Dunia Pendidikan: Kolektif Kolegial | Berita Populer Lazismu

 


Kolektif Kolegial

Oleh: Sudarusman, ST


“Sekolah kita ini ibarat mau ikut lomba lari maraton, bukan ikut lomba lari sprint atau lari jarak pendek, jadi dibutuhkan stamina, strategi, perencanaan dan kekuatan mental, serta yang paling penting kerja sama, jika tidak, sekolah akan kehabisan stamina alias berhenti ditengah perlombaan.”


Petikan tersebut sering terdengar di setiap pertemuan guru dan karyawan dalam acara pembinaan yang diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun di sekolah keberbakatan SMAMX. Tidak hanya itu, sistem kepemimpinan “kolektif kolegial” juga menjadi bagian yang selalu menjadi prinsip dalam menjalankan roda kepemimpinan sekolah. Karena sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama terasa jauh lebih ringan dan mendapatkan hasil yang lebih sempurna. Kerja kolektif kolegial itu menyempurnakan dan saling melengkapi hasil dari beberapa orang dengan kemampuan yang berbeda. Dengan kerja sama tersebut tidak sedikit guru dan karyawan menghasilkan ide, gagasan dan konsep hingga menjadi karya serta produk unggulan sekolah yang berkualitas. Kerja dengan sistem kepemimpinan kolektif kolegial tidak hanya produktif, namun bisa membuat sesuatu lebih efisien serta efektif.


Dalam setiap melakukan pekerjaan di SMAM-X guru dan karyawan diharuskan secara kolektif kolegial. Dengan kebersamaan itulah, SMAM-X mampu melakukan percepatan dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggul yang lahir lebih awal. Semakin dipergunakan prinsip lari jarak jauh bahwa butuh strategi, stamina, perencanaan dan kerjasama sekolah akan semakin tumbuh dan berkembang. Bahkan tidak mustahil, sekolah akan mampu mendahului sekolah-sekolah unggul dan favorit. Itu semua dikarenakan posisi sekolah yang menerapkan pola kerja kolektif kolegial tidak pernah kehabisan stamina alias produktif. Produk-produk unggulan selalu ada dan memiliki kualitas yang lebih baik dari yang lain.


Menghasilkan produk atau karya unggulan yang berkualitas tidak mungkin dilakukan oleh keahlian personal. Oleh karena itu, dengan diterapkannya sistem kolektif kolegial di SMAMX merupakan solusi yang tepat agar sekolah mampu melakukan inovasi secara terus menerus sehingga kemampuan mencipta dan menangkap peluang akan terus terjaga dengan baik. Tidak hanya itu, melalui kerja sama kemampuan inovasi dan improvisasi guru dan karyawan akan mampu menghasilkan konsep-konsep yang unik dan menarik sehingga produk yang dihasilkan berkualitas tinggi serta kekinian.


Bekerja dengan tim atau grup jauh lebih memberikan manfaat dan tahan lama dibanding dengan kerja secara personal. Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat individual masuk dalam sistem keseluruhan sehingga terdapat sebuah kesatuan. Budaya ini sudah dilakukan sejak awal berdirinya sekolah keberbakatan SMAM-X, sehingga muncul isilah komunitas-komunitas yang mereka membawahi potensi, dan masing masing potensi dan komunitas bertanggung jawab ke koordinator hingga pada akhirnya merujuk ke waka urusan. Dalam pelaksanaan di lapangan pola bekerjanya dilakukan dengan pendekatan sistem kepemimpinan kolektif kolegial, sehingga yang terlihat di SMAM-X pekerjaan dikerjakan secara grup atau kelompok, tidak menonjolkan kemampuan personal.


Dengan kata lain, sekolah keberbakatan SMA Muhammadiyah 10 benar-benar menggunakan sistem kepemimpinan yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam mengeluarkan keputusan atau kebijakan melalui mekanisme musyawarah untuk mencapai mufakat atau lebih mengutamakan semangat kebersamaan, sebab SMAMX percaya bahwa melalui kebersamaan akan dihasikan karya-karya yang inovatif yang lebih berkualitas.” 


Demi mendukung itu semua, memasuki usia ke 6 tahun, sekolah keberbakatan SMAM-X terus mengajak keluarga besarnya terutama guru dan karyawan memahami karakter dan kemampuan masing-masing, saling membantu dan menerapkan profesionalisme tanpa pamrih, atau suka rela dalam melakukan pelayanan baik internal maupun eksternal. Dengan pelayanan yang prima, sekolah akan semakin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang semakin meningkat. Kesepahaman yang saling menguntungkan ini bisa terjadi antara Kepala Sekolah dengan guru dan karyawan, sekolah dengan orang tua atau guru dengan karyawan. Keadaan ini sering disebut pelayanan internal dan eksternal. Kepala Sekolah, guru dan karyawan harus mengesampingkan ego sektoral dan menumbuhkan ego komunal. Jika itu terjadi maka sekolah akan mampu menciptakan hubungan yang baik dengan guru dan karyawan serta masyarakat. Sehingga sekolah bisa terus tumbuh dan berkembang. (Habibie)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu