Dunia Pendidikan: Pendidikan di Era New Normal | Berita Populer Lazismu


Pendidikan di Era New normal
Oleh: Ir Sudarusman.

Menjawab perubahan cepat lanskap sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang disebabkan adanya musibah pandemi covid-19 hingga muncul pola hidup baru new normal, sistem pendidikan Muhammadiyah perlu dikaji agar tujuan pendidikan dapat dicapai dan menjadi faktor kunci keberhasilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Pendidikan Muhammadiyah perlu memberikan kesempatan lebih pada sekolah untuk mengelola dirinya.

Mengapa? Kita harus ingat bahwa kondisi pendidikan yang dimiliki persyarikatan Muhammadiyah sangat heterogen. Mulai dari yang kurang, cukup hingga lebih.

Ada sekolah dengan perlengkapan lengkap, guru terpenuhi dan berkualitas serta para siswanya diperoleh dari keluarga mampu.

Sementara itu ada sekolah yang fasilitasnya sangat minim, jumlah guru kurang, dan siswa-siswinya berasal dari keluarga kurang mampu.

Nah, era new normal ini menjadi salah satu tantangan pendidikan Muhammadiyah. Saat ini tidak sedikit sekolah-sekolah Muhammadiyah yang telah menyiapkan diri untuk menjalani era new normal, dan tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dalam menghadapi kehidupan baru tersebut, utamanya dalam hal mengelola manajemen sekolah sehingga muncul rasa pesimis atau rasa takut bahwa sekolahnya tidak akan diminati masyarakat alias tidak dapat murid.

Memberikan porsi lebih mengelola pendidikan ke pelaksana sekolah atau “Pendidikan Berbasis Sekolah” sebagai kebijakan atau program pendidikan khusus menghadapi era new normal berpotensi mengundang persoalan.

Maka, persyarikatan Muhammadiyah harus ada keberanian menentukan pilihan, karena sekolah-sekolah Muhammadiyah merupakan bagian dari dakwah sosial dan kultural dimana di era new normal akan berubah lebih baik, lebih diminati masyarakat dibandingkan dengan sekolah swasta lain, bahkan dengan sekolah negeri yang dikelola pemerintah.

Sudah seharusnya sekolah-sekolah Muhammadiyah mampu menyesesuaikan hadirnya era new normal dengan menyesuaikan sistem pengelolaan yang bagus, dan bila perlu menjadi garda depan dan competitive edge dalam menjawab tantangan di era new normal.

Inilah beberapa tantangan yang dihadapi sistem pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Khususnya tingkat dasar dan menengah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian agar identitasnya sebagai lembaga pendidikan dengan ciri-ciri tertentu tatap terjaga dan relevan dengan kebutuhan masyarakat atau tidak tertinggal dengan dinamika masyarakatnya.

Harus diakui bahwa kebanyakan sekolah Muhammadiyah menyambut era new normal merasa panik, dan diantara sekolah yang dimiliki Muhammadiyah ini belum menjadi sekolah pilihan. Sehingga, tidak sedikit siswa-siswa terbaik dari sekolah-sekolah Muhammadiyah enggan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi di sekolah Muhammadiyah, namun lebih memilih ke sekolah negeri, bahkan ke sekolah-sekolah swasta unggulan yang dikelola lembaga lain.

Jika pendidikan Muhammadiyah dimaksudkan untuk sekolah bekelanjutan serta mempersiapkan peserta didik agar bangga akan agamanya, maka tugas utama sekolah mempersiapakan SDM yang berkualitas dengan pola manajemen yang sesuai dengan situasi sekolahnya. Prinsip inilah yang mendasari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

MBS memberikan otonomi ke sekolah sebagai lembaga, bukan kepala sekolah atau orang lain sebagai perorangan. Artinya semua pihak di sekolah itu, yaitu pimpinan sekolah, guru, karyawan, siswa dan orang tua siswa serta penyelenggara dan pemilik pendidikan Muhammadiyah bahkan masyarakat harus ikut serta dalam mengambil keputusan. Tentu saja sesuai dengan porsinya masing-masing.

Dengan demikian ujung dari MBS adalah demokratisasi yaitu dilibatkannya semua pihak yang terkait (stakeholders) dalam mengambil keputusan di sekolah.

Dengan menerapkan otonomi yang dibarengi dengan penguatan kemampuan dan fasilitas, diharapkan sekolah-sekolah Muhammadiyah di era new normal muncul rasa percaya diri dan dorongan untuk membuktikan bahwa sekolah tersebut pantas diberi kepercayaan mengelola secara mandiri.

Kondisi seperti itulah yang akan menumbuhkan inovasi-inovasi baru yang unik dan menarik dan akhirnya meningkatkan mutu pendidikan. Perlu diingat, keunggulan sebuah sekolah ditentukan 40 persen ditentukan dari SDM yang inovatif, karena inovasi baru akan muncul jika sebuah lembaga diberikan ruang gerak untuk mengelola dirinya sendiri, dengan pola manajemen yang sesuai dengan situasi dimana sekolah tersebut berada.

Anggapan MBS akan memunculkan raja-raja kecil perlu segera diakhiri. bahkan Sekolah-sekolah Muhammadiyah di era new normal perlu membangun paradigma baru “pendidikan Muhammadiyah harus mampu mengikuti spirit zaman”.

Beberapa sekolah Muhammadiyah telah memulai upaya mengembangkan entrepreneurship dan community development secara aktif, bahkan saat ini tidak sedikit yang berhasil dan sekolahnya diminati oleh masyarakat.

Perubahan yang sangat drastis dalam segala bidang kehidupan tak terkecuali pendidikan, jika lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak mengikuti perkembangan akan ketinggalan. Namun, perubahan-perubahan kualitas dalam kehidupan harus dilakukan secara damai, dimulai dengan membangun spirit bangkit secara efektif memberikan kontribusi baik masyarakat maupun persyarikatan Muhammadiyah.

Melalui model dakwah kultural hingga dakwah bil-hal inilah, insyaAllah sekolah-sekolah Muhammadiyah di era new normal tetap tumbuh dan berkembang, bahkan sekolah sebagai media dakwah dapat menjadi kenyataan. (Habibie)

Komentar

  1. saatnyaa pemimpin sekolah ambil sikap kerja cerdas dan cepat mengambil keputusan dalam melihat situasi saat ini...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu