Memaknai Kecintaan dan Kepatuhan | Berita Populer Lazismu

 



MEMAKNAI KECINTAAN DAN KEPATUHAN

Oleh : Choirul Amin


Setiap orang pasti pernah mencintai sesuatu. Tak perduli objek yang dicintai tersebut berwujud atau tak berwujud. Misalnya cinta kepada Allah, para Rosul, Orang tua, tanah air bahkan mencintai sebuah profesi. Namun tidak sedikit dari mereka tak mampu mematuhinya. Mengapa? Karena untuk bisa mematuhi sesuatu seseorang tak cukup sekedar mengetahui obyek yang dicintai, tapi sekaligus butuh pemahaman, penghayatan bahkan pengorbanan. Tanpa itu semua mustahil ia bisa mematuhi apa yang disyaratkan oleh sesuatu yang dicintai. 


Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hubungan antara kecintaan dan kepatuhan diatas,  berikut penulis ketengahkan dua contoh peristiwa sebagai ilustrasi. Yang pertama terjadi pada zaman nabi Muhammad yaitu, kisah tentang Uwais AL Qarni dan yang satunya terjadi pada Zaman sekarang, yaitu tentang pemakaian masker di Masjid saat pandemi Covid-19.


1. Kisah Uwais Al Qarni

Menurut As’ad Alf (Radar, 17 Juni 2011) Uwais Al Qarni adalah seorang pemuda yatim dan miskin dari negeri Yaman. Ia tinggal bersama ibu kandungnya yang sudah tua renta dan matanya nyaris buta. Namun Uwais tetap menyayanginya dan mematuhi apa yang diperintahkannya. Pada suatu hari Uwais minta izin kepada ibunya agar diperbolehkan pergi ke Madinah untuk mendengar langsung ajaran islam dari nabi Muhammad, sosok yang dikagumi dan dicintainya. Sang Ibu tidak bisa menolak permohonan anak kesayangannya, tapi dengan satu syarat: jika ia (Uwais) sudah bertemu dengan Rasulullah, maka secepatnya ia kembali pulang ke rumah. Lalu berangkatlah Uwais ke Madinah dengan jalan kaki namun sayang setelah sampai di Madinah Uwais tidak bisa bertemu Rosulullah. Ia hanya bertemu Aisyah, istri Nabi, Aisyah berkata : Maaf, Beliau belum pulang dari Medan Perang. Mendengar jawaban seperti itu, lalu Uwais teringat pesan ibunya :Ia harus pulang segera, tak perlu menunggu Rasulullah kembali dari medan perang. Tak peduli jauhnya perjalanan dari Madinah ke Yaman yang ditempuhnya dengan jalan kaki . Subhanallah. Sungguh Uwais adalah pribadi yang berkomitmen yang kuat dan konsisten dalam melaksanakan komitmen tersebut. 

Uwais memang mencintai Rosulullah, tapi ia juga tak bisa melanggar kesepakatan yang telah disepakati oleh dirinya dan ibu kandungnya yaitu : Cepat pulang, bila sudah bertemu Rosulullah. Meskipun dalam kenyataannya ia tak bertemu Rosulullah itulah contoh konkrit dalam memahami kepatuhan  seorang anak kepada orang tuanya dan kecintaannya kepada Nabi Muhammad .


2. Pemakaian Masker

Meskipun belum pernah dilakukan penelitian secara nasional tentang seberapa patuh masyarakat memakai atau tidak memakai masker sejak kasus Covid-19 diumumkan secara resmi oleh pemerintah, 02 Maret 2020 , kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat terutama kelompok laki-laki dewasa enggan bahkan tak mau memakai masker walaupun mereka pada dasarnya tahu bahwa masker adalah alat yang cukup efektif untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19 tapi mengapa masih saja terjadi pelanggaran. Sekedar contoh misalnya. Sebagai orang islam tentu senang bisa melaksanakan Sholat lima waktu secara berjama’ah di Masjid sekalipun dalam keadaan tak normal seperti sekarang ini. Tapi dari sekian jama’ah yang hadir tersebut masihkah mereka mematuhi protokol kesehatan dalam hal ini  bersedia memakai masker?  Jika yang terjadi sebaliknya maka bisa diartikan mereka belum sepenuhnya mencintai Sholat berjama’ah. karena kehadirannya bisa membuat jama’ah lain merasa tak aman dan tak nyaman. 


Dari dua contoh  ilustrasi diatas, dapat dipahami bahwa kecintaan dan kepatuhan adalah dua hal yang mengandung konsekuensi logis, artinya kepatuhan itu merupakan wujud dari kecintaan itu sendiri seperti kepatuhan memakai masker karena dilandasi oleh kecintaan terhadap keselamatan hidup yang dianugerahi oleh Allah. Sekarang kembali kepada diri kita masing-masing. Mau memakai masker atau tidak terutama bila berada didalam masjid. Yang jelas resiko apapun akan kita terima konsekuensinya. Bagi mereka yang tetap tidak mau memakai masker tidak perlu merasa tersinggung apalagi marah bila diingatkan oleh jama’ah lain demi keselamatan kita bersama. Begitu juga bagi mereka yang setia memakai masker harus tetap bersabar karena untuk merubah kebiasaan apalagi keyakinan seseorang tidak mudah dan  butuh waktu, tidak seperti membalik telapak tangan kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu