Peran-Peran Wali Kelas, Seperti Apa?



Ustadz Choirul Amin (Lazismu)

Peran-Peran Wali Kelas, Seperti Apa?
Oleh : Choirul Amin

Keberhasilan anak didik di sekolah tidak saja ditentukan oleh faktor internal akan tetapi faktor eksternal pun tidak kalah pentingnya Misalnya keberadaan wali kelas dimata siswa. Wali kelas, bukan saja jabatan yang cukup bergensi, setelah wakasek dan kepsek di mata siswa, tetapi lebih dari itu, ia adalah figur yang patut dihormati. Karena dipundak beliaulah semua harapan dan tanggung jawab terlimpahkan kepadanya. Sampai-sampai nasib anakpun tergantung padanya. Betulkah demikian? Bukankah wali kelas itu seorang manusia juga? Yang tidak terlepas dari segala kekurangan?
Dalam pengisian buku rapot, misalnya. Si Ani anak pak Tino, secara matematis, mestinya tidak naik kelas, tetapi demi gengsi dan pujian, akhirnya Si Ani dinaikkan juga.

Itukan kebohongan yang sengaja diciptakan. Harukah ia mengorbankan citra wali kelas hanya karena takut dicap tidak berhasil memperjuangkan nasib anak. Kejadian seperti ini bukan jarang terjadi. Anehnya Kepala sekolah dan kadang guru lain, justru memuji perbuatan seperti itu. Mereka, kebanyakan berasumsi bahwa wali kelas yang berhasil adalah wali kelas yang bisa seratus persen menaikkan anak asuhnya. Dan biasanya wali kelas tipe seperti itu di jadikan langganan. Bahkan tidak jarang dianggap wali kelas yang tahu diuntung.

Gambaran di atas, jelas menunjukan bahwa keberadaan wali kelas di mata siswa cukup dilematis kalau tidak posisi wali kelas ada di persimpangan jalan. Artinya maksud hati ingin berbuat apa adanya, tetapi realitas dilapangan sering memaksanya untuk berbuat tidak jujur hanya karena dianggap tidak becus mengurus anak asuhnya. Dari sini pula dapat dimengerti bahwa menjadi wali kelas itu tidaklah mudah namun bukan berarti tidak dapat dilaksankan asal wali kelas mengetahui dan memahami peran yang di perankan.

Berkaitan dengan peran wali kelas, berikut ini penulis ketengahkan beberapa kewajiban yang harus di ketahui wali kelas. Dalam buku pedoman pengelolahan Administrasi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama disebutkan ada delapan poin tugas wali kelas. Tiga diantaranya yang paling pokok adalah : Pertama, Pengelolahan kelas. Kedua, Pembuatan catatan khusus tentang siswa dan pengisian buku Laporan Pendidikan (RAPORT).

PENGELOLAHAN KELAS

Tugas yang satu ini sangat menentukan berhasil tidaknya program pendidikan selanjutnya. Berangkat dari pengelolahan kelas yang baik dan harmonis semua tujuan pendidikan yang direncanakan akan terwujud. Bagimana mungkin prestasi belajar anak akan optimal kalau pengelolahan kelasnya asal-asalan. Misalnya wali kelas hanya menuntut anak didiknya naik kelas dengan nilai yang memuaskan dan berkepribadian yang stabil tanpa terbuat sesuatu. Katakan ia kurang atau tidak mampu mengorganisir dan sekaligus memotifisir pengurus kelas untuk mau berkerja sama dengan teman-teman lainnya. Bila hal ini yang terjadi maka boleh dikatakan wali kelas gagal menjalankan fungsinya selaku motivator. Dengan demikian yang penting dalam pengelolaan kelas adalah bagaimana merubah kelas yang dulunya statis menjadi kelas yang dinamis tentunya di wujudkan dalam bentuk aktivitas yang penuh dedikasi dan tanggung jawab sehingga apa yang diharapkan  dapat terwujud.

CATATAN KHUSUS

Lain halnya dengan tugas wali kelas di atas, pembuatan catatan khusus tentang siswa nyaris dilupakan oleh wali kelas. Karena di anggapnya hal itu menambah pekerjaan saja. Kalaupun itu dilaksankan paling-paling jarang dievaluasi. Padahal sebenarnya pembuatan catatan khusus, sangat membantu wali kelas dalam menganalisis permasalahan yang dialami siswa baik sifatnya induvidu maupu kelompok. Misalnya masalah kesulitan belajar, dengan membuat catatan khusus dapat diketahui mengapa Si Budi kurang atau tidak mampu menangkap pelajaran Matematika, sementara pelajaran lainya tidak ada hmbatan. Jadi, pembuatan catatan khusus tentang diri siswa sangat bermanfaat, terutama untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.

BUKU RAPORT

Pengisian buku Laporan Pendidikan (raport) menjadi sentral kegiatan wali kelas. Mengapa? Karena disinilah semua jerih payah dan harapan akan tergambar jelas dalam buku raport. Oleh karenanya pengisian buku Laporan Pendidikan ini secara tidak langsung menguji keobyektifan wali kelas apakah ia bersedia memberi nilai sesuai nilai pemberian guru bidang studi? Segala kemungkinan bisa terjadi. Tetapi apakah itu yang menjadi persoalan? Karena berkuasa lalu dengan seenaknya bertindak? Tentunya tidak demikian segalanya di pikirkan sebijaksana mungikn meskipun pada akhirnya toh masih ada beberapa siswa yang dengan terpaksa tinggal kelas karena memang mereka tidak layak naik kelas. Jadi, pengisian buku raport  ini membutuhkan kedewasaan berpikir dan penuh tanggung jawab.

Dengan uraian diatas, dapat di simpulkan bahwa jabatan wali kelas merupakan jabatan berfungsi ganda yaitu tidak saja selaku pendidik, tetapi ia pun selaku orang tua di sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu