Mata Hati: Jagalah Lisan | Berita Populer Lazismu

 

JAGALAH LISAN

Oleh: Muhammad Khoirul Anam, SPdI


Segala puji hanya milik Allah swt, Sang pencipta, pengatur, dan tiada pernah henti-hentinya menyediakan segala kebutuhan makhluk-Nya dan Dia tidak pernah minta imbalan apapun atasnya.

Shalawat dan salam semoga tetap terhaturkan kepada manusia agung, nabi Muhammad saw dengan segala kemuliaannya, dan memang hanya beliau yang pantas dijadikan uswah dalam semua sendi kehidupan manusia.

Ada satu organ tubuh manusia yang relatif pendek, organ ini tidak nemiliki tulang sebagai penyangganya, lebih banyak tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari, namun organ ini sangat besar manfaat maupun madhoratnya. Lidah ….. ya itulah lidah.

Lidah dan lisan merupakan salah satu organ tubuh yang tidak dapat dipisahkan, satu kesatuan yang saling mendukung. Tanpa lidah,  mustahil lisan  bisa mengatakan sesuatu. 

Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk berhati-hati tentang lidah. Dalam surat Qaf ayat 18 Allah swt berfirman yang artinya “Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadi". Ayat ini memberikan penjelasan bahwa apapun ucapan yang keluar dari mulut ini semuanya akan dipertanggungjawabkan.

Ada pepatah mengatakan “Lidah itu lebih tajam dari pada pedang“. Kita mungkin pernah mendengar atau bahkan melihat kejadian pembunuhan. Setelah diintrogasi, pelaku mengatakan bahwa dia membunuh karena merasa sakit hati sudah di fitnah oleh korban. Berita fitnah itu menyebar hingga merusak nama baik diri dan keluarganya. 

Dalam sebuah kejadian, tentu kita harus arif menyikapinya, jangan hanya menilai akibat tanpa melihat sebab. Contoh kejadian pembunuhan diatas, tentu lisan dan lidah sebagai penyebabnya. Kita tidak membenarkan adanya pembunuhan, tapi menfitnah jelas perbuatan terlarang yang sangat dibenci agama.

Beberapa hadist Rasulullah saw yang berkaitan dengan lisan. Sabdanya “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik ( kalau tidak bisa berkata yang baik) hendaklah ia diam“. Sabdanya juga yang artinya “Muslim yang sebenar-benarnya muslim adalah manakala muslim (orang) lain merasa aman dari perbuatan (buruk) lisan dan tangannya“.

Kadang tanpa dipikirkan terlebih dahulu, seseorang berkata yang menyakiti perasaan lawan bicaranya. Bisa jadi karena dia lebih terhormat kedudukannya, atau lebih tinggi pangkatnya, atau mungkin dia lebih kaya. Islam tidak memandang itu semua. Firman-Nya “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah hanyalah orang yang paling  bertaqwa kepada-Nya.“ ( Q.S. Al-Hujurat ayat 13).  

Saudaraku, adakalanya seseorang yang kita sakiti tidak membalas apa yang kita lakukan. Bukannya dia TIDAK BISA MEMBALAS, tapi dia TIDAK MAU MEMBALAS karena  dia lebih berat terhadap pertemanan yang selama ini sudah terjalin. Tapi kita harus ingat, terkadang pada posisi tertentu, dia bahkan bisa membalas dengan yang lebih sadis dari apa yang kita lakukan terhadapnya.

Jangan hanya mengandalkan permohonan maaf terhadap apa yang sudah kita lakukan, sementara orang lain sudah terluka hatinya. Dan janganlah kita hanya menyalahkan orang yang tidak mau memberi maaf, karena kadar sakit hati tentu berbeda-beda.

Berfikirlah seribu kali sebelum kita mengatakan sesuatu. Jadikan diri sebagai ukurannya. Apakah kita marah seandainya kalimat yang terucap itu meninpa  kita, Prinsip dalam bergaul, lebih mulia  berhati-hati dalam berkata dari pada  sering meminta maaf atas kesalahan ucapan.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam hidup ini, sehingga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang bangkrut pada hari kiamat, disaat amal kebaikan kita diberikan kepada orang yang sudah kita sakiti semasa hidup di dunia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu