Panitia PPDB Harus Responsif Terhadap Perubahan Regulasi di Saat Pandemi Covid-19 | Berita Populer Lazismu


Ustadz Sudarusman 

Panitia PPDB Harus Responsif Terhadap Perubahan Regulasi di Saat Pandemi Covid-19

Menyongsong awal tahun ajaran 2020-2021 benar-benar menjadi titik balik bagi sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah. Saat ini, regulasi pendidikan yang dilakukan pemerintah begitu cepat dan tiba-tiba khususnya yang berhubungan dengan pandemi covid-19.

Tidak sedikit sekolah swasta yang masih kurang memahami perubahan regulasi yang diberlakukan, yakni bahwa pendidikan saat ini berada pada situasi bencana. Hal ini menjadikan banyak sekolah panik dalam menghadapi masalah yang makro ini, dan berdampak pada menurunnya semangat untuk memberikan pelayanan yang prima terhadap pelanggan internal maupun eksternal. Maka dari itu, sekolah swasta dituntut peka dan responsif terhadap setiap perubahan regulasi tersebut, juga harus bisa mempertahankan karakter sebuah sekolah yang kreatif dan inovatif serta tidak terus-menerus mengekor sekolah-sekolah negeri.

Tidak berhenti sampai disitu, sekolah-sekolah swasta, termasuk sekolah-sekolah Muhammadiyah harus ada keberanian mempertahankan strategi yang telah diambil, tidak boleh terpengaruh oleh langkah-langkah yang dimiliki sekolah lain. Artinya, sekolah tidak boleh terbawa arus alias tidak memiliki pendirian. Hal tersebut utamanya yang harus dipegang oleh panitia pelaksana PPDB di era pandemi covid-19 ini.

Sehingga dalam menjalankan tugas tidak semata mengikuti cara-cara atau strategi yang dilakukan sekolah-sekolah negeri. Mengapa yang demikian diperlukan? Karena sekolah negeri milik pemerintah, dan tidak ada kesulitan untuk memenuhi pagu sekolahnya. Selain itu hampir seluruh biaya operasionalnya ditanggung negara. Gaji guru, fasilitas gedung dan fasilitas pembelajaran diadakan dan didanai oleh uang negara. Karenanya, sekolah-sekolah negeri tidak pernah panik jika menghadapi perubahan akibat regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Mereka dapat lebih mudah mengaplikasikan setiap regulasi baru dalam pelaksanaan pendidikan. Jika ini tidak pernah disadari oleh sekolah swasta dan berjalan secara terus-menerus selama sekolah pada situasi bencana, bisa dibayangkan bagaimana krisis pembiayaan operasional sekolah swasta bisa terjadi, termasuk sekolah Muhammadiyah.

Solusi dari hal ini, agar sekolah swasta dapat bertahan dan tetap mampu berkompetisi pada situasi ini adalah dengan terus melakukan inovasi dan kreativitas. Sekolah swasta harus mempertahankan strategi memasarkan sekolah yang telah direncanakan. Tidak boleh melakukan perubahan positioning, differentiation, juga branding. Sekolah dituntut sensitif dan responsif terhadap perubahan peraturan-petaruran pemerintah. Apabila regulasi tidak menguntungkan, sekolah harus berani mengambil langkah secepatnya.  Tidak perlu panik jika menghadapi permasalahan-permasalahan yang muncul sewaktu-waktu. Sekolah tetap fokus pada program unggulannya, dengan perencanaan yang kalkulatif.

Panitia PPDB pada situasi bencana covid-19 tidak cukup hanya memiliki perencanaan saja, namun dibutuhkan komitmen dan konsistensi sekolah terhadap langkah yang telah diprogramkan.

Pertama, sekolah terus melakukan hubungan yang baik dengan siswa, walimurid serta customer yang lain (customer management).

Kedua, sekolah tidak boleh berhenti untuk terus berkarya, namun yang lebih penting sekolah  mampu mempertahankan differensiasi yang dimiliki sebagai produk unggulan sekolah, dengan harapan melalui program unggulan citra sekolah akan semakin kuat, semakin mendukung brand dan positioning sekolah.

Ketiga, memberi yang terbaik dengan melakukan penekanan pada “value” yang tinggi terhadap konsumen (Brand management).

Kesimpulannya, semua aktivitas, produk pendidikan, fasilitas pendidikan dan management sekolah walaupun pada situasi bencana covid-19 harus tetap mampu memuaskan pelanggan terutama dalam pelaksanaan pembelajaran daring berbasis online. Siswa dan orang tua harus memperoleh manfaat dan kepuasan dari setiap kegiatan sesuai dengan pengorbanan mereka. Dan yang harus diperhatikan, value harus disampaikan secara jujur tanpa perlu ada yang disembunyikan, sehingga tidak menimbulkan tanda tanya. (Habibie)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu