Kehilangan, Apa Respon Anda? | Berita Populer Lazismu



KEHILANGAN, APA RESPON ANDA ?
Oleh: Choirul Amin 


Setiap orang di manapun ia berada, di desa maupun kota, tentu pernah mengalami apa yang disebut kehilangan. Persoalannya adalah bukan pada apanya yang hilang, tapi bagaimana respons dari si empunya barang atau sesuatu tersebut maupun dari orang lain yang kebetulan mendengar dan mengetahui perihal kehilangan yang dimaksud.

Sebelum mengetahui respons dari mereka (si pemilik barang yang hilang dan orang lain) tersebut, ada baiknya penulis ketengahkan macam obyek kehilangan itu sendiri. Secara garis besar ada 2 (dua) obyek kehilangan, yaitu pertama bersifat materi dan kedua bersifat non materi.

Bersifat materi artinya sesuatu yang hilang tersebut dapat dilihat secara kasat mata, misalnya uang, perhiasan, kendaraan dan sejenisnya. Sedangkan sesuatu yang bersifat non materi misalnya kehilangan jabatan, pekerjaan, harga diri bahkan kehilangan orang yang kita cintai dan hormati, misalnya suami, istri atau anak dan seterusnya.

Mengingat keterbatasan ruang pemuatan dalam majalah ini, penulis hanya berikan 2 (dua) contoh jenis kehilangan sebagai ilustrasi yaitu : 1. Kehilangan sepeda motor, 2. Kehilangan anggota keluarga.

Berita tentang kehilangan sepeda motor  di kota-kota besar seperti di surabaya bukan hal baru. Boleh dikata hampir setiap jam bahkan setiap menit pasti terjadi kasus kehilangan dan tempat kejadian kehilangan tersebut  bisa dimana saja, di dalam maupun di luar  rumah , dalam keadaan terkunci atau tidak terkunci. Rasanya keberadaan kunci tak bermanfaat sama sekali. Begitu juga kehilangan anggota keluarga misalnya suami, istri atau anak, tentu menyisakan duka yang mendalam dan kadang bisa memicu keputusasaan bagi yang di tinggalkannya. Seolah-olah hidup di dunia ini sudah tak berarti lagi, lalu timbul penyesalan yang tak kunjung berhenti dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Dari 2 contoh peristiwa kehilangan diatas, lalu apa respons dari orang lain? jawabnya tentu tidak sama, ada yang bernada simpatik ada pula yang sebaliknya. Bagi yang bersimpatik, apa kata mereka ketika mendengar ada seseorang yang kehilangan sepeda motor baru, misalnya. Secara umum mereka berkata, "Ya,,, sabar saja mungkin Allah sedang menguji Anda". Tidak lebih dari itu. Bagaimana dengan mereka yang kurang atau tidak simpatik ? Tentu berbeda.

Mereka pada umumnya cenderung menyalahkan pihak si korban , dalam hal ini orang yang sedang kehilangan sepeda motor tersebut , misalnya dengan bertanya, "Sudah dikunci atau belum sepeda motor tersebut"? Bila jawabnya lupa tidak dikunci, apa jawab mereka selanjutnya “Hari gini lupa mengunci sepeda motor , ya… jangan salahkan si pencuri, makanya lain kali dikunci jangan sembrono".  Masih ada komentar lain “Terakhir kali kau taruh dimana sepeda motor tersebut, di dalam atau di luar rumah"? Bila jawabnya “Di teras”. "Wah salahmu sendiri kenapa kau taruh sepeda motormu di luar rumah, jangankan di luar rumah, di dalam rumah dan terkunci saja masih bisa hilang,“ begitu katanya.

Dan itu belum seberapa. Ada komentar lain kalau tidak mau dikatakan sebuah peringatan yang cukup menyinggung perasaan. Taukah Anda? Respons tersebut berbunyi seperti ini "Coba kamu ingat-ingat, jangan-jangan kamu selama ini kurang bahkan tidak pernah bersodakoh kepada sesama". Siapa yang rela di vonis seperti itu meskipun isi respon tersebut dibenarkan oleh syar’i.

Mungkin pembaca juga pernah mendapat perlakuan seperti diatas, ketika kehilangan sesuatu. Selanjutnya bagaimana respon Anda sendiri ketika melihat teman Anda sedang kehilangan sesuatu, misalnya kehilangan sepeda motor. Apa yang anda harus katakan kepadanya? Memang tidak mudah, tapi tak ada salahnya untuk mencobanya, katakan saja seperti berikut "Coba perhatikan Pak Dallah, tetangga sebelah rumah Anda itu, selama hidupnya ia (Pak Dullah) tak pernah kehilangan sepeda motor, tapi selama hidupnya pula ia tak pernah mampu membeli sepeda motor sekalipun yang  jelek, apalagi sepeda motor baru. Anda hari ini kehilangan sepeda motor baru, tapi saya yakin 1 atau 2 tahun lagi Anda masih ada kemungkinan untuk membelinya lagi. Bukankah bisnis anda masih berjalan? Jadi Anda masih lebih beruntung dibanding dengan Pak Dullah, tetangga Anda".

Dengan penjelasan seperti itu, insya Allah timbul semangat baru untuk belajar menerima keadaan seburuk apapun dan memulai bekerja lebih giat lagi, Semoga. (Editor: Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu