Meraih Prestasi Umur #9: Kadang Allah Berikan Rezeki Hambanya Melalui Berbagai Ujian dan Musibah | Berita Populer Lazismu

 

Meraih Prestasi Umur (9)

KADANG ALLAH BERIKAN REZEKI HAMBANYA MELALUI BERBAGAI UJIAN DAN MUSIBAH 

oleh : Sunarko, S.Ag, M. Si)


Para Muzakki,  donatur dan dermawan yang budiman,  semoga kita bisa istiqomah dalam mensyukuri nikmat Allah sehingga nikmat Allah juga tiada putus diberikan selalu bagi hambanya yang selalu bersyukur. 

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ 

 "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7)

Pada Surat Ibrahim ayat 7 diatas terkandung dua hal yakni berupa reward/ bonus/penghargaan maupun punishment yakni ancaman yang bakal diberikan Allah SWT.

Bagi orang yang selalu bersyukur Allah akan memberikan bonus/penghargaan berupa tambahan nikmat yang tak terhingga, sebaliknya  bagi orang yang mengingkari nikmat Allah tentu pilihannya adalah siap menerima ancaman Allah berupa adzab yang sangat pedih.  Maka kita tinggal memilih yaitu syukur nikmat atau kufur nikmat. Kalau syukur sudah jelas balasannya, kalau memilih kufurpun sudah jelas sangsi yang bakal diterimanya. 

Kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allahpun kadang melalui proses yang tidak mudah harus melalui berbagai ujian dan musibah. 

Adalah Bapak Wahono (bukan nama sebenarnya), 46 Tahun salah satu donatur Lazismu Kota Surabaya Kuitansi N 0002 yang sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), beliau menuturkan kepada penulis tentang cara Allah memberikan rezeki kepadanya melalui berbagai musibah.  Tapi musibah itu diyakininya sebagai rezeki dari Allah yang menjadikan  berkah dalam hidupnya, orang bilang Sengsara Membawa Nikmat. Berikut contoh dua rezeki yang ia terima lewat jalan ujian /musibah yang dialami pak wahono :

Pertama,  bisa daftar haji dan qurban sapi di desanya setelah di uji Allah berupa sakit stroke.

Keinginan pak wahono ingin daftar haji bersama istrinya guna ingin melaksanakan rukun Islam ke lima tapi belum juga terwujud, lantaran untuk bisa daftar haji suami istri butuh dana sekitar Rp. 50.000.0000,- (lima puluh juta rupiah). Satu orang Rp. 25.000.000.- (dua puluh lima juta rupiah) 

Pak Wahono sudah puluhan tahun menabung tapi tabungannya belum cukup untuk daftar haji karena dari gaji yang ia terima dari kerja sebagai abdi masyarakat gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari disamping harus ngangsur di salah satu bank selama 8 tahun karena hutang buat beli rumah yang di tempatinya. Sebenarnya ia tidak ingin punya hutang di bank, kondisi tersebut di lakukan karena terpaksa/darurat. Ia ingin setelah menikah tahun 2000 bisa punya tempat tinggal tanpa harus kos atau kontrak. Hampir Dua puluh tahun menabung untuk daftar haji tapi tabungannyapun belum cukup untuk daftar haji karena baru terkumpul sekitar 20 jt. Tapi pak Wahono tidak putus asa dan menyerah,  ia yakin kalau tidak bisa haji tapi sudah ada niat dengan ihtiar menabung pasti Allah catat niat tersebut sebagai hamba yang bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya.  Ia yakin dengan firman Allah Surat Al Insyirah ayat 5-6 :

 فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا 

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

 إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا 

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S Al-Insyirah,  ayat 5-6)

Ia yakin bersamaan dengan kesusahan dan kesempitan itu terdapat kemudahan dan kelapangan. 

Pak wahono yang bekerja sebagai abdi masyarakat dikantornya sering ditawari oleh bank, baik konvensional maupun syariah. Beberapa tawaran dari bank itupun selalu ia tolak.  Tawaran datang lagi dan datang lagi akhirnya ia gabung terutama bank syariah. Sering ditawari asuransi tapi menolak.  Pada awal tahun 2018 ada salah satu asuransi  yang menyebutnya asuransi syariah menawarkan tabungan pensiun.  Pak wahono pun tertarik ikut tabungan pensiun. Ia berharap kalau sudah pensiun nanti diambil dan bisa digunakan untuk daftar haji kedua anaknya atau untuk keperluan lain dimasa tua. Ia ikut  dengan mengangsur menabung tiap bulan Rp. 500.000.- (lima ratus ribu rupiah). 

Pada tanggal 27 Februari  s/d 4 Maret 2019 pak wahono opname di RS Al Irsyad Surabaya karena sakit stroke. Menurut keterangan dokter sakit stroke yang diderita pak wahono bukan stroke ringan lagi melainkan sudah stroke berat karena dari hasil CT scan ada penyumbatan  darah di otaknya yang sangat parah. Saat itu tensi pak wahono 240/110. Karena stroke tersebut pak wahono sudah tidak bisa bicara lagi (bicaranya pelo),  tangan kanan dan kaki kanannya sudah lemah,  untuk jalan saja harus di papah dibantu oleh istrinya.  Tangan kanannya yang biasa untuk menulis dan tanda tanganpun juga tidak bisa.

Pada malam pertama opname di Rumah Sakit istri pak wahono menanyakan kepada dokter yang bertugas malam itu, saat itu pukul 24.00 WIB.  Kebetulan dokternya juga Profesor.  

Tanya istri pak wahono kepada dokter :

"Prof.. Gimana hasil CT scan suami saya"? dokter yang ditanya oleh istri pak wahono tidak langsung menjawab,  dokter itu ingin menjawab tapi terasa berat untuk menjawab. 

Istri pak wahonopun bertanya untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang sama : dokter,  gimana hasil CT scan suami saya? 

Akhirnya dokterpun menjawab dengan jawaban yang terputus-putus : suami ibu... (lama tidak meneruskan), ya dokter kenapa suami saya,  gimana hasilnya :

"Suami ibu.. mengalami penyumbatan darah di otak yang sangat parah"

Istri pak wahono bertanya lagi kepada dokter, apa masih ada harapan untuk bisa di sembuhkan dok suami saya?  

Dokterpun menjawab,  berdoa saja ibu,  Insya Allah bisa disembuhkan tapi butuh waktu yang sangat lama. 

Mendengar jawaban itu istri Pak Wahono sudah tidak bisa lagi menahan tangis, ia menyembunyikan tangisnya dari suaminya, bahkan setelah keterangan dokter tersebut istrinya tidak mendatangi Pak Wahono menyampaikan keterangan dokter tapi hanya bisa menangis diatas kasur dua meter dari suaminya berbaring.  Namun pembicaraan antara dokter dan istrinya itu seluruhnya di dengar juga oleh Pak Wahono. 

Pak Wahonopun gelisah mendengar percakapan istrinya dan dokter yang bertugas malam itu. 

Saat itu kondisi Pak Wahono memang kritis wajahnya lebam,  matanya sipit karena saraf matanya juga kena,  bahkan karena penyumbatan darah di otaknya ada darah yang mengalir lewat mulut Pak Wahono. 

Sampai jam 03.00 WIB Pak Wahono belum bisa tidur. Ia ingat saat berumur 6 tahun ayahnya sudah meninggal.  Ia yatim,  dan sejak kecil Pak Wahono sudah hidup susah karena hidup bersama ibunya yang janda dan sudah tua dengan ekonomi pas-pasan.  Pak Wahono juga takut meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.  Iapun berdo'a kepada Allah untuk memohon kesembuhan :

"Ya Allah.. Angkatlah penyakitku, beri hamba kesembuhan. Jika Engkau masih beri kesempatan hamba untuk hidup,  hamba ingin bertaubat dari segala kesalahan-kesalahan  dan hamba ingin menjadi orang selalu bermanfaat bagi orang lain. Ampuni hamba Ya Allah dan kabulkan do'a permohonan hamba.  Aamiin.

Akhirnya Pak Wahono tertidur.  Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan orang yang sangat dermawan.  Ia diajak keliling untuk mendatangi orang-orang yang miskin dengan membagi-bagikan bantuan berupa uang dan sembako. 

Tepat waktu adzan subuh Pak Wahono terjaga dari tidurnya lalu tayamum dan langsung sholat.  Ia tidak bisa wudhu karena oleh dokter hanya boleh berbaring, dudukpun tidak boleh karena dikhawatirkan penyumbatan diotaknya pecah dan bisa berakibat dengan kematian. 

Selesai sholat Pak wahono menceritakan perihal mimpinya kepada istrinya.  Dia bilang kepada istrinya.. Dik mungkin sedekah kita kurang. Mimpi yang saya alami tadi kita harus banyak sedekah.  Insya Allah inilah obat yang akan menyembuhkanku.  Saya ingat dik,  shodaqah itu bisa menolak bala'.  Sekarang kan tanggal 28 dan besuk sudah tanggal 1 Maret - gajian.  Tolong separoh gaji pean cari anak-anak tetangga yang punya tunggakan sekolah pean bayari,  seluruh satpam yang ada dirumah sakit, tukang parkir, tukang becak pean kasih uang dan kue-kue dari teman-teman yang bezuk pean bagi ke para pegawai rumah sakit. Perintah Pak Wahono pun di laksanakan oleh istrinya. 

Ternyata dengan mimpi tersebut dipraktekkan keluarga Pak Wahono dengan sedekah dan terus sedekah. 

Pak Wahono yang kerja di pemkot yang kebetulan juga ustadz ketika opname banyak teman-temannya baik dari para takmir masjid dan teman kerja membezuknya.  Oleh dokter pun istri Pak Wahono diingatkan yang bezuk agar di batasi biar suaminya bisa istirahat. Tapi oleh pak wahono sendiri justru suruh masuk semua yang bezuk sambil berharap do'a dari para pembezuk itu bisa membantu mempercepat kesembuhannya. 

Pada hari kedua opname ada teman Pak Wahono yang bezuk menyarankan agar Pak Wahono disamping pengobatan dari dokter juga menambah obat dari herbal (madu) yang harganya sekitar 2 juta satu set. Ada yang berupa madu ada madu yang sudah dikemas dalam kapsul. Satu jam dari minum obat dari dokter minum obat yang herbal juga diminum.  Saran tersebut juga dilaksanakan,  karena teman Pak Wahono menyampaikan ibunya juga stroke dengan herbal madu tersebut akhirnya sembuh. 

Pada hari-hari berikutnya setelah melaksanakan pengobatan tiap hari sedekah di tambah obat herbal kondisi Pak Wahono berangsur mulai pulih.  Tensi yang awal 240/110 perlahan turun demikian juga gula darah,  kolesterol dan lain-lain perlahan juga mulai normal kembali. Wajah yang semula lebam dengan mata yang hampir tertutup karena mata Pak Wahono sarafnya juga kena akhirnya juga mulai pulih. Diyakini oleh Pak Wahono dan istrinya perubahan yang sangat cepat terjadi itu karena keinginan yang kuat dari dirinya untuk ingin sehat kembali dengan terus tiada henti berdoa memohon kepada Allah.  Ihtiar lain yang dilakukan adalah selalu sholat tepat lima waktu walau dalam keadaan berbaring ketika dengar adzan berkumandang langsung tayamum dan sholat. Diluar sholat fardhu Pak Wahono juga tidak pernah putus sholat malam ditambah sholat dhuha.  

Pada saat dokter menganjurkan agar cepat bisa bicara suruh perbanyak ucapkan A, I,  U, E, O , saran dari dokterpun tidak di laksanakan ia justru teringat dengan Al-Qur'an. Huruf Hijaiyah itu kan banyak.  Pak Wahono berkeyakinan dengan digunakan untuk mengaji hafalan insya Allah bicaranya yang masih belum jelas (pelo) pasti akan segera kembali normal.  

Bu Wahono memang membawakan Al-qur'an dari rumah,  tapi Pak Wahono belum bisa menggunakannya untuk mengaji karena tangan kanan Pak Wahono masih lemas dan tak punya tenaga. 

Pada hari keempat di Rumah Sakit petugas asuransi syariah yang mengajak Pak Wahono ikut gabung dalam program tabungan pensiun mendengar kalau nasabahnya opname, kemudian menyampaikan ke Bu Wahono untuk membantu menyampaikan ke kantor asuransi pusat di Jakarta agar Pak Wahono bisa dibantu biaya pengobatan dan Bu Wahonopun menyetujui tentu atas persetujuan Pak Wahono. Saat itu kelengkapan berkas-berkas untuk klaim pun diminta petugas untuk diserahkan ke Asuransi syariah yang ada di jakarta termasuk hasil CT scan dan lain-lain. 

Pada hari ke enam opname tepatnya tanggal 4 Februari 2019 karena kondisi Pak Wahono sudah mulai membaik pihak RS membolehkan keluarga Pak Wahono untuk membawa Pak Wahono pulang karena tensi darah,  kolesterol dan lain-lain sudah normal. Akhirnya Bu Wahono membawa pulang suaminya dengan memesan mobil (ojek online). Saat mau pulang perawat menyiapkan kursi roda guna membawa Pak Wahono ke tempat mobil yang sudah parkir di depan Rumah sakit. 

Pada saat disodori kursi roda Pak Wahono menangis,  ia ingat setiap bulan melalui infaq spontanitas teman-teman dikantor minimal 5 unit kursi roda Pak Wahono memberikan bantuan kursi roda kepada orang yang stroke,  disabilitas. Pak Wahono sampaikan ke istrinya sambil menangis : "Biasanya tiap bulan saya berikan kursi roda kepada orang karena menderita stroke,  sekarang ganti saya yang harus pakai kursi roda karena stroke." Katanya sambil meneteskan air mata.

Dokter menyarankan ke Bu Wahono agar sesampai rumah Pak Wahono dibelikan kursi roda untuk fasilitas jalan-jalan.  Tapi Pak Wahono sampaikan ke dokrer : Insya Allah,  saya kuat dok dan gak akan pakai kursi roda. Semoga segera sembuh. 

Lima belas menit kemudian Pak Wahono akhirnya sudah sampai rumahnya. Ketika sampai di rumah ia masih banyak berbaring dan kalau ke kamar mandi harus diantar istrinya karena kaki kanannya masih lemah.  Obat dari dokter dan tambahan obat herbal juga selalu diminum tepat sesuai anjuran dokter.  

Malam pertama saat dirumah Pak Wahono bermimpi didatangi orang berjubah putih tinggi besar.  Banyak mayat-mayat juga yang di masukkan ke dalam rumah Pak Wahono.  Dalam mimpi itu karena ketakutannya Pak Wahono berlari ke dalam masjid dekat rumahnya.  Saat itu Pak Wahono terbangun dari tidurnya.  Ia masih ketakutan dengan mimpinya,  ia masih bertanya-tanya siapa ya orang berjubah putih besar itu. Jangan-jangan yang datang dalam mimpinya itu Malaikat izroil sang pencabut nyawa.  Ia makin ketakutan.  Mimpi itu akhirnya ia ceritakan sama istrinya. Tapi selang beberapa waktu,  tepat pukul 06.00 ada kabar tetangga pak wahono jarak satu rumah sebelah rumahnya meninggal dunia.

Pak Wahono berkzusnudzon kepada Allah,  ia yakin dengan mimpi yang dia alami bahwa Allah belum mengutus Malaikat untuk mencabut nyawanya,  ia yakin Allah masih memberi kesempatan untuk sembuh dan bisa memperbaiki hidup untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Pada hari kedua ada teman Pak Wahono yang bezuk kemudian menawari dan mengajaknya untuk terapi bekam dan pengobatan herbal.  Ia menceritakan ke Pak Wahono kalau tantenya pernah stroke tidak bisa jalan tapi setelah di bawa  ke rumah herbal itu tantenya bisa sembuh. 

Dari cerita temannya yang bezuk itu Pak Wahono menyetujui dan esuk harinya sepakat untuk terapi. 

Esuk harinya Pak Wahono di jemput temannya dan dibawa ke pengobatan herbal tibbun nabawi di wilayah Surabaya Selatan.  Pengobatanpun di lakukan.  Pengobatan awal di periksa oleh terapis kemudian disarankan cukur gundul untuk di bekam di kepala,  setelah itu dengan terapi pijat dan pemberian obat herbal untuk sakit sroke.  Pada awal-awal terapi seminggu sekali suruh datang kembali untuk kontrol. 

TERAPI SEDEKAH,  BACA QUR'AN,  SHOLAT MALAM,  BEKAM , JALAN SEHAT DAN POLA MAKAN SEHAT

Keinginan Pak Wahono untuk sembuh dari sakitnya memang kuat,  ia yakin bahwa takdir Allah itu bisa berubah. Jika ia tidak mengenal lelah untuk sembuh pasti ihtiar tersebut bakal dikabulkan Allah. Ia ingat Firman Allah Qur'an Surat Ar Ra'd ayat 11 :

 ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ 

"....Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS. Ar Ra'd, ayat 11).

Terus berusaha dan berdo'a itu yang dilakukan oleh pak wahono sekeluarga agar sakit yang diderita Pak Wahono sembuh.  

Ketika kaki kanannya masih lemah ingin bisa jalan ia ingat dengan sholat fardhu dan sholat malam.  Ia ingin jadikan sabar dan sholat sebagai penolong.  Sholat yang semula ia lakukan dengan duduk dan berbaring kini ia paksa untuk berdiri.  Awalnya sholat malam ia hanya kuat satu rakaat kemudian dilanjut dengan duduk atau berbaring dan itu dilakukan terus menerus sampai akhirnya butuh waktu satu bulan ia bisa berdiri sholat malam 11 Rakaat dan ditutup dengan witir 3 rakaat.  Alhamdulillah saya bisa jalan. 

Bicara yang semula masih belum jelas (pelo) terapi yang dilakukan Pak Wahono dengan perbanyak baca Al-qur'an. Setiap habis sholat wajib dan sunnah waktunya dihabiskan untuk baca Al-qur'an dan alhamdulillah perlahan Pak Wahono bisa bicara. 

Tangan yang semula tidak bisa menulis ia terapi dengan bola-bola kecil di remas-remas dengan tangannya guna merangsang syaraf di tangannya alhamdulillah bisa difungsikan lagi tangannya.  Setiap hari butuh berlembar-lembar untuk latihan menulis dan tanda tangan.  Akhirnya usaha yang tak kenal lelah membuahkan hasil Pak Wahono akhirnya bisa menulis dan tanda tangan seperti sedia kala setelah dengan sabar latihan satu bulan lebih. 

Pak Wahono akhirnya bisa jalan,  berbicara dan menulis.  Rasa syukur itu terus dilakukan dengan terus terapi rutin antara lain bekam dan pijat per dua minggu sekali, perbanyak sholat malam,  petbanyak baca Al-qur'an, perbanyak sedekah kepada sesama,  istri dan mertua Pak Wahono juga setia memasak masakan yang sehat dengan sayur-sayuran.  Makanan yang menjadi pantangan juga dihindari.  Kalau sebelumnya makan Pak Wahono banyak dengan menu makanan yang enak-enak seperti ikan bebek, sate kambing,  gule,  kikil dan lain-lain hijrah ke pola makanan yang sehat yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. 

Setelah satu bulan cuti dari kerja dan sudah bisa jalan akhirnya Pak Wahono masuk kerja,  tapi belum berani naik sepeda motor sendiri.  Istrinya setia antar jemput setiap hari hal itu dilakukan kurang lebih satu bulan. 

Pak Wahono yang sudah mulai kuat jalan kaki ia setiap hari jalan kaki ke masjid untuk jamaah.  Orang-orang yang ditemuinya tidak percaya kalau Pak Wahono baru sakit stroke sebab yang dilihatnya Pak Wahono sehat dan tidak ada tanda-tanda baru sakit stroke.  Untuk pemulihan setiap habis sholat shubuh berjamaah dan mengaji Al-qur'an Pak Wahono rutinkan jalan sehat.  Karena sudah merasa kuat pada bulan kedua Pak Wahono belajar sepeda motor dan alhamdulillah akhirnya bisa kekantor dengan bawa sepeda motor sendiri. 

Pada bulan ketiga istri Pak Wahono secara mengejutkan mendapat kabar dari petugas asuransi syariah bahwa klaim ke Asuransi di kantor pusat Jakarta untuk biaya pengobatan Pak Wahono di ACC.  Dan kabar baik juga dapat dana Rp.  50.000.000.- (lima puluh juta rupiah)  dan sudah ditransfer ke rekening Pak Wahono.  

Belum percaya dengan info tersebut akhirnya istri Pak Wahono melihat langsung di bank.  Akhirnya Pak Wahono berembug dengan istrinya dana tersebut akan di gunakan untuk daftar haji.  Tidak menunggu lama Pak Wahono konsultasi dengan temannya yang ngurusi KBIH.  Di sarankan ke bank untuk bayar dua orang Rp. 50.000.000 untuk siami istri daftar haji,  proses daftar haji dikemenagpun juga tuntas.  Tidak tahu berapa tahun lagi menunggu realisasinya untuk bisa pergi ke Mekkah untuk menunaikan Rukun Islam kelima yang penting sudah ada niat dan sudah daftar.  Kegembiraan tentunya juga dirasakan oleh Bu Wahona dan keluarganya sambil berdo'a semoga Allah memberi umur panjang dan bisa melaksanakan panggilan Allah untuk ibadah haji.  Kini Pak Wahonopun menabung sedikit-sedikit untuk bisa Umrah. 

Teringat tabungannya di bank yang dikumpulkan untuk daftar haji.  Dana tersebut yang sudah terkumpul Rp. 20.000.000,- akhirnya diambil dan di Gunakan untuk ibadah yang terkait dengan ibadah haji yakni Qurban.  Uang Rp. 17.500.000,- ia belikan sapi di desanya untuk Qurban.  Alhamdulillah daftar haji dan bisa qurban sapi itu bisa dilakukan oleh Pak Wahono pasca diuji Allah dengan sakit stroke.  Semoga qurban Pak Wahono dan keluarga diterima Allah SWT dan kelak benar-berar bisa ke baitullah untuk menunaikan ibadah haji.  Aamiin.  (BERSAMBUNG di edisi bulan berikutnya) 


-----------------------------------------------------

)* Penulis adalah Ketua LAZISMU Kota Surabaya dan Kasi Bina Sosial Keagamaan Dinas Sosial Kota Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu