Dunia Pendidikan: Salaman Ala COVID-19 | Berita Populer Lazismu

 


Salaman Ala Covid-19

Oleh: Sudarusman, ST


“Lho? Kok salam hormatku tidak diterima? Bukannya bapak biasanya menerima salam saya dengan berjabat tangan?” ucap Ustadz sekolah keberbakatan Muhammadiyah Boarding Area Sport Art and Sains pagi itu ketika saya memulai menerapkan budaya baru protokol kesehatan musibah pandemi covid 19.


 “Iya, kemarin sore sekolah dapat edaran tentang cara memutus mata rantai penyebaran virus corona 19 dan langsung kita rapatkan bersama staf dan koordinator komunitas sekolah, ikut hadir saat itu karyawan tata usaha sekolah,” ujar saya sambil mengajak duduk diruang tunggu sekolah dengan tetap jaga jarak. Ustadz mengangguk dan kemudian duduk disebelah saya dengan jarak 1 meter. 


“Siap ustadz untuk mengikuti aturan baru protokoler kesehatan covid19, apa yang bisa saya bantu?” tanya ustadz kepada saya.

Saya merubah arah pandangan saya bergeser ke arah ustadz. Saya mengawali dengan cerita hasil rapat kemarin sore bersama staf dan koordinator komunitas, sekolah harus ada keberanian melakukan sebuah perubahan budaya atau kebiasaan salah satunya tidak harus bersalaman dengan berjabat tangan, namun diganti dengan menyentukan lengan kita dengan lengan orang lain, posisi tangan menggenggam, sehingga terbentuk huruf “X”,


Ustadz tersenyum mendengarkan cerita saya, sambil menggenggamkan tangannya lalu meminta saya untuk mempraktikkan.


“Genggaman tangannya harus sempurna ustadz, ibu jari menutup dua jari telunjuk, dan jangan lupa semuanya harus dilakukan dengan santai, senang dan gembira,” tambah saya dan wajah cerah ceria diwajah ustadz saat itu.


Tak lama kemudian, beberapa ustadz dan ustadzah yang lain ikut bergabung bersama di teras sekolah, sehinnga suasana menjadi lebih ramai. Apa lagi ditambah cerita pengalaman ustadz salamnya ditolak kepala sekolah dan diganti tos atau salam ala sekolah keberbakatan SMAM-X. Disambut dengan tertawa dan tidak sedikit yang ingin tahu ada apa dengan kejadian itu.


“Ustadz tolong bisa diceritakan sekali lagi, ada apa dan mengapa? Kebiasaan disekolah ini harus banyak berubah di situasi musibah pandemi covid19?” tanya salah satu ustadzah yang juga sebagai pembina bahasa asing.


Saya mengangguk, “Insya Allah saya akan ceritakan sekali lagi, dan mungkin agak panjang karena ada hubungannya rencana jangga pendek sekolah dalam menghadapi musibah covid 19.”


“Mengapa sekolah harus berubah?”


“Musibah pandemi covid corona 19 menjadi salah satu bagian tantangan di sekolah keberbakatan SMA Muhammadiyah 10 yang sering disebut SMAM-X. Saat ini tidak sedikit sekolah - sekolah di kota Surabaya untuk menjalani pendidikan di saat situasi musibah pandemi. Salah satunya dengan mematuhi protokoler kesehatan corona covid 19. Tidak hanya itu, proses belajar mengajarpun telah berubah dari tatap muka menjadi sistem belajar mengajar dalam jaringan (daring) alias online. Dengan begitu, proses belajar mengajar di sekolah harus dilakukan persiapan - persiapan yang berhubungan dengan infrastruktur juga sumber daya manusianya, artinya situasi saat ini dibutuhkan guru dan karyawan yang inovatif dan melek teknologi,”


“Maka dari itu, sekolah yang ingin bertahan disaat situasi musibah pandemi, mau tidak mau harus melakukan perubahan sistem pendidikan dari mulai standart nasional, standart proses, standart kompetensi, standart penilaian dan yang paling penting dan perlu disadari adalah perubahan paradigma belajar mengajar harus melakukan perubahan, Karena jika itu tidak berubah, bukan hanya berdampak kondisi sekolah tidak aman dan tidak sehat, tapi dikhawatirkan sekolah akan menghasilkan lulusan yang tertinggal dengan dinamika masyarakatnya.” Lalu, saya bertanya “Bagaimana ustadz dan ustadzah apa cerita saya perlu dilanjutkan,?” tanya saya sambil mengambil air mineral untuk sekedar menghilangkan rasa haus.


“Terus ustadz, ini pengetahuan baru, kalau bisa agak lama, agar semakin banyak tahu persiapan sekolah menghadapi situasi pandemi covid 19,” jawab salah satu ustadz di pagi haru itu.



“Persiapan sekolah keberbakatan menghadapi situasi musibah, terus ditingkatkan, dimulai dari pembelajaran jarak jauh (PJJ), Luring, hingga tatap muka efektif, bahkan persiapan yang selalu dilakukan evaluasi adalah membangun budaya atau khultur baru di era musibah pandemi. Dengan harapan setiap kegiatan sekolah memenuhi kreteria pencegahan covid 19. Saya yakin, jika sekolah sungguh-sungguh mau kerja keras dan tanggung jawab serta merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunjang beragam kegiatan dengan pola yang baru, insya Allah fungsi sekolah akan bisa kembali normal seperti sebelumnya. Siap ustadz dan ustadzah?” Tanya saya sambil melihat beberapa ustadz dan ustadzah mencatat apa yang saya sampaikan.


“Saya ingin bertanya ustadz?, Berarti budaya salaman untuk saat ini harus berubah dengan cara lain ustadz?” Tanya salah satu ustadz yang baru saja hadir.


“Bukan hanya cara bersalaman saja yang harus berubah, tetapi beragam kegiatan harus mengacu kepada protokoler kesehatan, artinya setiap bergiatan harus selalu memenuhi kreteria covid 19. Berati keluarga besar sekolah selama melakukan kegiatan disekolah, bahkan di rumah tetap harus menggunakan protokoler kesehatan. Intinya kita harus berani berubah, untuk menghadapi kehidupan yang baru. Dan itu semua tidak mudah dibutukan kerja keras dan keberaniaan untuk dipaksakan. Karena dengan keberanian melakukan kehidupan baru walaupun dengan cara terpaksa tidak masalah, dari keterpaksaan itulah diharapkan akan kebiasaan. Dari kebiasaan itu, lama kelamaan akan menjadi budaya atau kultur, bahkan pada akhirnya menjadi karakter kita semua, Tetap semangat dan salam sehat.” pesan saya di pagi itu, sambil mengucap salam tanda akhir dari kumpul - kumpul pagi itu, seraya mempraktikkan salaman ala Covid-19.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu