Dunia Pendidikan: Memilih Sekolah Untuk Siapa? | Berita Populer Lazismu


Ustadz Sudarusman

Memilih Sekolah Untuk Siapa??

           
Tidak sedikit wacana prestasi akademik dijadikan pertimbangan memilih sebuah sekolah tanpa mempertimbangkan keberagaman passion peserta didiknya. Sehingga memunculkan pemikiran miopis dan seolah segalanya bisa dilakukan dengan paradigma dan konsep instan. Sekolah kurang memperhatikan terhadap perkembangan nyata peserta didik dan kurang mampu menjangkau masa depan.
         
Perubahan dan pergeseran zaman memang tak bisa dielakkan oleh siapapun. Mereka yang tidak mau mengikuti dipastikan tertinggal dan tidak akan mendapatkan yang terbaik. Dan, tuntutan ini pun berlaku bagi wali murid atau orang tua di dalam memilih sekolah. calon wali murid perlu memahami secara menyeluruh profil sebuah sekolah yang akan di pilih, dari fasilitas, manajemen pendidikan dan yang paling penting aktifitas pendidikannya.
       
Seiring dengan percepatan pengetahuan dan derasnya arus globalisasi, tidak sedikit sekolah dalam memasarkan menggunakan cara-cara yang kreatif guna mendapatkan kepercayaan calon wali murid. Artinya sekolah hanya berorientasi pada jumlah siswa, namun dari sisi aktifitas pendidikan kurang mendapatkan perhatian. Padahal orang tua dalam memilih sekolah, memiliki semangat yang tinggi untuk mengupayakan terbaik bagi anaknya. Oleh karena itu, sebagai orang tua dituntut untuk memahami wawasan mutu pendidikan. Aspek tersebut sangat dibutuhkan dalam memilih sekolah bagi anak kesayangannya, agar passion anak yang unik dan beragam tidak terabaikan.
         
Secara filosofis pendidikan diartikan sebagai upaya untuk membantu anak didik dalam mengembangkan potensinya guna menghadapi masa depan. Orang tua memilih sekolah terbaik, dengan harapan anaknya menjadi anak yang pandai, berilmu dan dengan keilmuan yang dimiliki dapat mencapai kesuksesan di masa depan. Dengan demikian sebagai orang tua harus memahami bahwa tujuan akhir sekolah bukan sekedar memperoleh ijazah dengan nilai yang tinggi dan dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, namun lebih penting adalah para peserta didik mampu memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan di masa dewasa. Untuk merealisasikan itu semua, dibutuhkan pendidikan yang lebih menekankan kepedulian sekolah terhadap perkembangan nyata peserta didik.
     
   
Memaknai sekolah baik, tidak bisa terpisahkan dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di sebuah sekolah. Sekolah dituntut melakukan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan peserta didiknya. jika sekolah hanya berorientasi pada pengetahuan atau kognitif semata dengan target waktu yang sudah ditentukan  serta proses pembelajaran dengan instruksi secara langsung jelas tidak sesuai dengan perkembangan. Bukankah, ilmu pengetahuan itu ekstraksi dari fenomena alam, sehingga sumbernya justru berada di lingkungan alam? Jadi, sebenarnya peserta didik tidak hanya belajar di dalam kelas saja, namun juga dapat belajar dengan fenomena alam.
             
Misalnya pada jenjang Sekolah Dasar, belajar dari lingkungan akan membuat proses belajar lebih mudah, karena apa yang dipelajari menjadi lebih kongkrit. Dengan  pembelajaran kontekstual serta fokus pada kompetensi diri, peserta didik akan mudah beradaptasi dengan dunia nyata.  Untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama pembelajaran dilakukan secara autentik dengan kegiatan pendidikan yang berfokus pada pembelajaran sosial, emosional, dan metakognitif. Sedangkan untuk peserta didik tingkat Menengah Atas di samping berorientasi pada pengetahuan, namun harus lebih ditekankan pada kompetensi siswa dalam menghadapi tantangan secara nyata.
             
Merealisasikan itu semua, sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan peran guru sebagai teladan, inspirasi dan motivasi. Sehingga tidak ada lagi guru mengasumsikan siswa tidak dapat belajar sendiri, hanya dirinya yang berhak mengajarinya. Pola pikir ini menyebabkan pola pendidikan menjadi doktriner, peserta didik diminta sekedar menerima apa yang diajarkan guru. Lebih dari itu, anak dianggap tidak mengetahui kebenaran ilmu pengetahuan maupun norma sehingga harus ditunjukkan oleh guru. Oleh karena itu, otoritas penilaian, apakah sesuatu itu benar atau salah hanya dimiliki oleh guru. Bahkan tidak sedikit bila guru terjadi perbedaan pemikiran dengan siswanya, guru memberikan label anak kurang menghargai gurunya. Pola pembelajaran seperti inilah yang menyebabkan anak-anak kita hanya terbiasa menerima, namun enggan untuk bertanya.
         
Aktivitas pendidikan di sebuah sekolah sangat besar pengaruhnya atau membawa dampak kepada pola pikir siswa. Kita sering mendengar keluh kesah guru, jika siswa ditanya siapa yang belum mengerti, silakan angkat tangan? Tidak ada yang angkat tangan, begitu juga ketika siswa ditanya, siapa yang sudah mengerti, silakan angkat tangan? juga tidak ada yang angkat tangan. Ini semua terjadi karena peran guru yang salah, menerapkan pendidikan doktrin, anak diposisikan hanya menerima. Padahal kelak di kehidupan nyata, setiap individu dituntut untuk mencari sendiri informasi yang dibutuhkan, kemudian di analisa untuk dijadikan bekal mengambil keputusan. Jika anak-anak dibiasakan pasif menerima informasi yang dianggap sebagai kebenaran, maka dia tidak terbiasa mencari informasi sendiri dan tidak ada keberanian mempertanyakan kebenaran informasi. 
       
Berdasarkan beberapa asumsi tersebut di atas, sebagai orang tua atau wali murid di tuntut untuk lebih selektif di dalam memilih sekolah. mengapa? Memilih sekolah sama halnya menanamkan atau membentuk pola pikir pada anak kita, karena melalui pendidikan di sekolah diharapkan kompetensinya berkembang dan mampu menghadapi serta memecahkan setiap problema kehidupan yang mereka alami. Dengan demikian, sekolah dikatakan baik dan berhasil, jika menghasilkan lulusan yang terbukti sukses menghadapi  kehidupan di masa depan. (Editor: Habibie)
     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu