia biasa dalam segala situasi, beliau tidak terlepas dan tak terpisahkan dari sifat kemanusiaannya. Beliau juga merasakan sesuatu sebagai manusia merasakan pada umumnya. 

Muhammad SAW adalah manusia dengan seluruh sifat kemanusiaannya, sebagai manusia biasa, ia dilahirkan dengan ayah dan ibu yang jelas, bermain, belajar, bekerja, menikah  dan memiliki keturunan. Beliau berjalan dipasar, membawa barang dagangannya, menyapu rumah, menjahit pakainnya yang robek, membetulkan terumpahnya, memotong daging serta menyiapkan sayur didapur.

Sebagai seorang pemimpin, beliau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dihadapan hukum, memperoleh kemenangan dan kekuasaan, serta pernah merasakan kekalahan dan kesedihan, tubuhnya tidak terdiri dari besi, tetapi daging dan tulang biasa, kulitnya pernah robek, pelipisnya pernah  terluka parah dan 2 giginya pernah tanggal terkena pukulan di perang uhud.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang baik dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak ada manusia yang demikian sempurna dapat diteladani karena dirinya terdapat  berbagai sifat yang mulia. Disamping itu, nabi Muhammad SAW juga pernah mengalami berbagai keadaan dalam hidupnya, dari sinilah keteladan  itu muncul dari beliau. Beliau pernah merasakan hidup miskin. maka beliau berhias dengan kesabaran dan memperkuat dengan daya tahan diri, lewat sejarah hidupnya, beliau jelaskan betapa kecil dan sepelenya dunia ini. Lalu, dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang susah dengan selalu bersabar. 


Rasulullah juga pernah menjadi orang kaya, sehingga dapat dijadikan teladan bagaimana seharusnya menjadi orang kaya yang pemurah dan tidak sombong. maka beliau mengajarkan untuk  bersyukur kepada sang pemberi nikmat dan mengasihi semua mahluk. Beliau ajarkan manusia bagaimana pasal-pasal kedermawanan hati dan legenda-legenda kemurahan jiwa, beliau tebarkan kedamaian, sehingga beliaupun orang yang lebih lembut dari pada semilir angin, lebih halus dari kain sutra, dan lebih segar dari air gerimis yang mengudang.


Perbedaan satu-satunya beliau adalah diamanatinya wahyu plus mukjizat sebagai alat pembuktian dan pembenaran, dan senantiasa dibimbing oleh Allah jika melakukan tindakan yang kurang tepat. karena beliau adalah rasul pilihan dan kekasih Allah SWT. Selebihnya beliau adalah manusia biasa. 

Puncak kemanusiaan yang mulia pada sosok Rasulullah SAW, tersaji dalam kejujuran kepada manusia disegala masa dan tempat, agama dan bahasa, karena tidak tercampuri dongeng dan khurofat serta tidak ada kerusakan dalam analisis pendengki. Siapa yang membaca Sejarah Rasulullah akan terkagum – kagum, karena disinilah akan terlihat didalamnya unsur-unsur kemanusiaan yang justru dirindukan oleh manusia, karena jiwa-jiwa yang sehat selalu mencari kemuliaan dan bergantung kepada contoh teladan yang ideal. Allahumma sholli ‘ala Muhammad. “ Wallahu ‘alamu Bish Showab



Pencerahan :

Kehadiran Rasulullah SAW membawa kesegaran tersendiri dalam kegersangan kehidupan, ucapannya seakan embun dikelopak bunga. Bahasanya halus laksana kain sutra, Sikapnya lembut serasa angin semilir.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu