Lentera Hati: Dahsyatnya Kekuatan Harapan | Berita Populer Lazismu

 



DAHSYATNYA KEKUATAN HARAPAN

Oleh: M Khairul Anam, M.Pd.I


Dalam sebuah ruangan terdapatlah 4 lilin yang menyala. Sedikit demi sedikit lilin tersebut habis meleleh. Suasana begitu sunyi, angin di luar ruangan senyap menambah keheningan malam itu, dalam suasana yang sunyi itu terdengarlah percakapan mereka.

Lilin pertama berkata “Aku adalah “Damai”. Namun manusia  tak mampu menjagaku, manusia sering bertengkar dari pada berdamai, mereka lebih suka memuntahkan dendam dan amarah daripada islah.  maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pun padam.

Selanjutnya lilin kedua berucap “Aku adalah “Iman”. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mengenalku, aku sering ditinggalkannya dan bahkan aku dianggap merepotkan aktifitas  maksiat manusia, oleh karena itu tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai berucap, anginpun berhembus memadamkan cahayanya.

Dengan nada sedih lilin ketiga berkata “Aku adalah cinta. Rasanya aku tak sanggup untuk menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna, kehadiranku tak dipedulikan lagi, manusia sudah saling bermusuhan, mereka sudah saling membenci satu sama lain karena hal yang sepele. Bukan itu saja bahkan mereka membenci kepada orang yang mencintainya. Mereka memusuhi keluarga, sahabat  yang mengasihinya. Maka tak menunggu waktu lama maka matilah lilin ketiga tersebut.

Tanpa disangka...datanglah seorang  anak masuk kedalam ruangan, dan melihat ketiga lilin telah padam semua. Karena takut akan kegelapan itu, maka ia pun bergumam, “eh apa yang terjadi ya?? Kalian harus tetap menyala, tahukan kalian bahwa aku sangat takut dengan kegelapan, tanpa kalian saya seakan buta tidak bisa melihat apa-apa dan bisa–bisa ketika aku berjalan bisa menabrak sesuatu dan itu sangat membahayakan diriku. Ayoo tetap menyala.....!” lalu ia pun menangis tersedu-sedu...

Lalu dengan terharu sang lilin ke empat pun berbicara, “hai... jangan takut dan jangan menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap bisa menyalakan ketiga lilin lainnya. Akulah sang "Harapan".

Dengan mata bersinar, senyum berbinar, sang anak mengambil lilin harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainya. (sumber : www.emotivasi.com )

Saudaraku! Apa yang tak pernah mati dalam hidup ini hanyalah harapan, ia ada dalam hati manusia, dan inilah yang menjadi pembangkit atau alat untuk memacu hidup yang lebih bergairah lagi tanpa dipayungi keputusasaan, seperti anak tadi, dalam situasi genting mampu menghidupkan kembali lilin damai, iman dan cinta dengan harapannya.

Semuanya bisa saja lenyap, namun jangan sampai pengharapan kita kepada Allah SWT ikut lenyap, sebab hanya itulah senjata terakhir yang akan memampukan untuk bangkit melecut diri menjadi pribadi yang damai dan mendamaikan kehidupan, pribadi yang teguh dengan berkayakinan kepada sang khaliq dan pribadi yang selalu menebar cinta dan kasih sayang kepada sesamanya.

Harapan sangat erat ikatannya dengan keyakinan. Yakni kita beribadah atau bekerja dengan akal dan hati kita untuk menggantungkan harapan yang kita miliki kepada Sang Pencipta agar apa yang kita harapkan dapat terwujud. Selain itu Ia menyakini bahwa ada Zat yang berkuasa atas apa yang kita harapkan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan

Saudaraku, dalam hidup saat ini. Kita semua jangan sampai kehilangan harapan. Bukankah guru kehidupan sering berujar kepada kita semua karena harapanlah seorang ibu menyusui anak-anaknya. Karena harapanlah seorang ayah rela kerja keras siang dan malam untuk keluarganya, karena harapanlah kita menanam pohon kelapa, meski kita tahu terkadang tak sempat memetik buahnya. Karena harapanlah anak-anak kita sekolahkan sampai jenjang yang tinggi. Seorang guru mendidik murid-muridnya dengan sabar dan telaten, tentu berharap agar kelak ia menjadi anak-anak yang berbudi dan berilmu mumpuni. 

Rasulullah SAW bersabda. “Kuatkanlah harapanmu dalam meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu (Shahih-muslim : 2664) hadits ini adalah dalil yang paling nyata tentang kewajiban berikhtiar mengejar harapan (cita-cita), serta menghilangkan kesantaian dan kemalasan dengan dalih takdir, yang biasa dijadikan alasan oleh para pecundang dan para pengandai-andai. Kita semua harus bertekad kuat dalam mengejar pengetahuan, perbuatan baik dan meraih rezeki yang halal serta bermanfaat, kita kerahkan segala kekuatan yang ada untuk meraih kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Harapan merupakan bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin ditinggalkan oleh setiap manusia. Orang yang tidak mempunyai suatu harapan  pada hakekatnya adalah manusia yang mati, mengingat harapan merupakan titik awal manusia untuk selalu berkembang menuju kehidupan yang lebih baik. Islam sendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap, “Dan hanya kepada Tuhanmulah (Allah SWT) hendaknya kamu berharap”.  (Qs Al Insyirah: 8) 

Harapan itu selalu ada, harapan kita maju melangkah ke depan. Harapan yang membuat kita selalu termotivasi untuk bisa mendapatkan yang lebih baik. maka selalulah kita memupuk mimpi dan harapan namun jangan lupa tetap berikhtiar dan berdo’a pada yang maha kuasa. Insyaallah apa yang kita cita-citakan akan terwujud, meski kita harus melewati beberapa ujian yang  menghadang di depan mata. Sekali kita kehilangan harapan, maka kita telah kehilangan kekuatan untuk menghadapi dunia yang keras ini. Apa jadinya kekuatan kita lumpuh, semangat melepuh, kita akan menjadi manusia yang tak memiliki kemuliaan diri lagi. “Wallahu ‘alamu bish-showab “


Pencerahan : Harapan adalah energi, Energi adalah sebuah kekuatan yang mampu menghidupkan bara perjuangan untuk menghadapi berbagai tantangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu