Jum'at Berkah: Lembaran Baru | Berita Populer Lazismu



LEMBARA BARU
Oleh: Nur Cholis Huda, MSi

Sekelompok murid mendatangi Mahaguru pada tahun baru, mengeluhkan banyak persoalan yang mereka hadapi. "kami belum menemukan resep terbaik. Kami ingin memasuki tahun baru dengan keadaan baru. Kehidupan lebih menyenangkan".

"Apa yang kalian harapkan dari aku, orang tua yang sudah renta ini, he he?"

Kearifan! Kami tahu guru kaya dengan kearifan. Guru sangat matang menghadapi hidup".

Sang Guru berdehem dan tersenyum. Lalu kepada mereka disuguhkan makan dan minum. Uniknya, dari lima murid itu, tiga orang diberi piring bagus dan cangkir jelek. Dua orang piring jelek dengan cangkir bagus. Mereka lalu mengambil makanan sendiri-sendiri.

Ketika mereka sedang makan, guru bertanya kepada murid yang memegang piring bagus: "Menurut pendapatmu apakah makanan di piring yang bagus lebih lebih lezat daripada di piring jelek?

"Tidak guru! Makanan kita sama, tentu rasanya juga sama".

"Apakah demikian juga dengan minuman?" tanya guru. "Ya, minuman kami rasanya sama sekalipun gelasnya berbeda ", kata mereka.

"Jadi piring dan gelas tidak mempengaruhi kelezatan makanan, bukan"? Tanya guru. Mereka terdiam. Mereka belum paham maksud guru dan ragu memberi jawaban.

"Demikianlah kehidupan. Apa yang diluar dirimu adalah cangkir dan piring. Tidak berpengaruh pada kelezatan makanan dan minuman. Jangan menyalahkan cangkir dan piring kalau makanan tak lezat. Salahkan dirimu sendiri karena tidak bisa membuat racikan bumbu dan menghasilkan masakan lezat. Lihatlah! Banyak orang memiliki piring sederhana tetapi bisa makan dengan nikmat dan lezat. Sebaliknya beribu orang punya piring bagus tetapi tidak bisa makan dengan nikmat, bahkan kehilangan nafsu makan. Ingat, piring hanya wadah. Tidak bisa piring mengubah makanan basi menjadi makanan lezat, demikian juga kehidupan kita".

Para murid mendengarkan dengan takzim. "Banyak orang menghabiskan energi untuk mengejar piring dan cangkir yang bagus. Tetapi tidak pernah mau belajar membuat masakan yang lezat. Mereka pasti kecewa. Mereka memuja wajah tetapi mengabaikan isi".

"Apakah kami salah kalau mengejar piring? Apakah salah kalau ingin punya jabatan, punya rumah megah, kendaraan mahal, tabungan banyak dan pakaian bagus?"

"He..he..he.. Tidak salah. Kalian berhak memiliki semua itu. Tetapi Ingatlah selalu bahwa kelezatan hidup tidak tergantung semua itu, seperti kelezatan makanan tidak tergantung pada piringnya".

"Guru, beritahu kami bumbu kehidupan paling utama untuk membuat masakan lezat".

"Kejujuran! Itulah yang paling utama dari semua yang utama. Jika kalian jujur dan kebutuhan hidup di lingkungan orang-orang culas dan pembohong, maka kalian akan terlihat seperti bunga harum yang tumbuh sendirian di tumpukan sampah. Kalian terlihat menonjol, indah dan disukai Tiap orang, termasuk para pembohong juga menyukainya. Tidak ada orang yang suka dibohongi, bahkan para pembohong juga tidak suka dibohongi".

Jujur itu kadang terasa pahit pada awal tetapi selanjutnya akan terasa manis. Hidup tenang tidak ada beban yang ditakutkan. Sebaliknya bohong itu sering terasa manis hanya diawal. Berikutnya akan dikejar kecemasan, ketakutan dan kegelisahan. Dia cemas jangan-jangan kebohongannya akan di ketahui, kecurangannya akan terbongkar dan nama baiknya runtuh.

Orang jujur disayang Tuhan. Perilakunya akan dibimbingnya dan kesalahannya dimaafkan. Tidak ada ketentraman hidup yang melebihi ketika langkah kita merasa dibimbing Allah. Tidak ada kelegaan hati melebihi ketika kesalahan kita mendapat ampunan. Hamka mengatakan bahwa ampunan Tuhan adalah cahaya hidup. Jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada pun lapang dan hidup terang benderang.

Jujur itu pintu kebaikan. Bohong itu pintu segala keburukan. Kita buka lebar pintu kebaikan melalui kunci kejujuran.

Setiap pergantian hari adalah hari baru. Pergantian Minggu adalah Minggu baru. Pergantian bulan dan tahun adalah bulan dan tahun baru. Maka ibarat buku, selalu tersedia lembaran baru untuk kita tulisi dengan aksara kehidupan baru, kehidupan penuh harapan dan nilai kemuliaan.

Tetapi tidak setiap orang, mungkin termasuk kita, melihat pergantian waktu itu sebagai kesempatan baru yang disediakan Tuhan untuk kita. Lembar kesusahan tidak kita ganti dengan kegembiraan. Lembar kekecewaan kita biarkan tetap kecewa, tidak diganti dengan harapan. Padahal tidak selamanya mendung itu kelabu, bukan? Tidak ada kesedihan yang tidak berakhir, tidak ada kekecewaan yang tidak terobati, kalau kita mau.

Tuhan menghendaki kita hidup dalam kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Tidak ingin kita hidup dalam kesulitan. Mungkin Tuhan tidak memberi semua yang kita inginkan, tetapi Tuhan pasti memberi semua yang kita butuhkan.

Namun kita sendiri yang kadang memilih jalan hidup yang sulit, melawan sunnatullah, melawan hukum alam. Kalau kita mau merenungkan dengan hati bening dan pikiran jernih, maka semua beban hidup yang menyesakkan dada berasal dari kesalahan kita sendiri. salah langkah, salah pikir, salah rasa, salah memandang masalah dan salah mengatasinya.

Betapa indah Allah mengajarkan doa dalam al-fatihah: "Ihdinas shiraathal mustaqim..." Ya Allah mohon beri petunjuk hamba ke jalan yang lurus. Jalan yang ditempuh orang-orang yang engkau limpahi nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang tersesat".

Kelezatan makanan tidak tergantung pada piring demikian juga hidup kita. (Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu