Siraman Rohani: Pandemi COVID-19 Itu Sunnatullah | Berita Populer Lazismu



PANDEMI COVID-19 ITU SUNNATULLOH
Abdul Hakim, M.Pd.I.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ عَمَلا أَحْسَنُ
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ


“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara                kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”
QS ALMULK Ayat 2


Semoga Alloh selalu menganugerahkan nikmat sehat kepada kita semua, selain nikmat iman dan amal salih sebagai nikmat utama.

Marilah kita selalu menyukuri nikmat Alloh yang tak terhingga nilainya  dengan selalu menggunakannya secara benar dan bermanfaat bagi keselamatan dan kemuliaan hidup kita di dunia dan di akhirat.

Marilah  kita tetap bersabar di saat  semua diuji dalam bentuk musibah, khususnya musibah Pandemi Covid-19 ini  menimpa. Kita tahu Pandemi Covid-19 ini menimpa seluruh dunia. Mungkin belum pernah dunia ditimpa ujian sedahsyat ini. Ya, hidup dan mati itu, ujian untuk mengukur kualitas amal kita.

Sebagai mukmin, kita yakin ujian apa pun yang terjadi, pasti itu bagian dari sunnatulloh yang harus kita terima dengan penuh husnudhon atau positive thinking. Melakukan muhasabah atau introspeksi adalah salah satu cara cerdas ketika menghadapi problem atau musibah kehidupan. Selain demi meneguhkan ikatan hablunminalloh, musibah ini pasti demi memperbaiki ikatan hablun minannas kita.

Itulah dua kewajibaan yang harus kita jaga sepenuhnya, agar kita tidak ditimpa kehinaan hidup di dunia, apalagi di akhirat, seperti diisyaratkan Alquran Surat Ali Imron ayat 112, ”Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada ikatan agama Alloh, serta ikatan kepedulian dengan sesama manusia. Dan mereka kembali mendapat murka Alloh, serta ditimpa kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir terhadap ayat-ayat Alloh, serta membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Ya, sudah sekitar enam bulan ini dunia dicekam oleh merebaknya pandemi Covid 19. Lebih dari 215 negara terguncang akibat “dahsyatnya” penyebaran virus “gaib” sebesar nano ini, serta  jumlah korban yang cukup fantastis, sementara vaksin penangkalnya belum ditemukan.

Menurut badan kesehatan dunia WHO, sampai awal Juni 2020 jumlah manusia yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 7 juta orang, dengan kematian mencapai hampir setengah juta orang. Di Indonesia sendiri, Covid 19 ini sudah menjangkiti hampir 35 ribu orang, dengan kematian sebanyak 2000-an orang. Kita belum tahu dampak pandemic ini, setelah PSBB dicabut, sementara lockdown belum pernah diberlakukan.

Banyak aktivitas kehidupan di negeri ini  jadi lumpuh atau nyaris kollaps. Terutama sektor ekonomi, pendidikan,  kesehatan, transportasi, dan pariwisata. Bahkan rumah-rumah ibadah pun berlaku protokoler ketat. Sholat jumat terpaksa ditiadakan, termasuk sholat Idul fitri.

Sejumlah masjid bahkan harus tutup total, tanpa kegiatan sholat lima waktu. Semua dengan alasan yang sama, yakni demi memutus mata rantai penularan Covid-19. Ironisnya, bandara, sejumlah mall dan pertokoan tetap leluasa buka dengan kerumunan pengunjung tanpa pengawalan protocol kesehatan. Berbagai kiat dan formula pencegahan serta penanganan dampak pandemic ini sudah dilakukan berbagai pihak, pemerintah maupun swasta. Tentu dengan segala konsekuensinya.

Akibat penerapan aturan stay at home, para pekerja sektor informal menjadi korban langsung. Padahal mereka adalah para pekerja yang harus mengais rizki demi memenuhi kebutuhan setiap hari. Sementara pemerintah terbukti tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Selain akibat besaran hutang luar negeri, berbagai sumber ekonomi Indonesia   ternyata telah dikuasai atau di bawah kangkangan para kapitalis asing dan aseng. Berbagai kasus korupsi yang menelan ratusan trilyun uang negara juga menjadi sebab pemerintah tidak mampu memenuhi hajat rakyat, baik di masa normal, maupun dimasa merebaknya pandemic ini.

Dalam bidang kesehatan, pandemic covid 19 ini memang dirasakan paling menghantui setiap orang. Sudah banyak paramedis, dokter, dan perawat jadi korban, selain  masyarakat yang rentan akibat penyakit bawaan seperti jantung, paru, diabet, asma, dan  pecandu rokok. Belakangan, dalam sejumlah kasus, ibu hamil dan anak-anak juga rentan menjadi korban virus ini.

Ironisnya, korban meninggal akibat atau terduga terpapar covid -19 ini sering dikubur sesuai protocol pemakaman sekedarnya, tanpa melibatkan  keluarga korban.

Kita tidak tahu pasti kapan pandemic ini akan berlalu. Tetapi, musibah global ini harus menghentak kesadaran kita untuk memperbaiki tiga hal.

Pertama, iman dan ketakwaan  harus kita evaluasi  agar totalitas hidup sungguh menjadi ladang ibadah hablun minalloh. Kedua, Sebagai mukmin, kita yakin jika Alloh menurunkan penyakit, pasti di balik itu ada obat penawarnya. Riset untuk menemukan penyebab dan obat penangkal harus menjadi prioritas penelitian sains-teknologi yang mendatangkan kemaslahatan umat, bukan menjadi ajang konspirasi para kapitalis Barat dan Timur yang sering mendatangkan bencana kemanusiaan.
Ketiga, umat atau bangsa ini harus di bawah kepemimpinan mukmin yang amanat. Bukan dalam genggaman kaum kafir, munafik, musyrik, fasik, atau jahil yang terbukti selalu menciptakan berbagai kerusakan sumber daya manusia dan sumber daya alam. (Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu