Lentera Hati: Qurban Mengukir Senyum Kebahagian | Berita Populer Lazismu


Ustadz M Khairul Anam, MPdI 

QURBAN MENGUKIR SENYUM KEBAHAGIAAN

Di bulan ini, umat islam kembali merayakan hari raya, yakni hari raya Iedul Adha atau Iedul qurban (Riyoyo besar kata orang jawa) bisa juga disebut hari raya haji. Karena bersamaan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Sebutan-sebutan tersebut punya makna yang sangat mendalam. berkaitan dengan Abul Anbiya’ wal mursalin Nabi Ibarahim AS yang melakukan pengorbanan yang tiada tara besarnya disepanjang sejarah manusia yakni menyembelih putranya Ismail AS sebagai sarana taqorrub (mendekatkan diri ) kepada Allah SWT sebagi wujud kecintaan dan ketaatan kepadanya.

Peristiwa tersebut diabadikan Oleh Allah dalam Surat Ash-Shoffat ayat 100-103. Yang pada akhirnya, Allah hanya menguji kualitas keimanan dan kecintaannya, manakah yang utama, apakah anaknya yang sudah lama di rindukan? ataukah Allah SWT yang memberikan naluri cinta dan kasih sayang kepada buah hatinya? Ternyata Nabi Ibrahim dan keluarganya benar-benar mengutamakan kecintaan dan ketaatannya kepada Allah SWT. Maka Allah pun  mengganti Nabi Ismail dengan hewan qurban (Kibasy).

Bagi Nabi Ibrahim bahwa anaknya Ismail adalah sesuatu yang kecil sedangkan Allah baginya adalah segala-nya. Beliau rela mengorbankan yang kecil demi sesuatu yang besar yakni keridloan Allah SWT. Bukankah ini terbalik dengan manusia saat ini? Manusia sering mengorbankan yang besar demi sesuatu yang kecil. mengorbankan agama demi kepentingan kelompoknya, mengorbankan organisasi demi mengejar jabatan dan kedudukan, mengorbankan keadilan demi uang, mengorbankan persaudaraan demi harga diri. Menggarong uang negara (korupsi) demi kekayaan pribadi.

Seharusnya! contoh yang sudah nyata dari sang kholilullah ini bisa menjadi i’tibar (pelajaran) bagi kita yang mengaku muslim dan mukmin. Mari kita berusaha meneladaninya yakni dengan rela mengorbankan sesuatu yang kecil demi sesuatu yang besar. Kita rela mengorbankan waktu dan pikiran  untuk organisasi, kita rela bersusah-payah bekerja untuk biaya pengobatan orang-orang miskin, kita rela mondar-mandir mecari donatur untuk kehidupan anak-anak panti asuhan, kita rela kerja keras penuh perjuangan demi tegaknya dakwah Islam. Kita rela mengeluarkan harta benda demi kebahagiaan sesama. Sungguh perbuatan kita ini tidak akan sia-sia, Allahlah yang akan mencatat dan menggantinya. Karena Dia-lah sebaik-baik pembalas kebaikan. mari kita bersama-sama mengukir kebahagiaan dihati sesama.

Maka berqurban kita maknai, bahwa kita sanggup menunda kenikmatan kecil dan sesaat demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan kekal. Kita bersedia bersusah payah karena hanya dengan susah payah suatu tujuan akan tercapai, dan cita-cita cepat terlaksana. Semangat berqurban adalah konsekuensi iman dan takwa kepada Allah. Sebab, takwa itu jika dijalankan dengan ketulusan dan kesungguhan akan membuat kita berkemampuan melihat jauh ke depan, mampu menginsafi akibat-akibat perbuatan saat ini di kemudian hari, kemudian menyongsong masa mendatang dengan penuh harapan.

Oleh karena itu, makna berqurban ialah bahwa dalam hidup kita melihat jauh ke masa depan dan tidak boleh terkecoh oleh masa kini yang sedang kita alami, bahwa kita tabah dan sabar menanggung segala beban yang berat dalam hidup kita saat sekarang. Sebab, kita tahu dan yakin bahwa di belakang hari kita akan memperoleh hasil dari usaha, perjuangan dan jerih payah kita.
           
Hadirnya hari raya Iedul qurban, mengajak kepada kita untuk berbagi kebahagiaan. Sebagaimana arti dari Iedul adha adalah semangat mengalirkan darah hewan qurban. Sebagai manifestasi atau Menapaktilasi pengorbanan Nabi Ibarahim As dan keluarganya yang kemudian dijadikan sebagai syariat  agama, kita yang mampu dianjurkan berqurban dengan menyembelih hewan qurban.yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah, dan hari Tasyrik (11,12 dan 13 Dzulhijah ).
Suatu garis sosial yang tinggi, dimana umat Islam selalu peduli dengan sesamanya. Dua bulan yang lalu saat Iedul fitri kita telah menggembirakan para fakir miskin dengan pembagian zakat fitri dan maal, sekarang saat hari  Iedul Adha kita bahagiakan lagi mereka dengan pembagian daging kurban.

Iedul Qurban mengandung dua makna yakni sebagai bentuk kesalehan ritual yang artinya kita telah melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti seruan dan ajakan Rasulnya. Dan kesalehan sosial dimana dengan berqurban, merupakan cermin rasa syukur kita atas nikmat dan karunia lebih yang Allah berikan kepada kita yang kemudian diwujudkan dengan ikhlas berbagi kebahagiaan pada sesama berbentuk pembagian daging qurban.
Peyembelihan hewan qurban yang dilanjutkan pembagian daging kurban, menandakan bahwa kita harus peka dan peduli pada masalah sosial dan rasa kemanusiaan terhadap sesama, khususnya pada mereka yang kekurangan.
         
Saudaraku, telah kita ketahui bahwa daging bagi mereka (para fakir – miskin) adalah suatu hal yang istimewa, sesuatu yang sangat berharga. Permasalahan ekonomi yang rendah, membuat masyarakat tak memperdulikan asupan gizi.  Maka ketika kepedulian dari syiar qurban itu datang, layaknya tetesan air menyejukkan. Ada ikatan silaturrahim dari saudara yang telah ikhlas menunaikan sunnah Nabi Ibrahim di tempat kita tinggal.  Pun ketika ada saudara kita yang tertimpa bencana, qurban pun terasa menjadi pengikat tali empati,  pengobat hati yang sedang berduka. Ada gurat peduli dari saudara yang mungkin tak pernah berjumpa.
         
Inilah sebuah hikmah dari ibadah qurban, dan Allah telah menjadi saksi dan mencatat bahwa kita telah mengukir senyum dan tawa di raut wajah para penerima hingga semburat kebahagiaan. Sebuah syiar Islam tentang makna peduli terhadap sesama, sebagai rangka mendekatkan diri kepadaNya. Allah SWT telah memberikan beragam kenikmatan, sehingga qurban merupakan salah satu bukti mensyukurinya.

Perhelatan Idul Adha, sejatinya memberikan kebahagiaan pada siapa saja. Bagi Anda Muqarib, maka berbahagialah kala qurban Anda ikhlas hanya untuk meraih ridhoNya. Dan bagi para penerima kala mendapat daging qurban iringilah dengan ucapan syukur dan terimakasih tak terhingga. Dan bagi kami (para panitia qurban), menjadi saksi sebuah persaudaraan yang sewajarnya tak pernah boleh hilang di tanah air tercinta, dan dimuka bumi, karena ini adalah syariat Islam dari Nabi Ibrahim yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW. “Wallahu ‘alamu bish-Shawab“.

Pencerahan :
Kebahagiaan itu adalah bukanlah ketika kita mendapatkan sesuatu dari orang lain, tetapi Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita telah memberi sesuatu kepada orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu