Konkes Lazismu: Jenazah COVID-19 | Berita Populer Lazismu

 

 

dr Tjatur Prijambodo MARS

TANYA:

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Pengasuh Konsultasi Kesehatan Lazismu Surabaya yang dirahmati Allah. Di era Pandemi ini, semakin banyak angka kematiannya, dan yang ironis adalah adanya pemahaman yang salah, bahkan penolakan warga pada jenazah pasien Covid-19. Benarkah masih bisa menularkan penyakit dan bagaimana penanganannya? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

covinanovitasari@gmail.com


JAWAB:

Wa’alaikumussalam Wr Wb. 

Mbak Novitasari yang lagi prihatin. Sebelum membahas jenazah menular atau tidak, ada baiknya dipahami konsep sakit. Secara ringkas, penularan penyakit Covid 19, tergantung pada kondisi Virus, kondisi Jenazah, dan kondisi di sekitarnya. Pandemi ini telah membuat masyarakat panik. Tetapi jika mengetahui ilmunya, in syaa Allah tidak terjadi kepanikan, juga tidak terjadi meremehkan. 

Berbagai langkah pencegahan penularan, pemeriksaan dan pengobatan sudah dilakukan, tetapi masih ditemukan penderita yang meninggal. Benarkah Jenazah Pasien Covid-19 bisa menularkan Virus Corona? Pertanyaan itu muncul di benak sebagian masyarakat Indonesia. Karena itu warga menolak jenazah pasien positif terjangkit virus corona dimakamkan di lingkungan mereka. 

Indonesia kini menempati peringkat ke-5 kematian akibat virus corona (Covid-19) di Asia. Menurut data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona Indonesia, persentase kematian pasien virus corona mencapai 8,63%. Memang benar, jenazah pasien Covid-19 masih bisa menyebarkan virus corona. Karena cairan tubuh tersebut, kalau memang mengandung virus, maka virusnya masih bisa bertahan. Cairan tubuh yang dapat menyimpan virus dalam waktu yang cukup lama adalah protein dalam tubuh. Oleh karena itu, penanganan jenazah pasien virus corona akan dilakukan dengan penanganan khusus seperti pasien dengan penyakit menular. 

Adapun protokol kesehatan terkait penanganan jenazah corona telah diterbitkan Kementerian Kesehatan RI dan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI, tentang:

1. Petugas di RS harus memberi penjelasan kepada pihak keluarga, tentang penanganan khusus bagi jenazah dengan penyakit menular, dengan memperhatikan sensitivitas agama, adat istiadat dan budaya. Pindahkan sesegera mungkin ke kamar jenazah setelah meninggal dunia

2. Pengurusan Jenazah, yang harus dilakukan oleh petugas kesehatan di Rumah Sakit yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan. Jenazah Pasien Covid-19 ditutup dengan kain kafan/bahan dari plastik (tidak dapat ditembus air), dan diikat dengan sempurna.  Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam keadaan mendesak seperti autopsi dan hanya dapat dilakukan oleh petugas khusus. Kemudian, Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam. Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, diijinkan untuk melakukannya sebelum jenazah dimasukkan ke dalam kantong jenazah dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Resiko penularannya pun cukup tinggi dari jenazah ke orang yang masih hidup. Potensi penularan dari jenazah, akan semakin tinggi bila tak segera dimakamkan.

3. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik pengawet. Jika akan diotopsi harus dilakukan oleh petugas khusus, jika diijinkan oleh keluarga dan rumah sakit.

4. Sholat Jenazah, dilakukan di Rumah Sakit Rujukan. Jika tidak, sholat jenazah bisa dilakukan di masjid yang sudah dilakukan proses pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfeksi setelah sholat jenazah. Sholat jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari 4 jam. 

5. Pemakaman jenazah, sebelum diantar ke pemakaman, kamar jenazah, tenaga medis, hingga mobil jenazah khusus disemprot disinfektan. Majelis Ulama Indonesia pun telah mengelurkan Fatwa Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim Yang Terinfeksi Covid-19. disebutkan: 

Dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis. 

Dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan. Jenazah dimasukan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan, agar saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al-dlarurah al-syar’iyyah)

6. Lokasi pemakaman, harus berjarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum dan berarak setidaknya 500 meter dari pemukiman terdekat. Jenazah harus dikubur pada kedalaman 1,5 meter, lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter.

7. Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam pemakaman jenazah.

Meski terasa sangat berbeda, jika dibandingkan dengan penanganan jenazah bukan pasien virus corona, namun kita sudah semestinya merelakan kepergian orang yang dinyatakan meninggal dunia akibat virus corona dan merelakan jenazahnya ditangani oleh pihak yang berwenang. Proses pemakaman jenazah virus corona memang wajib dibedakan dengan pasien penyakit lain, meski begitu bukan berarti kita harus menolak jenazah tersebut akibat takut tertular Covid-19. Dari rangkaian penjelasan diatas, tidak sepatutnya jenazah pasien covid 19 ditolak, karena saat jenazah di rumah sakit, sudah mendapatkan perlakuan yang sudah sesuai dengan pedoman yang ada. Semoga kita tetap diberi kesehatan yang optimal dan dibebaskan dari penyakit apapun. Aamiin. 

Demikian jawaban kami. Semoga ada manfaatnya. 

Wassalamu’alaikum Wr Wb.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu