Siroman Rohani: Tolong Menolong Itu Sunnatulloh | Berita Populer Lazismu

 


TOLONG-MENOLONG ITU SUNNATULLOH

Abdul Hakim, M.Pd.I


وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

 وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan, bertakwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS Almaidah ayat 2)

“Bismillahirrohmanirrohim”. “Dengan Asma Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Inilah ungkapan religius seorang mukmin yang harus menjadi mukaddimah setiap kali melakukan aktivitas hablun minalloh dan  hablun minannas. Dengan mukaddimah itu,  setiap mukmin menyatakan ungkapan spiritualnya sehingga setiap amal menjadi bernilai, mendatangkan pahala, serta memberi manfaat baginya. Sebaliknya, tanpa “Bismillah”, amal atau aktivitas apa pun menjadi invalid karenanya. Dalam sebuah hadits,  Rosululloh saw bersabda “Setiap amal penting yang tidak dimulai dengan bismillah, maka amal itu menjadi cacat atau tidak sempurna.” 

Kalimat “Bismillah” itu mengandung makna betapa Alloh itu Maha Agung, Maha Besar, Maha Terpuji, Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Memberi Rezeki, Maha Menolong, Maha Membimbing, Maha Adil Maha Bijaksana, Maha Menerima do’a, Maha Teliti,  Maha Lembut, Maha Mencintai, Maha Melindungi, serta Maha Menyelamatkan. Alam semesta ini adalah ayat-ayat-Nya, tanda bukti betapa Alloh pemilik Asmaul Husna.  Pemilik cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.

Sudah menjadi irodah-Nya, manusia diciptakan dalam keragaman yang indah mempesona. Keragaman genetik, suku, bangsa, potensi, bahkan keragaman agama. Alquran menegaskan bahwa keragaman makhluk itu adalah bukti cinta dan kasih-sayang Alloh. Keragaman itu menjadi pintu dan pesan kemanusiaan yang sangat mendasar. Agar manusia bisa bersikap arif, adil, dan bijaksana. Tentu demi kemuliaan manusia itu sendiri.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling berlaku arif. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah  yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Alhujurot ayat 13).

Keragaman itu bahkan bisa berkembang dan diekspresikan dalam bentuk warna kulit, bahasa, budaya, status social, profesi, ekonomi, atau komunitas social tertentu. Tetapi, Islam mengingatkan keragaman itu bukan peluang manusia untuk membangun sikap eksklusif, egois, individualistic, eksploitatif, atau perilaku destruktif. Perbedaan dalam pandangan Islam adalah amanat agar manusia sebagai makhluk social bisa  saling mengedukasi, melakukan inovasi, membangun kebersamaan dalam mewujudkan peradaban atau kearifan hidup.  

Sebagai makhluk social, manusia pasti melakukan interaksi, saling berkomunikasi, saling berbagi dan saling melengkapi demi mewujudkan tatanan kehidupan  sosial, hukum, budaya, pendidikan, politik, iptek, dan keamanan yang adil dan harmoni di atas landasan nilai-nilai agama yang haq. Agar keragaman mendorong manusia membangun kebersamaan hidup,  membangun toleransi,  berlomba melakukan kebajikan semesta. 

Setiap manusia bisa  memiliki keragaman visi dan misi hidup. Keragaman itu rahmat. Karenanya, keragaman harus menyadarkan manusia untuk saling menghormati, saling menolong, saling melengkapi dalam suasana saling asah asih, dan asuh.  

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah meraih kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Albaqoroh, ayat 148).

Alquran Surat Ali Imron ayat 110 bahkan menggambarkan keunggulan manusia itu terletak pada komitmennya untuk selalu ber-amar  makruf dan ber-nahi munkar di atas sandaran iman.

“Kamu adalah umat  terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali imron ayat 110).

Tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Karena itu manusia harus berinisiasi untuk saling memberi manfaat, saling melengkapi,  membangun budaya tolong-menolong. Menasihati dan  membimbing ke jalan yang haq, memenuhi kebutuhan orang lain adalah karakter dan amanat social Islam. Islam (Alquran-Hadits) memerintahkan pemeluknya menunaikan zakat, infak, shodaqoh dan wakaf adalah wujud komitmen iman (hablun minalloh) sekaligus  ikatan kemanusiaan (hablun minannas). 

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Alloh dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Alloh dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Alloh dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS Ali imron ayat 112).

Komitmen iman seorang mukmin itu pasti mendorongnya untuk mewujudkan kepedulian social. Kepedulian social mukmin itu sejatinya adalah buah dari  aqidah atau keimanannya.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Attaubah ayat 60).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu