PSBB Surabaya Telah Berakhir Tetapi Jangan Lebay Apalagi Abai | Berita Populer Lazismu



JANGAN LEBAY APALAGI ABAI
Oleh : Choirul Amin


Terus terang saja judul tulisan diatas, merupakan potongan kalimat yang penulis kutip dari seorang ustadz yang kebetulan memberi tausiyah di sebuah masjid tidak jauh dari rumah kami. Kalimat selengkapnya adalah “jangan lebai apalagi abai dalam menyikapi Covid-19 saat ini “.

Dalam hal ini, penulis tidak hendak menjelaskan APA, MENGAPA dan BAGAIMANA memberantas Pandemi Covid-19 tersebut, namun penulis hanya fokus pada sikap sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di kota besar dalam menghadapi Pandemi Covid-19 yang sedang merebak saat ini.

Namun sebelumnya ada baiknya penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian sikap itu sendiri. Bimo Walgito, dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial hal. 109, menyimpulkan bahwa sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau situasi yang relatif ajeg disertai penasaran tertentu untuk membuat respon atau berbuat sesuai yang dipilihnya.

Dari pengertian sikap diatas, dapat dipahami bahwa ada 3 kata kunci yang terkandung didalamnya, yaitu pertama adalah pendapat atau keyakinan, kedua obyek tertentu dan ketiga adalah respon. Lalu apa respon masyarakat, terutama masyarakat perkotaan terhadap Covid-19 yang sedang melanda saat ini.

Sejauh pengamatan penulis, ada 3 kelompok masyarakat yang menyikapi Pandemi Covid-19 secara beda. Kelompok yang pertama menanggapi Covid-19 secara Lebai dalam artian terlalu takut dan panik. Yang kedua adalah kelompok masyarakat yang moderat artinya mereka bisa menerima keadaan tersebut secara realistis. Dan kelompok yang ketiga adalah mereka yang menanggapi Covid-19 secara Abai.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah mereka? Jawabnya adalah ikuti ilustrasi dibawah ini:

Untuk kelompok masyarakat yang pertama, Anda bisa ikuti serial sinetron dengan judul Dunia Terbalik, produksi RCTI, setiap malam. Disana ada seorang aktor sentral dalam sinetron tersebut, yaitu Sarkum, bukan nama sebenarnya  mewakili sebagian dari masyarakat pada umumnya, dia sangat takut dan panik terhadap dampak Covid-19.

Hal tersebut diperlihatkan lewat perilaku dia sehari-hari, Dia selalu mengingatkan keluarga intinya untuk selalu menggunakan hand sanitizer setiap masuk rumah dan sebelum berjabatan tangan baik dengan istrinya maupun dengan anaknya. Dia tidak segan-segan menegur bila ada salah satu temannya tidak memakai masker Terlebih ketika dia mendengar kabar bahwa para TKW akan dikarantinakan di Desa tempat dia tinggal, nampak takut sekali sampai-sampai dia tak mampu mengontrol emosinya, Kemudian kelompok yang kedua masih dalam sinetron dunia terbalik, namun kali ini diwakili oleh  ustadz Al Kemed (Bukan nama sebenarnya), tamatan Kairo, dia sosok yang mewakili kelompok moderat, artinya beliau menerima kondisi tersebut. Itu memang ada dan dia sikapi secara realistis, tidak panik. Hal tersebut bisa dilihat pada tayangan tertentu yang membolehkan desa Ciraos dipakai sebagai tempat karantina bagi Para TKW yang baru di pulangkan dari tempat mereka bekerja di Luar Negeri.

Ini menunjukkan bahwa Pak Ustadz Al Kemed , orang no. 1 di Desa Ciraos sadar bahwa maslaah Covid-19 adalah masalah kita bersama dan butuh solusi yang cepat dan tepat sesuai protokol kesehatan.
Dan yang terakhir adalah kelompok masyarakat yang menganggap Covid-19 tersebut hanyalah seleksi alam biasa, bahkan itu hanyalah konspirasi global semata.

Siapakah mereka? Sebelumnya pembaca tak perlu kaget karena ini terjadi bukan di dunia sinetron tapi dalam dunia nyata. Saat penulis bersholat Jum’at di sebuah masjid dekat rumah kami, penulis saksikan, sang Khotib meminta jama’ah yang hadir untuk melepas masker yang dipakainya dengan alasan sholat mereka tidak sah menurut Syar’i karena hidung mereka tidak menempel pada tempat sujud, kemudian beliau menambahkan bahwa jama’ah tidak perlu takut pada kematian-mau mati disini atau di tempat lain sama saja, kematian tidak mengenal tempat dan waktu oleh karena itu saudara tak perlu pakai masker.

Masker hanya dipakai mereka yang sedang sakit. Kontan saat itu pula hampir semua jama’ah yang hadir melepas masker yang dikenakan – kecuali penulis. Padahal sebelum khotbah jum’at di mulai ta’mir masjid membagi-bagi masker bagi mereka yang kebetulan tidak bermasker. Contoh lain lagi, ini juga terjadi di masjid yang sama secara iseng penulis bertanya kepada salah satu jama’ah mengapa sampean tidak memakai masker setiap pergi ke masjid ? apa jawabnya: ”Saya ini sudah berwudhu 5x dalam sehari semalam, jadi saya tidak takut terinfeksi Covid-19“. Dia sangat yakin bahwa air wudhu tersebut katanya sebagai imunisasi.

Luar biasa!. Nah itulah 3 kelompok masyarakat yang terwakili oleh 3 sosok pribadi baik dalam dunia nyata maupun dunia Fiksi. Sekarang kembali kepada kita masing-masing pada kelompok yang manakah kita? jawabnya ada pada diri kita masing-masing. (*)

Penulis: Choirul Amin, Pemerhati Pendidikan
Editor: Habibullah Al Irsyad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu