Maghrib Yang Dirindukan | Berita Populer Lazismu



MAGHRIB YANG DIRINDUKAN
Oleh: Jemi Anggara, S.PdI

Ramadhan yang telah berjalan hampir satu bulan, mengajarkan kepada kita betapa waktu Maghrib menjadi sebuah waktu yang begitu dirindukan. Waktu yang selama ini sering kita anggap biasa dan terabaikan oleh kesibukan, tiba-tiba selama satu bulan penuh menjadi waktu yang senantiasa dirindukan dan dinantikan. Kedatangannya ditunggu dengan berbagai antusias persiapan. Bagi mereka yang berpuasa, waktu Maghrib adalah saat paling menggembirakan. Semua menunggu antusias dengan wajah yang riang penuh kebahagiaan.

Di sisi lain, Waktu Maghrib adalah waktu senja menjelang, dan waktu matahari untuk tenggelam. Waktu senja dan matahari yang tenggelam, apabila kita kaitkan dengan usia, maka sangat identik dengan mendekatnya ajal atau kematian. Inilah yang sering luput dari alam pikiran kebanyakan orang. Bukan berarti, mereka yang berada di fase senja akan mesti tenggelam dan meninggal duluan, karena semua yang bernyawa memiliki peluang yang sama menjemput kematian. Semua terlihat pantas dibawah bayang kematian. Tidak harus yang tua duluan, tidak harus yang sakit berada diawal, tidak harus yang miskin lebih dekat ajal. Karena penyebab kematian itu jutaan, dan tidak ada yang pasti kecuali kematian itu sendiri.

Untuk itulah, puasa bertujuan agar kita menjadi insan yang bertakwa:
لعلكم تتقون

Menariknya, Takwa adalah sebaik baik bekal dalam mengarungi kehidupan untuk kembali ke kampung akhirat yang kekal, sebagaimana Firman Allah swt:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Sahabat mulia Abu Bakar As Siddiq, pernah mengatakan:

من دخل القبر بلا زاد فكأنما ركب البحر بلا سفينة

“Barangsiapa siapa  dimasukkan ke dalam Kubur tanpa bekal, seakan-akan ia sedang berlayar tanpa Kapal”. Begitulah hakikat akhir hidup kita saat kematian menjelang, sementara bekal tidak disiapkan.

Oleh karena itu, kalau kita mau mencermati wajah dari mereka yang sedang meregang ajal, kita akan mendapati setidaknya ada dua keadaan.

Pertama, keadaan dari mereka yang memiliki cukup bekal dalam menghadapi kematian, biasanya mereka akan menampakkan wajah ridlo penuh senyuman saat bertemu dengan Rabnya. Sehingga mereka mengakhiri kehidupan dengan senyum dan penuh keteduhan.

Kedua,  keadaan dari orang-orang yang saat ajal menjelang sementara mereka tidak memiliki cukup bekal, apalagi mereka yang membawa segudang lumpur dosa dan kemaksiatan, biasanya mereka akan menampilkan wajah yang pucat pasi penuh ketakutan. Seakan terlihat betapa berat siksa dihadapan yang membentang sekaligus kekal.

Takwa juga dijadikan Tuhan sebagai ukuran kemuliaan seorang insan. Sehingga, semua orang memiliki peluang yang sama untuk meraih kemuliaan. Bayangkan, seandainya Allah menjadikan kekayaan sebagai parameter kemuliaan, maka orang miskin tidak akan pernah memiliki peluang menggapai kemuliaan. Bayangkan, seandainya Allah menjadikan jabatan sebagai parameter kemuliaan, maka bawahan tidak akan memiliki peluang menggapai kemuliaan. Bayangkan, seandainya Allah menjadikan ketampanan sebagai parameter kemuliaan, maka mereka yang tidak tampan tidak akan memiliki peluang untuk menggapai kemuliaan.
Karena hal inilah, membuat terompah seorang Bilal yang budak, bisa lebih berharga dari istana emasnya Firaun yang raja. Semua memiliki peluang yang sama dalam meraih kemuliaan disisi Allah swt.

Kemuliaan yang lahir dari ketakwaan inilah yang membuat kita tersenyum penuh suka cita saat keranda mudik mengantar kita, kembali ke kampungNya. Kampung yang kekal, di SurgaNya sana. Kalau hari ini kita telah diberikan oleh Allah untuk merasakan betapa nikmatnya berbuka saat adzan Maghrib berkumandang, maka berusaha dan berdoalah untuk nikmat yang kedua, saat bertemu dan melihat wajahNya.

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa baginya dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Waktu Maghrib, adalah miniatur sebuah perjalanan manusia menuju ke KampungNya yang kekal di Akhirat, yang tentu saja kita semua rindu untuk bertemu denganNya.


Pemulis: Jemi Anggara, S.PdI (Binroh RSI Aisyiyah Malang)
Editor: Habibullah Al Irsyad

Komentar

  1. Semoga Kita nantinya menuju kampung Akherat dengan wajah yg senantiasa Senyum penuh ketakwaan kepadaNYA. Aamiin yra.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gebrakan Baru Surabaya, Dalam 5 Hari Pasien Sembuh Mencapai 742 Pasien

Wali Kota Surabaya Minta Gubernur Jawa Timur Akhiri PSBB Surabaya | Berita Populer Lazismu

Dunia Pendidikan: Goblok Nggak Opo-Opo |Berita Populer Lazismu