Siraman Rohani: Belajar Dari Musibah Pandemi COVID-19 |Berita Populer Lazismu


Abdul Hakim, MPdI 

BELAJAR DARI MUSIBAH PANDEMI COVID-19

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ
 مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan tidak pula yang menimpa dirimu, melainkan telah tertulis dalam kitab, sebelum Kami menciptakannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Alloh.” QS Al-Hadid ayat 22.

Musibah itu sunnatulloh. Pasti dialami setiap manusia. Musibah kecil atau musibah besar bisa silih berganti  terjadi. Bisa menimpa seseorang, sekelompok orang, atau menimpa sebanyak-banyak orang. Bisa menimpa orang durhaka, bisa pula menimpa orang yang taat. Maka, ketika musibah menimpa,  tidak satu pun manusia yang bisa menolaknya. Kecelakaan di jalan, tenggelam di sungai, tertimpa tanah longsor, gempa bumi, banjir bandang, peperangan, kelaparan, adalah sebagian musibah yang bisa terjadi dan menimpa manusia setiap saat.

Pandemi  Covid-19 adalah salah satu musibah besar. Menimpa kehidupan manusia secara global. Nyaris semua negara tertimpa musibah ini. Melumpuhkan banyak sendi kehidupan. Terlepas apakah wabah ini terjadi secara alami, atau hasil rekayasa. Bagi kaum mukmin,  pandemi ini menyadarkan kita betapa banyak pesan dan hikmah yang mencerahkan.

Pertama, semua yang terjadi di alam semesta ini adalah sunnatulloh, menjadi tanda dan bukti betapa Alloh itu Maha Ada, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Berilmu, Maha Pencipta, Maha Teliti, Maha Adil, Maha Suci, Maha Bijaksana, Maha Kekal, Maha Terpuji, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alloh pemilik Asmaul Husna. Semua terjadi atas kehendak atau irodah-Nya. Kesadaran ini harus menjadi landasan aqidah atau keimanan setiap muslim.

Kedua, musibah itu menjadi bukti betapa lemah manusia. Tidak ada pengetahuan, kemampuan dan kekuatan yang dimiliki manusia. “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu kecuali yang Engkau ajarkan. Sungguh Engkau Maha berilmu lagi Maha Bijaksana,” TQS Albaqoroh 32. “Sungguh kami dari Alloh, dan kepada-Nya kami pasti kembali,” TQS Albaqoroh 156.

Ketiga, musibah mengajarkan agar totalitas hidup kita menjadi ladang amal yang bernilai ibadah. “Sungguh sholatku, aktifitasku, hidup dan matiku hanya untuk Alloh, Robb semesta alam.” TQS Al-An’am 162. Harta, usia, ilmu, sehat, jabatan, suami, istri, anak adalah fasilitas ibadah. Fasilitas agar kita dapat menunaikan kewajiban hablun minalloh dan hablun minnannas sebagai kewajiban Islam dengan ikhlas, cerdas, istiqomah dan totalitas (kaffah).

Keempat, musibah itu menjadi bukti betapa Alloh tengah menguji, mendidik, menegur, menghukum, bahkan  menurunkan azab kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Kelima, musibah mengingatkan pelajaran utama tentang kematian. Kematian itu pasti. “Jika datang ajal, maka tak satupun yang bisa menunda sesaat pun, atau mempercepatnya.” TQS. An-Nahl 61. Mati disebabkan apa pun, termasuk kematian karena wabah Covid-19, memiliki dua konsekuensi. Mati husnul khotimah, atau su’ul khotimah. Mati mulia, atau mati hina. Mati syahid, atau mati sangit. Dalam Surat Ali Imron 102, Alloh memerintahkan hamba-Nya agar bertakwa dan tidak mati kecuali mati dalam keadaan muslim (husnul khotimah).

Keenam, musibah mengajarkan agar kita membangun harmoni sosial, berempati, hidup bersinergi, tolong-menolong, saling memaafkan, ikhlas, sabar, syukur, qonaah, jujur, peduli,  tanggung jawab, dan siap berkorban demi meraih kemuliaan hidup.

Ketujuh, musibah mengajarkan agar kita mengikis sifat egois seperti sombong, dengki, dusta, rakus, kikir, dendam, benci, dan sifat ananiyah lainnya yang bisa mendorong manusia melakukan perbuatan nista, keci dan munkar seperti merusak, memfitnah, membunuh, mencuri, merampok, berzina, korupsi, menyuap, dan perilaku ananiyah lainnya.

Kedelapan, musibah mengajarkan agar manusia belajar dan terus belajar, meningkatkan kompetensi dan supremasi ilmu, iman dan amal shalih, demi meraih  ketaqwaaan sebagai kemuliaan hidup. Agar manusia dapat menjalankan amanat atau kewajiban sebagai abdullah, sekaligus sebagai khalifah-Nya.

Kesembilan, musibah adalah pencerahan bagi mukmin agar beriman dan beramal shalih demi kehidupan akhirat. Bukan untuk kehidupan dunia semata. Tidak sepantasnya seorang mukmin mengidap penyakit wahan, cinta dunia, tetapi takut  mati. Musibah harus menyadarkan kita bahwa kenikmatan dunia itu sedikit dan sebentar. Semua akan segera kita tinggalkan, kecuali iman dan amal salih. Seorang mukmin harus membangun mindset, pola pikir dan keyakinan yang benar bahwa kehidupan dunia itu fana, sebaliknya akhirat lebih kekal,  dan lebih utama. Akhirat itu rumah masa depan manusia  yang sesungguhnya.

Kesepuluh, musibah mengajarkan agar kita selalu taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. menjadikan Alquran dan Sunnah Rosululloh Muhammad saw sebagai referensi hidup yang utama. Selalu mentaati hukum-hukum-Nya. Mengikuti jalan lurus atau shirothol mustaqiim. Tidak mengikuti dorongan nafsu yang liar dan merusak, tidak pula mengikuti  tipu daya setan terkutuk yang selalu menyesatkan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu