Keuangan Yang Maha Kuasa | Berita Populer Lazismu

 

KEUANGAN YANG MAHA KUASA

Oleh: Nur Cholis Huda, MSi 


Seorang teman memberi secarik kertas. Ada tulisan nakal dan iseng. Ketika tulisan itu dibaca seorang pengajar Pendidikan Kewarganegaraan, mendadak mukanya merah. Dengan nada marah dia mengatakan: "Ini penyebaran sifat jahat, niat iseng tetapi menghina dasar negara kita. Kalau dibaca anak sekolah lalu dibuat guyonan antar temannya, maka pelan-pelan masuk alam bawah sadar. Ini meracuni otak mereka".


Saya memahami kemarahan pak guru. Tetapi si iseng dengan santai mengatakan "saya memotret kenyataan. Kamu terlalu serius memandang Setiap kejadian, sehingga hidup serba tegang. Mari meniru gaya Srimulat, menertawakan diri sendiri dengan humor".


Inilah coretan iseng itu: "Panca Gila. Satu: Keuangan yang maha kuasa. Dua: kemanusiaan yang keji dan biadab. Tiga: Perseteruan Indonesia". Empat: Kerakyatan yang dipimpin kekerasan dan kepentingan golongan dalam berbagai persekongkolan. Lima: Keadilan sosial bagi segelintir rakyat Indonesia.


Ini bukan pertama kali saya membaca tulisan orang iseng memelesetkan Panca Sila. Ada yang memelesetkan satu atau dua sila, ada yang keseluruhan seperti Panca Gila di atas. Ini pelesetan yang membuat perasaan tersodok, tidak enak. Tapi mungkin si Penulis tidak bermaksud melecehkan dasar negara. Itu hanya ekspresi dari kekecewaannya pada kenyataan yang dia lihat. Atau semacam pemberontakan atas berbagai kemunafikan dan keculasan.


Misalnya keuangan yang maha kuasa. Kalimat itu memang pahit. Tapi itu potret dari godaan uang yang luar biasa zaman sekarang. Data yang diumumkan Kemendagri misalnya, sampai bulan Mei 2013 kepala daerah yang terlibat masalah hukum mencapai 293 dari 524 kepala daerah. Wakil menteri hukum dan HAM Denny Indrayana, Februari 2013 menyatakan 70% kepala daerah terlibat pelanggaran hukum, terutama korupsi.


Institusi penegak hukum, seperti kepolisian, Kejaksaan dan pengadilan sangat kumuh dengan korupsi. Sementara DPR seakan semua dosa terjadi di sana, terutama soal uang dan korupsi. Seorang ketua umum partai dan presiden partai akan susah dilengserkan Tetapi uang dengan mudah menggelincirkan mereka jatuh tak berdaya. Seorang guru besar berpredikat Teladan di universitasnya juga jatuh terjerembab tak berharga karena main-main dengan uang setelah mengurusi Migas. Seorang guru besar Islam, hafal Al-Quran sekaligus Menteri Agama harus terjungkal masuk penjara karena uang. Goncangan hebat terjadi ketika Ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap KPK karena terlibat korupsi. Kepercayaan tinggi masyarakat dibalas dengan penghianatan.


Uang telah menjadi pelicin yang paling licin. Banyak orang lemah iman tergelincir jatuh. Bagi yang belum, jangan sok bersih. Boleh jadi karena tidak hidup di tengah pusaran godaan itu.


Dalam pemilihan kepala daerah uang sangat penting. Ada gizi atau mahar untuk partai pengusung. Besarnya mahar bisa tawar-menawar. Ada partai minta mahar Rp 10 miliar bagi calon gubernur. Lalu calon menawar Rp. 8 milyar. Oke! Maka bunyi pepatah jawa "ngono yo ngono, ning ojo ngono", berubah menjadi: "ngono yo ngono, ning ojo semono". Segala hal maunya didekati dengan bahasa "Wani piro" (berani berapa).


Uang telah menjadi Tuhan baru, menjungkirbalikkan tahanan, tradisi dan keyakinan. Pengaruh penuhanan uang itu kadang menyusup sangat lembut pada urat nadi kehidupan sehingga tidak terasa. Organisasi remaja yang bersih dan lugu mulai dikotori pada calon pengurus dengan memberi Pulsa HP pada waktu pemilihan. Inilah bentuk paling awal dari money politics. Lalu pada ormas termasuk ormas keagamaan, "bantuan" itu meningkat berupa tiket pulang pergi dan biaya akomodasi selama kongres. Uang satu uang saku? Mungkin saja!


Pada ormas dan partai tentu boleh jadi besarnya gizi langsung ditetapkan. Wani piro? Rupiah apa dollar? Bahkan kepada Tuhan banyak orang ingin menyuap dengan uangnya. Caranya, dengan uang haram itu mereka membantu yatim piatu, tempat ibadah, berangkat haji dan umrah supaya dapat pahala dan pengampunan. "Yahsabu Anna maalahuu ahladahu", (Dia mengira hartanya itu bisa membuatnya kekal). (QS Al-Humazah ayat 3). Dengan uangnya dia ingin membereskan segalanya.


Para pahlawan pendiri republik ini kalau saja tahu pasti mereka sangat kecewa. Tidak pernah terbayang bahwa kalimat "berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa" di Pembukaan UUD 1945 ditikam dari belakang berganti menjadi "Berkat uang yang maha kuasa".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu