Hukum Qurban Dengan Uang Utang | Berita Populer Lazismu



Hukum Qurban Dengan Uang Utang
Oleh: Ustadz Imanan, S.Ag

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, ada teman yang bertanya, apakah boleh berqurban dengan uang dari berutang ?

Mohon meluangkan waktu untuk memberikan sedikit ulasan dengan disertai dasar hukumnya. !

Terima kasih sebelumnya (Pertanyaan lewat WA dari anggota di grup Muballigh KMM SBY)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullohi wabaratuh.

Dalam masalah ini ada dua pendapat dari para ulama. Berikut ini penjelasan para ulama terkait dengan pertanyaan tersebut.

Pendapat Pertama:
Sebagian ulama ada membolehkan berqurban dengan uang pinjam (utang). Di antara mereka Abu Hatim rahimahulloh, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Sufyan Ats-Tsauri.

Sufyan ats-Tsauri  rahimahulloh mengatakan,“Dulu Abu Hatim pernah berutang untuk membeli unta kurban.

Beliau ditanya: “Apakah kamu berutang untuk membeli unta kurban?”
Beliau jawab: “Saya mendengar Alloh berfirman:
لَكُمْ فِيهَا خَيْر .... 

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).”  [ QS Al Hajj: 36]. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 halaman  271)

Kemudian diantaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahulloh, beliau berkata dalam Majmu'ul Fatawa (26/305): “Seorang yang memiliki utang boleh berqurban jika dia tidak diminta untuk (segera) melunasinya. Dan (boleh pula) seseorang berutang untuk berqurban jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya”. (Selesai)

Asy-Syaikh Bin Baz rahimahulloh juga membolehkan hal tersebut, beliau berkata: “Tidak mengapa seorang muslim berutang dalam rangka menyembelih qurban, jika dia memiliki kemampuan untuk membayar utang tersebut. [Majmu' Fatawa ibn Baz (18/38)]


Pendapat Kedua:
Sebagian ulama menyarankan untuk mendahulukan pelunasan utang sebelum berqurban. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.
Beliau menjelaskan “Jika orang punya utang maka selayaknya mendahulukan pelunasan utang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455).

Dalam Majmu’ Fatawa, beliau juga ditanya tentang hukum utang untuk qurban. Beliau mengatakan “Ketika seseorang tidak memiliki dana untuk qurban di hari ‘Id, namun dia berharap akan mendapatkan uang dalam waktu dekat, seperti pegawai, ketika di hari ‘Id dia tidak memiliki apapun. Namun dia yakin, setelah terima gaji, dia bisa segera serahkan uang qurban, maka dalam kondisi ini, dia boleh berutang. Sementara orang yang tidak memiliki harapan untuk bisa mendapat uang pelunasan qurban dalam waktu dekat, tidak selayaknnya dia berutang”.

Beliau menyebutkan alasannya “Jika tidak ada harapan untuk melunasinya dalam waktu dekat, kami tidak menganjurkannya untuk berutang agar bisa berqurban. Karena semacam ini berarti dia membebani dirinya dengan utang, untuk diberikan kepada orang lain. Sementara dia tidak tahu, apakah dia mampu melunasinya ataukah tidak”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 25/110)

Namun  kalau kita perhatikan secara cermat, pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berutang ketika berqurban dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi utang atau kasus utang yang jatuh temponya masih panjang.

Terdapat satu tradisi di masyarakat kita, ketika Idul Adha tiba, sebagian menggalakkan kegiatan qurban dengan cara arisan. Masing-masing anggota dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing atau sapi, sesuai dengan cukupnya uang, lalu kemudian diundi. Nah, peserta arisan yang namanya keluarlah yang berhak menerima uang untuk dibelikan hewan qurban.

Ringkasnya, arisan qurban seperti ini hukumnya sah dan boleh jika jelas siapa yang mendapat giliran atau bagian untuk membeli kambing/sapi meskipun akadnya termasuk berutang.

Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan utang daripada qurban, adalah untuk kasus orang yang kesulitan melunasi utang atau utang yang menuntut segera dilunasi.

Jadi kesimpunnya kedua pendapat tersebut masih bisa digabungkan.

Pendapat pertama yang menyarankan berhutang ketika qurban adalah bagi orang yang mampu dan mudah baginya untuk melunasi utang. Sehingga dia bisa tetap berqurban dan membayar utangnya.

Adapun pendapat kedua yang menyarankan untuk mendahulukan pelunasan utang daripada qurban adalah bagi orang yang kesulitan ekonomi, sehingga kesulitan dalam melunasi utang. Sehingga ketika berqurban dia tetap tidak bisa membayar utangnya.

Demikian penjelasan hukum qurban dengan uang utang menurut pandangan para ulama. Semoga  bisa mencerahkan, bermanfaat dan meneguhkan hati kita untuk terus beribadah kepada Alloh Subhanahu wata’ala .
Wallohu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu