Jum'at Cerah: Ibadah Hampa Makna | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Nur Cholis Huda, M.Si (Dok. Lazismu)


LAZISMUSBY.COM 

Beberapa kawan mulai tekun beribadah ketika usia mereka memasuki kepala lima. Ada yang mulai belajar salat, menghentikan berjudi dan minuman keras. Mereka mulai tekun ke masjid. "Anak-anak sudah remaja, malu jadi orang tua hitam. Usia kita sudah bau tanah. Harus tobat Sebelum terlambat", alasan mereka aktif ke masjid.

Namun ketika seorang mantan menteri agama masuk penjara, hati mereka sangat gundah. "Bukankah dia tokoh agama? Ulama yang punya banyak jamaah? Lulusan Timur Tengah? Guru besar Islam bahkan hafal Alquran? "Nyaris sempurna tetapi bisa terlibat kasus penyimpangan uang sampai masuk penjara, iya".

"Karena dia manusia biasa, bisa salah dan masuk penjara", jawab saya. Mereka tidak puas dengan jawaban sederhana itu.? Ulama dengan kedalaman ilmu agama mestinya bersih dan bisa menahan diri. Ulama dan saya yang tidak ulama ternyata tidak beda. Saya kecewa sekali", kata salah seorang dari mereka. Untung kekecewaan itu tidak membuat mereka menjauhi masjid dan tetap tekun belajar agama.

Ketika seorang tokoh partai islam ditangkap KPK dalam kasus penyuapan, saya merasa pertanyaan beberapa tahun lalu itu akan muncul lagi. Dia seorang Ustadz, ditahanan juga tetap dipanggil Ustadz. Dibesarkan di pesantren lalu melanjutkan ke Timur Tengah. Maka wajar kalau ada yang bertanya seperti itu seperti dulu. Ternyata tidak! Anehnya jamaah berpikir lain. Menurut mereka kasus tokoh partai itu menunjukkan semua partai tidak ada yang bersih. Bahkan tokoh partai yang mengibarkan bendera moral,  dan merasa paling bersih ternyata juga tidak bersih.

Terlepas dari partai yang semakin banyak tokohnya terlibat kasus kriminal, ada yang harus menjadi renungan kita. Mengapa ketekunan ibadah seseorang tidak bisa menjadi benteng mencegah melakukan kejahatan? Orang yang fasih membaca Alquran, rajin ke masjid, berpidato dengan istilah agama yang mantap, piawai mengucapkan dalil dalam bahasa Arab ternyata tidak dijamin bisa menjaga diri. Padahal dalam teori Alquran, salat itu bisa mencegah perilaku buruk dan mungkar. Mengapa ketukan ibadah bisa tidak berbekas?

"Saya butuh orang baik, bukan orang tekun ibadah", kata seorang pengusaha. Dia butuh orang yang menepati janji, jujur, kalau hutang tidak ngemplang, ramah, tanggung jawab, tidak kasar dan bisa saling menghargai. "Kalau dia tekun ibadah Ya syukur, kalau tidak, itu urusan dia dengan Tuhan, bukan urusan saya. Saya butuh orang baik, bukan orang tekun ibadah".

Pertama kali mendengar, telinga rasanya tidak enak. Semula saya nilai dia salah. Tetapi setelah saya renungkan, dia benar. Kita membutuhkan orang baik. Yang ideal tentu amanu wa amilus sholihat. Beriman dan beramal saleh. Tetapi kalau harus memilih salah satu, akan pilih yang amilus sholihat.

Mengapa beriman atau tekun ibadah tidak otomatis berperilaku baik? Inilah PR besar kita. Kita mendirikan salat karena kewajiban atau kebutuhan? Sebagian besar karena kewajiban, bukan kebutuhan. Begitu selesai salat kita merasa plong karena lepas dari beban wajib. Tetapi kita tidak bisa menikmati Salat kita karena bukan kebutuhan. Buah salat juga tidak terlihat.

Ketika kita makan karena lapar, itu kebutuhan. Oh, alangkah nikmatnya. Ini dorongan dari dalam. Tetapi bagi anak yang dipaksa makan oleh ibunya, itu kewajiban karena takut kena marah. Artinya ada tekanan dari luar. Tidak ada nikmatnya makan. Kita sakit dan datang ke dokter, itu kesadaran dan kebutuhan. Kita bersedia antre dan membayar. Tetapi anak-anak takut diajak ke dokter. Dia mau karena terpaksa.

Sebagian besar kita melakukan ibadah karena kewajiban. Maka hilanglah kenikmatan. Baca novel tahan berjam-jam karena dorongan dari dalam. Baca al-quran sebagian orang tidak tahan setengah jam. Keliling Mall tahan satu hari. Shalat tarawih suka cari imam yang paling cepat selesai. Itulah bedanya perbuatan yang didorong dari dalam dan yang didorong dari luar ke dalam.

Yang ironis dan tragis dari sikap beragama yang tidak berbekas adalah ketika seseorang menulis pengaturan angka di kuitansi dengan mengucapkan: "Bismillahirohmanirohim semoga selamat". Dia Lalu menulis harga yang mestinya. Rp.10 juta ditambahi nol satu menjadi Rp. 100 juta. Ucapan bismillah untuk mengawali korupsi dan berharap Tuhan melindungi.

Sejak kecil agama diajarkan sebagai kewajiban. Fiqih lebih dominan daripada akhlak, bahkan terpisah dari akhlak. Dari kondisi melakukan karena ada kewajiban atau tekanan dari luar tidak kita ubah secara perlahan menjadi kebutuhan dari dalam. Inilah PR kita bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu