Tanya Jawab Agama: Kedudukan Shalat Taubat Dan Shalat Tasbih | Berita Populer Lazismu

 

Ustadz Imanan saat memberi tausiyah (Dok. Lazismu)


Kedudukan Shalat Taubat Dan Shalat Tasbih

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb


Maaf  Ustadz, shalat Taubat dan shalat Tasbih apa ada tuntunannya, jika ada apa haditsnya shahih?  Suwun..(Dari Ketua Ta’mir Masjid Al- Mu’minun Bulak Banteng, lewat WA)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh.

Bapak ketua ta’mir masjid Al-Mu’minun yang budiman, kalau kita membaca putusan Majelis Tarjih dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT cetakan ke 3 terbitan tahun 1976, halaman 318 atau terbitan tahun 2009 halaman 320, pada pembahasan KITAB SHALAT-SHALAT TATHAWWU’, disebutkan Shalat-shalat Tathawwu’ yang berdasarkan tuntunan dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. yang berdalil hadits yang shahih, ialah ;

1.   Shalat sesudah wudlu, 

2.   Shalat antara adzan dan qamat,

3.   Shalat Tahiyat (hormat ketika masuk) masjid, 

4.   Shalat Rawatib, 

5.   Shalat Malam 

6.   Shalat Dluha, 

7.   Shalat akan bepergian, 

8.   Shalat Istikharah (mohon dipilihkan), 

9.   Shalat kedua hari raya (Fitrah dan Adlha), 

10. Shalat Gerhana Dua (matahari dan bulan) dan 

11. Shalat Istisqa’ (mohon hujan). 


Adapun kedudukan shalat Taubah dan shalat Tasbih di kalangan para ulama terjadi perbedaan pendapat. Letak perbedaan dalam hal ini adalah berkaitan dengan perbedaan menilai hadits-haditsnya, Ada sebagian ulama berpendapat bahwa hadits-hadits tentang shalat Taubat dan shalat Tasbih ini haditsnya kuat, tapi ada sebagian ulama yang melemahkannya. Mungkin karena itulah Majelis Tarjih tidak memasukkan shalat Taubat dan shalat Tasbih  ini kedalam bab KITAB SHALAT-SHALAT TATHAWWU’.


Baiklah untuk lebih jelasnya akan kami paparkan hadits-haditsnya 


Hadits Tentang Shalat Taubat

 

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq, Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Alloh, kecuali Alloh akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui ” 

Takhrij Hadits

            Hadits tersebut  di atas diriwayatkan oleh Abu Daud no. 1521, Imam Ahamad dalam musnadnya :I:2,9,10. dan al-Maruzi dalam musnad Abi Bakar no. 9, 10. at-Thayalisi : II : 78 .  Imam Tirmidzi dalam kitab as-Shalat : 409 dan kitab at-Tafsir : 3009.   Ibnu Jarir dalam Jami’ul-Bayan 7852/7854, Ibnu Majah no. 1395 dalam Iqamatis Shalat wa Sunan fiha, dengan sanad gharib, melalui Utsman bin Abi Zur’ah, dari Ali bin Rabi’ah dari Asma’ bin al-Hakim al-Fazari dari Ali bin Abi Thalib, dari Abu Bakar as-Shidik.

            Hadits ini juga kita dapatkan dalam tafsir at-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan Dur Mansur oleh imam as-Syuyuti, dalam tafsir surah Ali Imran 135.

Dalam riwayat Tirmidzi dengan lafadh

عَنْ عَلِيٍّ يَقُولُ إِنِّى كُنْتُ رَجُلاً إِذَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيثًا نَفَعَنِى اللَّهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِى بِهِ وَإِذَا حَدَّثَنِى رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اسْتَحْلَفْتُهُ فَإِذَا حَلَفَ لِى صَدَّقْتُهُ وَإِنَّهُ حَدَّثَنِى أَبُو بَكْرٍ وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ ((وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ)) 

Dari ‘Ali Radhiyallohu anhu , dia berkata, “Aku adalah seorang lelaki, jika aku telah mendengar sebuah hadits dari Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam, Alloh Azza wa Jalla memberiku manfaat yang Dia kehendaki dengan perantara hadîts itu. Jika ada salah seorang sahabat Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam yang menyampaikan sebuah hadits kepadaku, maka aku akan memintanya bersumpah (bahwa dia benar-benar telah mendengar dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam -red). Jika dia telah bersumpah kepadaku, maka aku mempercayainya. Dan sesungguhnya Abu Bakar telah memberitakan sebuah hadits kepadaku, dan Abu Bakar telah berkata jujur, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang pun yang melakukan dosa, lalu dia berdiri kemudian bersuci lalu menunaikan shalat, setelah itu memohon ampun kepada Alloh, kecuali Alloh pasti akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini (yang maknanya-red), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [QS. Ali Imrân (3): 135]

Hadits ini sebenarnya tidak menyebutkan shalat 2 rakaat tersebut sebagai shalat Taubat, sehingga sebagian ulama menyatakan hanya sebagai salah satu fungsi shalat, namun sebagian lagi memberikan istilah shalat Taubat.

Penilaian Ulama Hadits Mengenai Status Hadits Shalat Taubat 

            Dalam sanad hadits tersebut ada seorang rawi yang bernama  Asma’ bin al-Hakim al-Fazari, beberapa ulama berselisih tentangnya, Imam ad-Dzahabi mentsiqatkan (mengkuatkannya), Ibnu Hibban mengatakan; ia adalah seorang yang tsiqah namun sering salah dalam meriwayatkan , al Bazar mengatakan Majhul (orang yang tidak diketahui jati dirinya) dan Ibnu Jarud mengatakan dha’if. Dengan demikian Asma’ bin al-Hakim al-Fuzari  adalah seorang yang  rawi yang diperselisihkan oleh ulama hadits. Imam Bukhari menulisnya dalam Tarikhul-Kabir dan beliau tidak memberikan komentar  sama sekali (Jarh wa Ta’dil) [lihat Tarikhul-Kabir oleh imam Bukhorie : 2 : 1 : 54]

Ibnu Hajar As Asqalani berpendapat sanad hadits ini maqbul (dapat diterima) [lihat Tahdzib at-Tahdzib : I : 267]

Al-Mizzi dalam Tahdzibul amal menjelaskan sebab kontroversialnya Asma’ bin al-Hakim al-Fuzari, adalah disebabkan sedikitnya ia dalam meriwayatkan hadits [lihat Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal : II : 533

Imam As-Syuyuti meng-hasankan, dan Imam As-Syaukani men-shahihkannya. [lihat al-Fawaid al-Majmu’ah. II: 55, dan pada foot notenya ke 3]

Hadits tersebut dapat dikatagorikan sebagai hadits mastur (mengikuti pengistilahan beberapa ulama’ seperti ; Imam al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibn Katsir dalam Tafsirnya I : 242) disebabkan  salah satu diantara rawi dalam rentetan sanad hadits terebut terdapat seorang  rawi, yang namanya ditulis oleh ulama jarh wa ta’dil, namun tidak diberikan komentar, berupa jarh (celaan) ataupun ta’dil (pujian). 

Para muhaditsin dan ulama’ yang menekuni ilmu rijal berbeda pendapat dalam mensikapinya. Jumhur ulama’ menerima perawi dalam bentuk yang seperti ini, mereka berhujjah dengan  kaedah ; al-aslu baraatut-dimmah, seseorang tidak bisa dianggap lemah kecuali sudah ada bukti dan kesaksian atas kelemahannya. Jika seorang rawi ditulis oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab Jarh wa Ta’dil-nya ataupun imam Bukhari dalam tarikh-nya maka diamnya dua imam tersebut adalah sebagai bentuk ta’dil (pujian) atas rawi yang ditulisnya, sebab kebiasaan mereka adalah menulis jarh (celaan) jika memang ada pada seseorang rawi, namun jika tidak, maka diamnya mereka adalah teranggap sebagai bentuk ta’dil  [lihat Imam Abi al-Hasan Muhammad bin al-Hayyi al-Laknawi al-Hindi, dalam ar-Raf’u wat-Takmil fi Jarh wa Ta’dil, hal 230-231].

            Ibnu al-Qatthan manganggap kekosongan jarh atau ta’dil (dengan ditulisnya nama seorang rawi, dan tanpa diberikan komentar atasnya baik itu berupa jarh maupun ta’dil), sebagai bentuk tajhil (bentuk isyarat bahwa perawi tersebut tidak dikenal perihal dan kedudukannya). [lihat Imam Abi al-Hasan Muhammad bin al-Hayyi al-Laknawi al-Hindi.dalam ar-Raf’u wat-Takmil fi Jarh wa tTa’dil, hal : 231].

            Sedangkan Ibnu Daqiq al-Id terkadang sepakat dan mengambil jalan Ibnu al-Qathan, dan terkadang juga mengambil jalan dan sepakat dengan jumhur. Dengan berbagai pertimbangan, yakni melihat kitab para ulama jarh wa ta’dil yang lainnya. Maka jika seseorang masuk dalam kitab yang memuat deretan nama perawi yang dianggap tsiqat, atau tidak didapatinya nama perawi tersebut dalam kitab yang terkumpul di dalamnya nama-nama orang yang lemah atau maudhu’at, maka diamnya Imam Bukhari dan Ibnu Adi teranggap sebagai bentuk ta’dil. [lihat Imam Abi al-Hasan Muhammad bin al-Hayyi al-Laknawi al-Hindi.dalam ar-Raf’u wat-Takmil fi Jarh wa Ta’dil,. hal 233-234].

Syawahid (hadits-hadits pendukung) shalat Taubah


            Jika kita telaah dengan seksama, maka kita akan temukan banyak syawahid mengenai dua hadits tersebut, dan diantaranya hadits yang ada memiliki hubungan matan yang sangat kuat, dilihat dari susunan matannya, yaitu sebagai berikut :


عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْه دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِثَلاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاثًا ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Humran maula ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallohu anhu; bahwasanya dia melihat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallohu anhu meminta air untuk berwudhu, kemudian dia berwudhu lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam wadah, lalu membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu, kemudian berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung lalu mengeluarkannya, kemudian membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, dan (mencuci) kedua tangannya hingga ke sikunya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, dan mencuci pada setiap kakinya sebanyak tiga kali, kemudian berkata; aku melihat Nabi shollallohu alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini dan bersabda: “Barang siapa yang berwudhu sebagaimana wudhu ini, kemudian sholat dua roka’at tanpa berbicara terhadap dirinya sendiri, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no.159, Muslim no.226, Abu Dawud no.106, An-Nasa’i no.102)


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ ، أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

Dari Abu Hurairah radliyallohu ‘anhu bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, kepada Bilal radliyallohu ‘anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu’ tersebut, berupa shalat yang telah dtetapkan kepadaku” (HR. Bukhâri, no. 1149 dan Muslim, no. 2458)


Dari Uqbah bin Amir radhiyallohu ‘anhu berkata:

كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ الْإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتِي فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِيٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّة

“Dahulu kami menggembala unta, lalu datanglah malam, maka aku mengistirahatkan unta tersebut dengan memberikan makan malam. Lalu aku mendapati Rasululloh shallallaohu ‘alaihi wa sallam berdiri berbicara kepada manusia. Dan dari sebagian sabdanya yang aku dengar adalah: ‘Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendirikan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya, kecuali surga wajib baginya.“ (HR. Muslim no.234)

           Hadits- hadits  di atas (Sebagaimana yang kami sebutkan dalam syawahid). Semuanya berkualitas shahih. Akan tetapi hadits –hadits tersebut oleh ulama hadits dimasukan dalam bab shalat sunnah sesudah Wudhu (Syukrul Wudhu), sebagaimana penjelasan berikut ini:

Al-Hafidh Ibnu Hajar  al Asqalani mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran shalat dua rakaat setelah berwudhu.”  Yang dianjurkan adalah melaksanakan langsung setelah wudhu. 

Imam An-Nawawi rahimahulloh berkomentar, “Dianjurkan dua rakaat setelah wudhu karena ada hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab, 3/545)

At-Tanari As-Syafi’i dalam kitab Nihayatuz Zain, hal. 104 mengatakan, “Di antaranya shalat sunnah wudhu setelah selesai berwudhu sebelum waktu berselang lama setelah selesai. Hal itu terwujud seperti shalat tahiyatul masjid. Jika melaksanakan shalat selainnya setelah wudhu baik wajib maupun sunnah. Maka (pembahasannya) seperti pada pembahasan tahiyatul masjid dari sisi mendapatkan pahala dan gugurnya pelaksanaan.” 

Pendapat para ahli tafsir,

            Kami rasa penting menyebutkan pendapat para mufasir, sebab diantara kitab tafsir ada yang disebut dengan tafsir bi riwayat, dalam tafsir yang demikian kita akan mendapatkan keterangan korelasi antara ayat al Qur’an dan sunnah.

            Imam Ibnu Katsir menyebut hadits yang dijadikan sandaran dalam shalat Taubat dalam tafsirnya surat Ali Imran ayat :135 , dan memperkuat dengan riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagaimana yang kami sebutkan dalam syawahid. Demikian juga Imam as-Syaukani dalam Fathul Qadir menyebutkan hadits tersebut dalam tafsirnya tentang surat Ali Imran ayat 135. hal yang sama juga kita temukan dalam kitab tafsir Dur al Mansur oleh imam as-Syuyuthi, dan at-Thabari, Dll.

Pendapat para ahli fiqh

            Selain pendapat ulama tafsir, juga penting untuk diperhatikan adalah pendapat para ahli fiqh, sebab degan melihat berbagai istidlal yang digunakan semakin memantapkan hati kita dalam satu permasalahan.

            Syekh Abdul Qadir al Jailani memberikan judul khusus dalam al Ghunyah tetntang shalat Taubat dari deretan shalat sunnah, dengan mengunakan dalil hadits yang kami sebutkan diawal.

            Ibnu Qudamah al Maqdisi dalam al Mughni (pasal shalat Taubat) menggunakan dalil riwayat Abu Bakar as Shidiq sebagaimana yang telah kami sebutkan sebagai sebagai dalil akan disyariatkannya shalat Taubat. Kemudian beliau menambahkan ” dan yang paling penting adalah bahwa taubat, istighfar dan doa selalu saja teriring dalam setiap shalat. Sedangkan do’a dan permohonan ampun dengan didahului amal kebaikan seperti shalat dan bacaan al Qur an sangat diharapkan untuk dikabulkan”.

            Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah juga memberikan judul tersendiri tetntang shalat Taubat dari deretan shalat sunnah dengan menggunakan dalil yang sama sebagaimana yang kami sebutkan diawal.

            Sedangkan DR. Wahbah Zuhaili nampak berbeda diantara yang lainnya. Dalam Fiqh Islami wa Adillatuha yang ditulis oleh beliau mengunakan hadits berikut sebagai dasar di sunnahkanya shalat setelah wudhu [lihat  Fiqh ul Islami wa Adillatuha, hal 1062]


Kesimpulan

Dapat diambil kesimpulan  bahwa terjadi khilafiyah di kalangan para ulama tentang hukum shalat Taubat ini, sebagian ulama berpendapat masyru’ (disyari’atkan) dan sebagian ulama  berpendapat  tidak disunnahkan, namun yang disunnahkan adalah shalat sunnah setelah wudhu’ (syukrul wudhu). Dan  in sya Alloh inilah pendapat yang paling kuat

Akan tetapi, jika ada yang memilih pendapat ulama yang menguatkan hadits tentang shalat Taubat tersebut, kami hargai. Dan silakan ia beramal dengannya jika memang ia yakini keshahihan haditsnya. Namun tentu saja ini didasari ilmu bukan hanya memperturutkan hawa nafsu belaka.

Adapun Hadits Tentang Shalat Tasbih adalah sebagai berikut:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallohu’anhuma, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

Sesungguhnya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa salam bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, “Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri? Maukah engkau aku kasih? Maukah engkau aku beri hadiah? Maukah engkau aku ajari sepuluh sifat (pekerti)? Jika engkau melakukannya, Alloh mengampuni dosamu; dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan, sepuluh macam (dosa). Engkau shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (al-Quran). Jika engkau telah selesai membaca (surat) pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, engkau membaca, ‘Subhanalloh, walhamdulillah, walaa ilaaha illa Alloh, wallohu akbar sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau turun sujud, ketika sujud engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Maka itulah 75 (dzikir) pada setiap satu rakaatnya. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukan (shalat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) sekali dalam umurmu”

Takhrij Hadits


Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud No. 1297; Ibnu Majah, No.  1387; Ibnu Khuzaimah, No. 1216; al-Hakim dalam Mustadrak, No. 1233; Baihaqi dalam Sunan Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.

Hukum dan Derajat Hadits

Para ulama berselisih pendapat dalam penentuan hukum dan derajat hadits ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahulloh menjelaskan, “Para ulama berselisih pendapat dalam shalat Tasbih, dalam masalah ke-shahih-an haditsnya dan hukum mengamalkannya. Maka, di antara mereka ada yang men-shahih-kannya, ada yang meng-hasan-kannya, ada pula yang men-dha’if-kannya (melemahkannya), bahkan ada juga yang menilai hadits maudhu’ (palsu)” Dari penjelasan beliau, kami ingin nukilkan beberapa perkataan ulama yang secara umum terbagi menjadi dua pendapat:

1. Pendapat pertama, yang menyatakan bahwa hadits-hadits shalat tasbih dapat dijadikan hujjah (yang tercakup di dalamnya hadits shahih dan hasan) dan dapat diamalkan.

2. Dan pendapat kedua, yang menyatakan bahwa hadits-hadits shalat tasbih tidak dapat dijadikan hujjah (yang tercakup di dalamnya hadits dha’if dengan segala jenisnya dan maudhu‘) dan tidak boleh diamalkan.

Di antara para ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama adalah para Imam berikut: Muslim (261 H), Abu Dawud (275 H), al-Hakim (405 H), al-Khathib al-Baghdadi (463 H), Ibnush Shalah (643 H), al-Mundziri (656 H), Imam an-Nawawi (676 H)3, al-‘Alaa-i (761 H), Badruddin az-Zarkasyi (794 H), al-Bulqini (805 H), Ibnu Nashiriddin ad-Dimasyqi (842 H), asy-Syaukani (1250 H), al-Albani (1420 H) Dan al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi (shahih dengan sebab pendukung-pendukungnya dari hadits lainnya). Lihat penjelasan beliau ini dalam kitabnya Shahih Sunan Abi Dawud (5/40-42)

Imam al-Mundziri (656 H) berkata di dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (1/528): “Hadits ini telah di-shahih-kan oleh jama’ah (para ulama), di antara mereka al-Hafidh Abu Bakr al-Ajurri, Syaikh kami Abu Muhammad Abdurrahim al-Mishri, Syaikh kami Abul Hasan al-Maqdisi”. .

Sedangkan para ulama yang berpendapat dengan pendapat ke dua, mereka itu para Imam yang disebutkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar (852 H) di dalam kitabnya at-Talkhishul Habir (2/7), mereka adalah: Abu Ja’far al-Uqaili (322 H), Abu Bakr Ibnul ‘Arabi (543 H), Ibnul Jauzi (597 H). Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata di dalam kitabnya at-Talkhishul Habir (2/7): “Dan (pendapat) yang haq (benar) adalah bahwa seluruh jalan-jalannya dha’if (lemah), walaupun hadits Ibnu ‘Abbas ini mendekati syarat hadits hasan. Akan tetapi hadits tersebut syadz (hadits  yang diriwatkan oleh seorang rawi maqbul /diterima tapi bertentangan dengan rawi yang lebih kuat), disebabkan; asingnya hadits ini, tidak ada jalan lain dan pendukung dari hadits lainnya yang dapat dijadikan standar (untuk memperkuat hadits ini), dan tata cara shalatnya yang menyelisihi shalat-shalat lainnya. Dan Musa bin Abdul Aziz (salah satu periwayat dalam sanad hadits ini) walaupun ia banyak benarnya dan shalih, namun ia tidak dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam hadits yang asing (menyendiri) ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) berkata di dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa (11/579): “…Hadits shalat Tasbih telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Kendatipun demikian, tidak ada seorang pun dari para Imam yang empat berpendapat bolehnya (melakukan shalat Tasbih) ini. Bahkan Imam Ahmad men-dha’if-kan hadits ini dan tidak menganggap bahwa shalat Tasbih ini mustahab (sunnah)… dan barangsiapa merenungkan (meneliti) dasar-dasar (ilmu), niscaya dia akan mengetahui bahwa hadits ini maudhu‘ (palsu)…”.

Hadits ini pun dilemahkan oleh Syaikh Ibnu Baaz (1420 H), Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (1421 H), Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan yang lainnya

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa para ulama berselisih dalam penentuan hukum hadits ini. Barangsiapa menganggap hadits ini dapat dijadikan hujjah (baik shahih maupun hasan dengan segala jenisnya), maka ia menghukumi bahwa shalat tasbih hukumnya mustahab (sunnah) di lakukan, seperti yang tertera dalam hadits tersebut. Dan barangsiapa menganggap hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah  karena haditsnya dha’if, maka ia menghukumi bahwa shalat Tasbih ini hukumnya bid’ah. Mungkin oleh karena itulah (In sya Alloh) Majelis Tarjih tidak memasukan shalat Tasbih ini ke dalam bab KITAB SHALAT-SHALAT TATHAWWU’

Dan in sya Alloh  pendapat yang kami pilih yang lebih menenangkan hati kami adalah pendapat yang menyatakan bahwa hadits shalat Tasbih adalah dhaif

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan mencerahkan.

Catatan:

Kami berpesan agar kita semua berhati-hati ketika ingin mengamalkan sesuatu yang masih menjadi perselisihan di antara para ulama. Berikut kami sampaikan jawaban yang kami pandang lebih hati-hati dan bijaksana dari Syaikh Shalih al-Fauzan di dalam kitabnya al-Muntaqa kepada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang shalat Tasbih ini. Beliau menjawab: “…Dan saya berpendapat untuk Anda wahai penanya, jika Anda memiliki keinginan dan semangat kuat untuk kebaikan dan melakukan ibadah, maka kami anjurkan Anda untuk melakukan shalat-shalat yang jelas-jelas disyariatkan dengan dalil-dalilnya yang sudah shahih, seperti shalat Tahajjud di malam hari, witir, menjaga shalat-shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha, dan memperbanyak shalat-shalat sunnah lainnya; (itu semua) mengingat tidak kuatnya (tidak shahih) shalat Tasbih tersebut dari Nabi `. Dan pada hadits-hadits yang shahih dan jelas, terdapat kecukupan bagi seorang mukmin yang memiliki semangat untuk melakukan kebaikan. 

Wallohu a’lam“.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu